Beranda Metropolis

Junk Food Pemicu Terbesar Kanker Payudara

BERBAGI

BOGOR–Satu dari delapan perempuan di Indonesia berisiko terkena kanker payudara. Tak ayal, 46 persen penderita kanker di Indonesia merupakan penderita kanker payudara. Di Kota Bogor sendiri, berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor, pada 2016 tercatat ada 222 penderita kanker payudara. Sementara sampai September di tahun ini, tercatat ada 78 penderita kanker payudara.

Kebanyakan penderita kanker payudara yakni perempuan di usia 40 tahun, sisanya ada yang di usia 30 tahun dan remaja. Tanpa memilih status sosial ataupun gender, alias bisa terjadi pada siapa pun termasuk laki-laki.

Penyakit kanker ini sulit diketahui penyebabnya. Namun, besar kemungkinan disebabkan faktor genetik. “Kalau di keluarga ada sejarah yang menderita kanker, maka faktor risiko pada anaknya harus ditekan,” ujar Kepala Seksi Penyakit Tidak Menular (PTM) Dinkes Kota Bogor, Fery Triyanti.

Faktor rusiko pemicu kanker, kata dia, bisa dari obesitas, merokok, makanan tidak sehat (junk food), kurang olahraga, dan tingkat stres yang tinggi. Faktor-faktor resiko tersebut harus dijaga dan ditekan, agar tidak memicu bibit kanker payudara untuk tumbuh. Pasalnya, bibit kanker payudara akan hidup di dalam tubuh seseorang yang hormon estrogennya tinggi.

Hormon ini menjadi makanan bagi kanker untuk hidup dan berkembang. “Kelebihan hormon estrogen bisa dikarenakan makan-makanan siap saji, semisal dari ayam yang disuntik hormon, kelebihan karbohidrat, gula dan garam juga jadi pemicu kanker,” jelasnya.

Ia menerangkan, selain menekan faktor risiko tersebut, pemeriksaan deteksi dini sangat penting dilakukan. Saat ini, deteksi dini kanker payudara bisa dilakukan lewat pemeriksaan IVA/CBE di puskesmas secara gratis bagi pengguna BPJS.

Dari pemeriksaan akan diketahui, jika ditemukan adanya tendensi menjadi kanker payudara, meski saat itu benjolannya baru sebesar beras. “Kalau sudah ketahuan ada kanker, pasien bisa langsung diobati. Angka kesembuhannya pun lebih besar dibanding baru mengetahui saat benjolan sudah besar,” imbuhnya.

Menurut Fery, saat benjolan kanker payudara masih kecil memang tidak akan menimbulkan rasa sakit. Rasa sakit akan mulai terasa ketika benjolan membesar dan menonjol keluar. Jika terlambat ditangani (operasi), kanker bisa semakin menyebar dan tumbuh ke bagian lain, seperti tulang, otak, dan rahim. Tak sedikit penderita kanker payudara yang meninggal dunia.

“Di Kota Bogor ada sekitar 12 penderita kanker payudara yang meninggal. Ada yang memang sudah terlambat, ada pula yang tidak mau menjalani pengobatan,” sebut dia.

Ia menambahkan, Dinkes Kota Bogor terus berupaya untuk menurunkan angka penderita kanker setiap tahunnya. Mulai dari pelatihan kader di Pos Pindu PTM sebagai perpanjangan tangan Dinkes untuk mempro­mosikan Germas ke masyarakat.

Membuat Pos Pindu PTM di seluruh puskesmas, dengan sasarannya warga berusia 15 tahun ke atas, agar bisa secara rutin memeriksakan kesehatan­nya. Hingga sosialisasi kesehatan ke sekolah-sekolah. “Yang utama, deteksi dini sebagai pencegahan dan terapkan hidup sehat,” pungkasnya.(wil/*)

Baca Juga