Beranda Female

Belajar dari Dua Kepsek Perempuan di Kota Bogor

BERBAGI
TEKANKAN PENDIDIKAN KARAKTER: Dewi dan Aidawati menekankan pemberian contoh dan teladan untuk anak-anak didiknya agar lebih mengena.

Saat ini jabatan kepala sekolah sudah biasa dipegang kaum Hawa, termasuk di Kota Bogor. Tak sedikit sekolah-sekolah yang dipimpin oleh seorang ibu. Sehingga keberadaannya tak hanya menjadi ibu di rumah, tapi juga ibu bagi semua anak didik yang ada di sekolahnya. Kendati jarang tampil langsung di depan anak-anak didiknya, posisinya selalu disegani semua kalangan di sekolah. Lalu, seperti apa kehangatan yang dibangun dua kepala sekolah yang berhasil ditemui Radar Bogor, kemarin?  Saat ini jabatan kepala sekolah sudah biasa dipegang kaum Hawa, termasuk di Kota Bogor. Tak sedikit sekolah-sekolah yang dipimpin oleh seorang ibu.

Sehingga keberadaannya tak hanya menjadi ibu di rumah, tapi juga ibu bagi semua anak didik yang ada di sekolahnya. Kendati jarang tampil langsung di depan anak-anak didiknya, posisinya selalu disegani semua kalangan di sekolah. Lalu, seperti apa kehangatan yang dibangun dua kepala sekolah yang berhasil ditemui Radar Bogor, kemarin?   Keduanya dipromosikan menjadi kepala sekolah pada tahun yang sama, yakni 2012. Mereka adalah Dewi Suhartini yang menjadi kepala SMAN 5 Bogor dan Aidawati, kepala SMAN 6 Bogor.  Keduanya me­miliki segudang prestasi dan mampu menebarkan energi positif serta memajukan sekolah masing-masing ke arah yang lebih baik. Dewi dan Aida me­wakili Bogor mengikuti Conti­nuous Pro­fessional Development Training Management for Head­master yang di­se­lenggarakan Know_ledge Exchange Australian de­ngan Gover­ment of South Australia Departement for Edu­cation and Child Develop­ment di Ade­laide Australia pada 2014.

Sebelum diangkat menjadi kepala sekolah, Dewi Suhartini memiliki perja­lanan panjang di dunia pendidikan. Pada 1989, Dewi diangkat menjadi guru sejarah di SMA Negeri Cikalong­wetan, Kabupaten Bandung, kemudian pindah ke SMA Negeri 2 Bogor menjadi wakil kepala sekolah bidang humas. Nah, sekitar No­vember 2012, Dewi pertama kali diangkat menjadi kepala sekolah yaitu di SMAN 7 Bogor dan Juni 2015 dimutasi ke SMAN 5 Bogor.

Dua puluh delapan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan, Dewi memiliki banyak prestasi. Salah satunya mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya 20th dari presiden Republik Indonesia. “Apa yang bisa saya lakukan adalah memajukan sekolah dan menjadikan sekolah menjadi lebih baik,” tutur Kepala SMAN 5 Dewi Suhartini.

Dewi memiliki terobosan yang lebih spesifik untuk sekolah, yaitu Care Group yang dilakukan setiap pagi, dan program Rebo Nyunda, pakaian dan kesenian yang berhubungan dengan kesundaan lebih diberi perhatian khusus. Dewi mengaku memiliki prinsip selalu memberikan contoh yang baik terlebih dahulu untuk dijadikan teladan, seperti datang ke sekolah lebih awal. “Jangan berharap anak bisa disiplin jika kita tidak bisa memberikan contoh,” tuturnya.

Sementara, Aidawati, sebelum diangkat menjadi kepala SMAN 6 Bogor juga mengabdi sebagai guru sudah cukup lama. Aida diangkat menjadi guru bahasa Inggris pada 1993 di SMAN 1 Parung, lalu pada 2003 dimutasi ke SMAN 10 untuk mengajar pelajaran yang sama. Aida pun dipromosikan menjadi wakil kepala sekolah di beberapa bidang, yaitu bi­dang sarana dan pra­sarana, bidang kesiswaan, bi­dang humas, dan bidang pengem­bang kurikulum. Nah, sekitar 2012 diangkat menjadi kepala sekolah di SMAN 8 Bogor, dan sejak 2015 hingga kini menjadi kepala SMAN 6 Bogor.

Rupanya sebelum menjabat kepsek, Aida memiliki segudang prestasi. Di antaranya, pada 2007 sebagai juara satu guru berprestasi tingkat kota, kemudian juara guru berprestasi lagi di tingkat provinsi. Lalu juara harapan dalam lomba guru berprestasi tingkat nasional.

“Saya mencintai dunia pendidikan, prinsipnya semua berjalan mengalir, karena saya melakukannya dengan cinta untuk memajukan sekolah,” tutur Kepala SMAN 6 Aidawati.Aida sendiri mengembangkan beberapa program, fokusnya lebih ke­pada penguatan pendidikan karakter yang dikemas dalam peningkatan ekosistem budaya sekolah, seperti pembimbingan akademik yang di dalamnya dibagi beberapa guru untuk menangani beberapa siswa dalam segi pakaian, perilaku, dan lain-lain.

Selain itu, setiap pagi ada morning greeting untuk memberikan aura positif bagi seluruh peserta didik agar bisa memberikan teladan, program salat Duha bersama, senam pagi dan program Adiwiyata Sekolah, program pengembangan ekstra­kurikuler. Dan  untuk mening­katkan kedisiplinan, ia men­canangkan program Gerakan Disiplin Sekolah.(cr6/c)

Komentar Anda

Baca Juga