Beranda Berita Utama

Budi Daya Akuakultur Festival IPB

ANTUSIAS: Warga melihat berbagai jenis ikan saat Aqufest di Taman Koleksi IPB, kemarin.

Ingin memperkenalkan akuakultur ke masyarakat, berbagai upaya pun dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB). Di antaranya, mengajak masyarakat bersama pemerintah. Seperti apa?

Laporan: Rany Puspitasari

AquAfest di Taman Koleksi IPB tampak ramai, kemarin (21/10). Dirjen Perikanan Budi Daya KKP, Slamet Soebjakto juga tampak antusias. Menurutnya, kekuatan dan rencana ke depan untuk meningkatkan dan kemajuan budi daya ikan hias akan semakin nyata. Salah satunya, dengan membuat akuarium di sejumlah tempat umum.
Saat ini, kata dia, pihaknya memiliki ambisi ingin memajukan ikan hias Indonesia menjadi nomor satu dengan potensi yang sangat besar, bahkan mengalahkan negara-negara tetangga, seperti Singapura.

Slamet mengatakan, saat ini Indonesia memiliki aneka ragam sumber hayati ikan hias yang sangat banyak. Bahkan, di beberapa daerah, seperti Riau dan Papua, belum tergali dan belum dinamakan.

“Sampai ada ikan hias jenis chili yang berasal dari Brazil yang telurnya bisa disimpan. Ternyata di Indonesia ada jenis itu. Kami kira di Indonesia tidak bisa budi daya chili , ternyata ada dan ditemukan oleh anak-anak muda,” bebernya.

Hal ini juga yang perlu dikembangkan pada anak-anak muda di Indonesia untuk terus menggali sumber hayati yang ada di Indonesia. Karena, kata Slamet, ada sebanyak 400 spesies ikan tawar dan 650 spesies ikan air laut yang belum dikembangkan dan dinamakan.

“Ini harus sama-sama digali. Kita harus melebihi Singapura, sedangkan mereka tidak memiliki potensi. Lihat, di sekitar bandara ada stand-stand ikan hias, ternyata itu banyak ikan hias dari Indonesia,” beber Slamet.

Ia mengatakan, saat ini peme­rintah bersama sejumlah asosiasi ingin mengejar keterting­gal tersebut. Kata Slamet, masih banyak kendala-kendala yang dihadapi Indonesia yang mesti diperbaiki.

“Sektor perdagangan masih kami tingkatkan, dalam sektor perizinan pun kurang terorganisir, begitu pula dengan transportasi. Saya pernah mau mengirim ikan hias lewat Lion tapi tidak bisa terangkut,” tambahnya.

Budi daya ikan hias, kata Slamet, merupakan pendapatan masya­ra­kat paling tinggi dibandingkan dengan budi daya lainnya. Menurut data yang ada di DPS, pendapatan budi daya ikan hias dalam satu tahun bisa mencapai 50 juta, yang selanjutnya diikuti oleh budi daya perikanan umum, padi, dan lain-lain.
Sejalan dengan itu juga pemerintah mempermudah para pembudi daya ikan hias untuk menjual ikannya melalui website penjualan ikan hias di benuasamudra.com. “Di sana kalian bisa menjual, membeli, tawar-menawar ikan hias,” ujarnya.

Slamet juga mengungkapkan, saat ini pemerintah sedang mengadakan pengadaan akuarium di berbagai tempat umum, seperti di bandara, terminal, stasiun, mal dan tempat-tempat umum yang ramai dikunjungi masyarakat.

Rencana itu sejalan dengan tujuan kegiatan Aquafest yang diungkapkan Divisi Hubungan Masyarakat, James Sadli. Kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Perikanan IPB, Prof. Dr. Ir. M. Zairin Junior ini bertujuan memperkenalkan akuakultur ke masyarakat luas.

Diawali dengan talkshow, kegiatan juga diisi dengan lomba aquascape atau menghias akuarium dan betta contes yaitu kontes ikan cupang. Hari kedua, hari ini (22/10) ada pameran ikan cupang dan aquascape, juga lomba mewarnai yang diikuti siswa-siswi SD di Kota dan Kabupaten Bogor.
“Terakhir kami juga melepas restocking benih ikan nilem di Danau IPB untuk menjaga populasinya,” tutup James. (*/c)

Baca Juga