Beranda Berita Utama

Ardi Minta Dibawakan Alquran

KONFERENSI PERS: Keluarga Besar Mahasiswa BEM IPB tadi malam menggelar konferensi pers atas penahanan dan penetapan tersangka dua rekan mereka pascaricuh demo di Istana Merdeka, pekan lalu. SOFYANSYAH/RADAR BOGOR

BOGOR–Penetapan tersangka terhadap dua mahasiwa IPB pascaricuh demo di Istana Merdeka, Jumat (20/10) menuai reaksi. Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) memprotes keras. “sekali lagi kita dihadapkan pada wujud nayta penindasan. perjuangan ribuan mahasiwa yang tergabung pada barisan aksi 3 tahun Jokowi JK Alias BEM seluruh Indonesia berjuang pada pembungkaman.

Tak kurang dari itu, beberapa diantaranya mendapatperlakuan represif dengan dituduh telah melakukan tindak pidana,” tulis BEM SI di akun Instagram bem_si, Senin (23/10). Untuk diketahui, hingga kemarin, mahasiswa IPB Ardi Sutrisbi masih ditahan di Polda Metro Jaya. Satu tersangka lainnya, Presiden Mahasiswa BEM KM IPB Panji Laksonotidak memenuhi panggilan polisi.

Wakil Presiden Mahasiswa BEM KM IPB Fahrizal Amir menjelaskan, demo tiga tahun Jokowi-JK diikuti sekitar 5.000 mahasiswa dari berbagai universitas yang tergabung dalam aliansi BEM SI dan Forum Buruh. IPB turut serta dalam aksi dan tergabung dalam BEM SI. Jumlah massa aksi IPB 220 orang, terdiri dalam tiga kloter keberangkatan jam 07.00, 10.00 dan 13.00 WIB.

Aksi dimulai pukul 13.30 yang dibuka dengan upacara dekat patung kuda, kemudian dilanjutkandengan longmarch dari patungkudahingga ke depan istana. Aksijuga diselingi dengan orasidari beberapa perwakilan kampus dan teatrikal. “Aksi ini berjalan damai danlancar hingga pukul 18.00,” kata Fahrizal dalam konferensi pers tadi malam (23/10).

Massa BEM SI kemudian melakukan zikir dan doa bersama setelah Isya hingga pukul 22.00. Setelah itu, massa aksi BEM SI yang tersisa ada 300 mahasiswa termasuk 40 di antaranya dari IPB. Aksi mulai ricuh memasuki pukul 23.30 dengan beberapa tindakan dari aparat.“Aksi ricuh ini berakhirdengan penangkapan mahasiswa, enam orang di antaranya adalah mahasiswa IPB.

Di antara enam yang ditangkap, lima orang sudah dibebaskan, kecuali Ardi yang sekarang sedang ditahan sebagai tersangka,” jelasnya. Menurut rekan mereka dari FEMA, kondisi Ardi sehat. Dia meminta untuk dibawakan Alquran.

Sambung Fahrizal, ada satu lagi mahasiswa IPB yang ditetapkan sebagai tersangka, atas nama Panji Laksono. Kini, menurut Fahrizal, Panji sedang menyiapkan langkah berikutnya. Yang jelas, kata dia, Panji siap bersikap dewasa terhadap hukum. Siap mengarungi proses hukum meski kondisinya memang lelah, baik fisik maupun mental.

Aksi tiga tahun Jokowi-JK diakuinya murni diinisiasi mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM SI. Tidak ada yang terafiliasi dengan ormas ataupun parpol tertentu. “Aksi ini murni evaluasi dalam rangka tiga tahun pemerintahan Jokowi-JK. Didorong oleh keresahan karena persoalan bangsa yang terjadi pada masa pemerintahan Jokowi-JK,” urainya.

