Beranda seni budaya

Ma’nene, Menghormati yang Telah Berpulang, Merekatkan Kekeluargaan (Bagian 1)


KEKAYAAN BUDAYA: Sejumlah warga menyaksikan mapasilaga tedong alias adu kerbau di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan (15/9). Kerbau merupakan hewan kurban utama bagi keluarga yang mengadakan ma’nene. Harga kerbau termurah sekitar Rp18 juta dan yang termahal bisa mencapai miliaran rupiah. MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

MENDANDANI mayat. Merias mayat. Ada beberapa sebutan yang dikenal orang awam tentang ma’nene. Secara harfiah, ma’nene sendiri punya arti ’’merawat mayat’’. Merawat dengan berbagai cara. Bisa dilakukan dengan mengganti kain pembungkusnya. Atau dengan membersihkan jenazah yang tinggal tulang-belulang. Jika masih baik kondisinya, diangin-anginkan atau dijemur di bawah terik matahari sudah cukup.

Itulah cara-cara yang digunakan masyarakat Toraja Utara untuk menyatakan kasih sayang dan rasa hormatnya kepada keluarga yang telah meninggal dunia. Masyarakat Toraja memang dikenal sebagai kaum yang begitu menghargai jenazah. Bukan sebagai pengultusan. Melainkan sebagai ’’kenang-kenangan’’ akan keluarga yang sudah kembali ke alam baka.

Bagi warga Toraja, kematian bukanlah perpisahan abadi. Jiwa memang sudah tiada di dunia, namun masih ada raga yang tersisa. Dengan raga itulah, mereka mencurahkan kasih sayang dan penghormatan bagi yang telah berpulang. Momen spesial itu punya nama Ma’nene.

Di wilayah perkotaan Toraja Utara, Ma’nene jarang dilakukan. Yang masih melestarikan tradisi itu mereka yang berasal dari desa. Terutama yang berada di perbukitan. Sebab, di sana masih ada banyak batu yang bisa digunakan sebagai makam. Nah, di Toraja Utara ada satu batu yang dikenal paling besar di antara batu-batu yang lain: Lo’ko’ Mata.

TETAP LESTARI: Ke’te’ Kesu’, kompleks rumah adat Toraja yang dilengkapi makam batu di Toraja Utara (14/9).

Tahun ini Ma’nene di Lo’ko’ Mata kembali digelar. Liang-liang kubur dibuka. Jenazah-jenazah dikeluarkan. Masyarakat sekitar menjalankan serangkaian ritual dan acara yang memakan waktu hingga enam hari. Para pemburu etnik yang datang di Toraja Utara sangat beruntung kali ini. Sebab, batu raksasa tersebut hanya dibuka untuk Ma’nene tiga tahun sekali.

Adalah Thomas Randuan (50) salah seorang warga yang membuka makam keluarganya pada hari pertama. Hanya dibuka, tidak langsung dikeluarkan.
Dalam liang dengan panjang 3 meter dan lebar 2 meter itu, ada empat jenazah yang disemayamkan. Dua orang tua serta dua saudaranya. Tidak semua akan di-Ma’nene-kan.

’’Yang sudah Ma’nene tiga tahun lalu biasanya masih bagus,’’ ucap Thomas. Atau yang baru saja meninggal. Misalnya, sang kakak yang mengembuskan napas terakhir sebulan sebelum Ma’nene.

Warga Tonga Riu di sekitar Lo’ko’ Mata telah sepakat untuk mengadakan Ma’nene tiga tahun sekali. Namun, antara satu lembang (desa) dan yang lembang lain punya waktu Ma’nene yang berbeda.

Ada yang setahun sekali, ada pula yang baru melaksanakan Ma’nene setiap lima tahun. Di Lo’ko’ Mata, waktu tiga tahun dirasa paling pas. Tidak terlalu sering seperti setahun sekali yang otomatis membutuhkan banyak pengeluaran untuk pulang kampung dan persiapan Ma’nene. Tidak juga terlalu lama hingga lima tahun sehingga jenazah beserta kainnya tidak keburu lapuk.

Tata cara Ma’nene ala Tonga Riu sendiri mengikuti ajaran Kristiani. Rangkaian Ma’nene dimulai dan diakhiri dengan ibadah di gereja. Setelah ibadah pembukaan, keluarga baru diizinkan membuka makam. Mereka bebas mengeluarkan jenazah dalam kurun waktu lima hari. Dan pada hari keenam, liang-liang harus kembali ditutup sebelum ibadah penutupan.

Pada hari terakhir Ma’nene, sebagian keluarga yang mampu bakal menyembelih kurban berupa kerbau atau babi. Kerbau yang utama, babi sebagai pengganti saja. Status sosial keluarga, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup, bisa dilihat dari nilai kerbau yang dikurbankan.

Satu kerbau paling murah sekitar Rp18 juta. Ada pula harga seekor kerbau mencapai miliaran rupiah. Mahal tidaknya kerbau bergantung kepada keunikannya. Kerbau yang dikurbankan itu kemudian tidak dipersembahkan ke almarhum keluarga. Melainkan dimakan bersama-sama orang satu kampung.

Menurut kepercayaan warga Tonga Riu zaman dulu, daging kerbau itu harus dimakan di tempat. Alias di rante (lahan tempat menyembelih kerbau, tersusun dari batu-batu panjang sebagai tiang pancang) sebelah makam batu. ’’Tidak boleh dibawa pulang. Sebab, nanti ada yang jatuh sakit,’’ ucap salah seorang warga kelahiran Tonga Riu, Rante Rampa’.

Namun, karena sekarang mereka lebih memercayai ajaran Kristen daripada klenik, anggapan tersebut sirna. Nah, pada momen seperti inilah, Ma’nene menjadi sangat penting bu kan hanya untuk yang meninggal.
Bagi anggota keluarga yang masih hidup pun, Ma’nene punya arti tersendiri. Keluarga yang tinggalnya saling berjauhan bisa berkumpul. Warga satu kampung yang tadinya jarang berkomunikasi bisa kembali bersua. Sebab, ketika Ma’nene, diusahakan seluruh anggota keluarga berkumpul. Mulai anak hingga cucu-cucunya.
’’Dengan anggota keluarga berkumpul, almarhum juga akan merasa bahagia,’’ tutur Rante.
Perempuan yang merantau ke Makassar itu menuturkan, jika terpaksa, anggota keluarga bisa saja tidak hadir. Tetapi, setidaknya harus ada yang mewakili. Entah itu pasangannya atau anaknya.(Debora Danisa Sitanggang/c4/ttg)

Baca Juga