Beranda Metropolis

Melihat Keberagaman Indonesia dalam Bogor Bercerita

BERBAGI
KOMPAK: Para anggota Komunitas Bogor Bercerita berkumpul bersama.

Isu kepercayaan, perbedaan suku juga ras, menjadi hal yang sangat sensitif belakangan ini. Namun, berbeda dengan 18 anak muda dari enam kepercayaan berbeda ini. Mereka tanpa sungkan saling berbagi tentang kepercayaannya masing-masing, dengan mengedepankan tenggang rasa dan saling menghargai, dalam ”Bogor Bercerita Unity in Diversity”, di Kemenady kemarin (22/10).

Laporan: Wilda Wijayanti

Bogor Bercerita merupakan kegiatan lanjutan dari Duta Cerita yang diadakan The Habibie Center, yang memiliki program Community Empowerment in Raising Inclusivity and Trust through Technology Application (Cerita). Singkatnya, Cerita adalah program untuk inklusivitas yang menggabungkan story telling dalam menangani transformasi konflik.

“Jadi, Cerita ini bertujuan untuk menggabungkan anak Indonesia yang aktif, berasal dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda, untuk memfasilitasi dialog dan berbagi cerita seputar pengalaman antar iman dan budaya, yang nanti akan dimuat dalam konten digital untuk aplikasi Peta Cerita yang akan dirilis Januari 2018,” terang Fasilitator Bogor Bercerita, Cinthya Karina.

Cinthya menerangkan, di dalam program Cerita, The Habibie Center memilih 30 orang untuk menjadi fasilitator atau Duta Cerita. Salah satunya dirinya sendiri. Setelah mengikuti pelatihan selama tiga hari pada April, lalu kembali ke Bogor untuk membuka ruang workshop, seperti Bogor Bercerita.

“Bogor Bercerita adalah tanggung jawab kami sebagai Duta Cerita untuk menyebarkan keberagaman. Anak-anak yang ikut sekarang adalah yang terpilih, kita seleksi. Kenapa 18 orang, karena kita mengambil tiga orang dari enam agama yang berbeda untuk berkumpul di sini berbagi cerita,” jelasnya.

Sebelum Bogor Bercerita dimulai, terang Cinthya, ke-18 anak muda tersebut harus menyetujui apa yang tertera dalam Piagam Cerita. Karena hal yang akan diketengah­kan sangatlah sensitif, dibuatlah 13 kesepakatan yang harus disetujui. Mulai dari privasi, bagaimana menghargai pendapat orang lain dan bersikap dengan orang lain.

Dalam waktu dua menit, ke-18 anak muda diminta bercerita tentang pengalaman pribadi mereka, khususnya soal keberagaman. Bersifat personal, dengan latar belakang yang berbeda-beda, maka cerita yang dihasilkan pun penuh keberagaman.

“Jadi, di sini kita bisa melihat bahwa mereka yang berbeda dengan kita itu ternyata sama saja. Perbedaan dalam agama itu ada, tapi ketika kita berusaha untuk mencari, ada satu hal yang sama dari kita semua. Satu poin penting, semua agama pasti mengajarkan kebaikan. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kepada keburukan,” ucapnya.

Konflik yang ada maupun perbedaan yang santer diperdengarkan, sambung Cinthya, hanyalah berasal dari opini publik. Tapi, di Bogor Bercerita-lah mereka saling mencari tahu dan mengenal tentang agama lain, agar tidak terbawa opini publik.

“Toleransi itu harus dirasakan, dialami, tidak bisa diajarkan. Dengan pertemuan ini, mereka punya pengalaman baru. Ke depannya, goal kita berbagi cerita tentang keberagaman, memba­ngun rasa saling percaya antar­umat beragama. Jadi, ketika kita mendengarkan cerita orang lain, kita tahu, kita kenal, kita paham, kita percaya,” tandasnya.(*/c)

Komentar Anda