Beranda Berita Utama

28,8 Juta Orang Kaya Nikmati Elpiji 3 Kg

BERBAGI

Tahun depan, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi elpiji 3 kg sebesar Rp40 triliun. Menyusut Rp5 triliun dibandingkan tahun ini yang mencapai Rp45 triliun. Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI, Maxensius Tri Sambodo, memprediksi anggaran itu bakal kembali jebol 2018 mendatang Prediksi itu disampaikan dalam diskusi bertema Subsidi LPG 3 Kg Mau Dibawa Kemana? di Jakarta kemarin (24/10).

Max mengatakan, bukan tanpa dasar dia menyebut tahun depan anggaran subsidi elpiji ’’melon’’ bakal jebol. Sebab, dalam enam tahun terakhir atau sejak 2011, realisasi konsumsi elpiji 3 kg lebih besar ketimbang pagu subsidi yang dialokasikan pemerintah.

Dia mencontohkan, tahun lalu pagu subsidi elpiji tabung 3 kg dipatok Rp25,2 triliun, namun konsumsi riilnya mencapai Rp26,69 triliun. Kemudian pada2015 kondisinya lebih ekstrem. Yakni, pagu anggaran subsidi elpiji 3 kg ditetapkan Rp21,47 triliun, tetapi konsumsinya menyentuh angka Rp30,51 triliun.

Max menuturkan, ada banyak faktor yang menyebabkan konsumsielpiji 3 kg membengkak. Di antaranya adalahorang kaya ikut menikmatinya. ’’Padahal, sudah ada tulisan khusus untuk orang miskin.Tetapi masihdibeli juga,’’ jelasnya.

Dia menuturkan, masyarakat Indonesia terbagi dalam sepuluh desil. Desil 1 sampai desil 4 adalah keluarga miskin. Sedangkan desil 5 sampai desil 10 itu adalah keluarga sejahtera atau kaya. Mereka sangat mampu membeli tabung elpiji 5,5 kg maupun yang 12 kg.

Dalam data yang diakumpulkan, jumlah masyarakat desil 5 sampai desil 10 yang ikutmengonsumsi elpiji 3 kg mencapai 28,8 juta jiwa. Dia berharappemerintah bisa membenahitatakelola niaga elpiji 3 kg. Di antaranya, bisa memaksa supaya pembelian dilakukan dengan caranontunai melalui kartu keluarga miskin. Namun, persoalannya saat ini pangkalan penjualan tabung elpiji 3 kg belum menyebar.

Sehingga di titik terkecil, penjualan tabung elpiji 3 kg dilakukan olehmasyarakat biasa. Akibatnya, penjualanelpiji 3 kg yang dikhususnya untuk warga miskin tidak bisa dikontrol. ’’Idealnya satu desa ada satu pangkalan penjualan elpiji3 kg nontunai,’’ tutur dia.

Untuk mengurangi penggunaan tabung elpiji 3 kg oleh keluarga mampu, Max berharap Pertamina lebih serius berjualan elipiji tabung 5,5 kg. Menurutnya, harga penjualan elpiji tabung 5,5 kg tidak terlalu memberatkan. Namun, sampai saat ini keberadaan elipiji tabung 5,5 kg masih langka.

Max memprediksi, 2018 dan 2019 adalah tahun politik. Pemerintah tidak akan memaksa memangkas anggaran subsidi elpiji tabung 3 kg secara signifikan. Sebab, bisa berdampak pada kenaikanharga per tabungnya.

’’Kalau sudah ada kenaikan harga, sangat sensitif memasuki tahun politik,’’ jelasnya. Meskipun di dalam RAPBN 2018 disebutkan anggaran subsidi elpiji 3 kg Rp40 triliun, Max memprediksi, pemerintah akan meminta tambahan dana lagi ke parlemen.

Sebab, jika anggaran subsidi dikepras jadi Rp40 triliun tahun depan, diperkirakan harga elpiji tabung 3 kg akan naik sekitar Rp3 ribu–Rp5 ribu per tabung. Sebagai informasi, di Bogor saja, konsumsi elpiji 3 kg per bulan mencapai 4 juta tabung untuk kabupaten dan 750 ribu tabung untuk wilayah kota.

Ketua HimpunanWiraswastaNasional Minyak dan Gas (HiswanaMigas) Wilayah Bogor, Bahriun, sebelumnya membenarkan banyak ditemukan ketidaktepatan pengguna, terutama pelaku UMKM dengan modal dan omzet usaha di atas Rp50 juta.

Padahal, penggunaan elpiji 3 kg hanya untuk warga dengan penghasilan di bawah Rp1,5 juta per bulan. Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energidan Sumber DayaMineral Ego Syahrial mengatakan, saat ini pihaknya memang masih melakukan pembenahan untuk pendistribusian elpiji 3 kg secara tertutup.

“Memang tujuan utama peruntukan elpiji 3kg iniuntuk rumah tangga yang miskin dan usaha mikro,” paparnya. Konsep pendistribusian yang akan digunakan seperti mekanisme pemberian bantuan langsung sebagai bagian dari bantuankartukeluarga sejahtera.

Sehingga hanya masyarakat miskin yang bisa memperoleh gas melon tersebut. Menurutnya, Kementerian ESDM dengan Kementerian Sosial di bawah koordinator Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tengah melakukan pendataan jumlah masyarakat yang diperbolehkan untuk membeli elpiji 3 kg.

“Jika secara data, maka jumlah masyarakat termiskin ada 25 juta. Tetapi, pelaksanaannya di lapangan memang butuh kerja keras dan kami masih belum bisa tahu kapan target selesai,” imbuhnya. Dari angkatersebut, baru sekitar 10–15 juta masyarakat miskin yang bisa teridentifikasi.

“Pendataan dan verifikasinya berbeda dengan kelistrikan. Sebab,kalau listrik datanya sudah ada di PLN, sedangkaninimasih tersebar dan belum bisa dibayangkan siapa saja yang menggunakan,” urai Ego.

Tak hanya itu, pihaknya juga mengimbaukepadapegawai negeri sipilagartidak membeligasmelon tersebut.Hingga kini telahada 94 kabupaten dan 6 hingga9provinsi yangmulaimenerapkanimbauan tersebut.“Kamijugaterus mengimbau kepada Pertamina untuk gencarkampanyepenggunaan elpiji 5,5kg.Setidaknya dengan langkah-langkah tersebut jika realisasinya tidak sesuai target setidaknya tidak terlalu besar,” ujarnya.

Kementerian ESDM mencatat pada tahun ini kuota penyaluran elpiji 3 kg dalam APBN-P 2017 mencapai 6,119 juta ton. Sedangkan pada 2018, sesuai hasil pembahasan dengan badan anggaran, disetujui ada kenaikan alokasi menjadi 6,445 juta ton.(wan/vir)

Baca Juga