Melihat kenyataan tersebut, kata Fahrizal, bangsa ini tengah mengalami kemerosotan dari berbagai bidang dan secara menyeluruh pemerintah belum mampu menghadirkan pembangunan yang memihak kepada rakyat.

“Oleh karenanya secara tegas, mahasiswa yang menjadi penyambung lidah rakyat memantapkan langkah dan menuntut pemerintah segera merealisasikan tuntutan,” bebernya. Menurutnya, saat perayaan Hari Tani, sudah dilayangkan surat terbuka untuk Jokowi berupa surat permohonan aksi. Saat itu, jawaban dari staf kepresidenan menyatakan, Jokowi akan menemui massa aksi pada 20 Oktober.

Mereka bertahan karena yakin Presiden Jokowi akan menemui massa aksi pada 20 Oktober sebagaimana yang pernah disampaikan Jokowi. Lebih lanjut Fahrizal menuturkan, untuk proses hukum, seluruhnya diserahkan kepada LBH Paham yang terafiliasi dengan BEM SI.

“Memang ada upaya-upaya setelah menerima kabar ada penahanan banyak pihak bergerak, bantuan alumni luar biasa dan menyodorkan bantuan,” pungkasnya. Sementara itu, Kepala Biro Hukum Promosi Humas IPB, Yatri Indah Kusumastuti menjelaskan, memang ada enam orang IPB yang ditangkap,lima dipulangkan, dan satu ditahan.

“Jadi memang kalau di kami (IPB, red), dosen dan mahasiswa itu berhak mendapatkan bantuan. Mereka tidak melakukan tindak pidana bisa mendapatkan bantuan dari kami. Nah, apa yang kami lakukan adalah berkoordinasi dengan kuasa hukum,” kata Yatri.

Dia mengatakan, mahasiswa IPB yang mengikuti demo berada di bawah aliansi BEM SI, dan sebelum aksi sudah menetapkan kuasa hukum. Pihaknya menghormati pilihan tersebut, jadi yangbisa dilakukan adalah berkoordinasi dengan LBH tersebut.

“Nanti support, hal-hal yang bisa melancarkan proses hukum buat mereka. Memang kami baru komunikasi jarak jauh, rencana bertemu dalam waktu dekat dengan pihak LBH, saya juga belum tahu kondisi realnya. Jadi sambil menunggu,mengumpulkan fakta-fakta baru, nanti kami melangkah,”katanya. Pihak kampus sendiri, kata Yatri, sudah menjalinkomunikasi dengan para orang tua mahasiswa yang sempat tertangkap maupun yang masih ditahan.

Saat mahasiswa ditahan langsung disampaikan kepada orang tua masing-masing.“Yang ada di sekitar Jakarta datang, tapi yang jauh kami hanya melaporkan saja. Umumnya mereka ingin tahu apakah anak-anaknya tetap sehat, secara fisik, makannya baik atau tidak,” jelasnya.

Di tempat terpisah, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, Universitas Pakuan, David Rizar Nugroho mengatakan, terkait satu mahasiswanya yang sempat ditahan, atas nama Ramdhani, kini harus menjalani wajib lapor ke Polda Metro Jaya. “Saya berharap masalah ini segera selesai karena pekan depan sudah musim ujian tengah semester,” ujarnya.

David mengaku prihatinterkait masih adanya mahasiswa yang ditahan di Mapolda MetroJaya. Menurutnya, aksi para mahasiswa tersebut tak perlu berujung sampai penangkapan.“Ini tidakbaik bagi pendidikan demokrasi di negara ini.Eskalasi politiknya tidak tinggi dan biasa-biasa saja.

Bahwa mahasiswa mengingatkanada yang belum dikerjakan oleh rezim yang berkuasa sekarang itu memang tugasnya sebagai agent of change. Dan itu biasa di negara demokrasi karena kita butuh check and balance dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata pria yang jugadoktor komunikasi pembangunan IPB ini.(wil/c)

Baca Juga