Beranda Berita Utama

Andai Saya Wali Kota Bogor

BERBAGI

Pada sepanjang jalur Jalan KH Sholeh Iskandar (Sholis) mulai dari underpass Kebon Pedes sampai dengan simpang Yasmin (Jl. KH Abdullah Bin M. Nuh) terdapat beberapa kom­pleks perumahan besar, per­kam­pungan padat penduduk, sekolah, supermarket, stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) dan pertokoan.

Satu kampus besar juga ada di situ: Universitas Ibn Khaldum, yang mahasiswanya lebih dari lima ribu orang. SMA Negeri 2 dan Perguruan Bosowa Bina Insani, siswanya masing-masing kurang-lebih seribu orang, Pergu­ruan At-Taufik, SD Suka­damai 3, SMA PGRI 3, SMP PGRI 9, dua Perguruan Tridharma, yang siswa­nya juga ribuan orang.

Ribuan siswa dan mahasiswa itu setiap hari, kecuali hari libur, melintas dan hilir-mudik menyeberangi Jalan Sholis untuk pergi dan kembali. Ribuan kendaraan masuk-keluar kompleks-kompleks perumahan, sekolah dan kampus mulai dari pagi sampai sore bahkan malam hari.

Sama halnya dengan warga kompleks-kompleks perumahan dan perkampungan di sepanjang kiri-kanan Sholis yang menggunakan angkutan umum, tampak sibuk mulai pagi sampai malam hari. Menunggu angkutan di mana saja, menyeberangi jalan kapan saja.

Aktivitas kehidupan itu memang harus ada setiap hari, meski memperparah kemacetan, juga mengancam keselamatan mereka. Kita setiap saat menyaksikan betapa penyeberang jalan di situ bertarung kesalamatan dengan tidak komprominya para pengemudi kendaraan.

Mereka menyeberang di mana saja, kapan saja. Anak-anak, anak sekolah, mahasiswa, orang dewasa, orang tua, bahkan pen­jual bakso dan ketupat sayur pun mendorong gerobaknya menye­berangi jalan yang sangat sibuk itu. Belum lagi pengemudi sepeda motor yang melawan arus, jumlahnya semakin ramai. Begitu pun bus-bus angkutan umum yang seenaknya berhenti di mana saja untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.

Setiap saat kitanya memang menyaksikan kehidupan yang tidak berbudaya di jalur itu. Seperti benar-benar kehidupan jalanan yang tidak manusiawi. Pemerintah yang punya otoritas mestinya hadir. Bukan sekadar menaruh beberapa petugas dari dinas perhubungan pada waktu tertentu, karena itu tidak komprehensif memecahkan masalah besar di Sholis.

Untung saja ada teman-teman polisi lalu lintas bersama petugas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) hadir setiap pagi sehingga anak-anak sekolah dapat menyeberang jalan dengan aman. Tetapi harusnya itu sifatnya darurat. Tidak permanen.

Jalur Sholis itu paling padat pada pagi hari ketika waktu ke sekolah, juga ke kantor, dan siang sampai sore hari waktu pulang sekolah, juga pulang kantor. Hari Sabtu dan Minggu giliran kendaraan-kendaraan dari luar Kota Bogor yang bermacet ria di Sholis. Ia adalah salah satu jalur ekonomi dan perlintasan manusia yang sangat penting di Bogor.

Kemacetan di Sholis memang sudah sejak 10 tahun lalu. Dan makin parah sejak ada pembangunan jalan tol di jalur itu. Sampai saat ini. Kemungkinan sampai tol itu selesai pada triwulan pertama 2018. Ini penderitaan sementara untuk kebaikan jangka panjang. Bersabar.

Sangat berharap tol di atas Sholis itu dapat memecahkan sebagian masalah kemacetan di salah satu jalur paling sibuk di Bogor tersebut. Mobil dengan tujuan luar Kota Bogor kemungkinan lebih memilih masuk tol, meski tarifnya mahal. Saya belum menemukan perhitungan kira-kira tol itu dapat memecahkan berapa persen masalah kemacetan di Sholis.

Tetapi, pada pagi dan sore hari kemungkinan tetap saja akan macet karena banyak mobil yang mengantar dan menjemput anak sekolah. Lalu sepeda motor yang semakin menyemut dan tidak tertibnya para sopir angkutan umum dan penyeberang jalan, adalah faktor sangat penting dari makin parahnya kemacetan di Sholis.

Andai saya wali kota Bogor, saya sudah membuat peren­canaan komprehensif yang diintegrasikan dengan perencanaan pembangunan jalan tol sesi-3 di Sholis itu. Sejak awal. Sehingga prasarana yang direncanakan itu selesai dibangun bersamaan dengan selesainya jalan tol pada triwulan pertama 2018 nanti. Ini juga supaya masa penderitaan ‘rakyat’ hanya satu periode waktu saja.

Kalau tidak bisa tiga, dua underpass (terowongan penyebe­rangan di bawah jalan) di Jalan Sholis sudah cukup untuk mere­duksi kemacetan setiap hari. Sebaiknya tiap satu kilometer satu underpass. Jembatan penyeberangan orang (JPO) dua atau tiga juga sangat diper­lukan. Tetapi, pelican crossing agaknya lebih memungkinkan dibanding JPO.

Satu underpass bisa di depan Toserba Yogya Cimanggu, karena di sekitar situ ada kampus, banyak sekolah, perumahan, dan beberapa perkampungan. Kesibukan menyeberang jalan nantinya tidak lagi di mana saja, kapan saja, tetapi semuanya terkonsentrasi melalui underpass itu. Mengapa di Toserba Yogya? Biar security di situ yang menjaga keamanannya.

Satu lagi bisa di depan Rama­yana. Di sekitar situ ada Perguruan Bosowa Bina Insani. Muridnya banyak. Ada Bukit Cimanggu City dan beberapa perkampungan, yang bila penduduknya digabung jumlahnya melebihi penduduk satu kabupaten di Indonesia Timur. Security Ramayana juga bisa ‘dimintai tolong’ menjaga keamanan underpass itu.

Membangun JPO agaknya sulit karena di atas Jalan Sholis ada bangunan jalan tol yang megah. Ruang yang ada sepertinya tidak cukup untuk dibagi tiga: Jalan, JPO dan jalan tol.

Pilihan yang paling gampang adalah membuat fasilitas penyeberangan jalan yang diintegrasikan dengan traffic light. Ada marka jalannya. Ada tombol untuk menyalakan lampu jalan bagi pejalan kaki dan lampu stop untuk kendaraan. Itu biasanya di persimpangan. Kalau di Sholis adanya di simpang Yasmin (Sholis-KH Abdulllah bin Nuh). Fasilitas itu bernama pelican crossing.

Bila fasilitas underpass dan pelican crossing itu ada, maka dengan sendirinya masyarakat akan lebih disiplin, lebih tertib, lebih berbudaya, lebih manusiawi, juga lebih sehat karena harus berjalan kaki dalam jarak tertentu ke titik penyeberangan. Ini juga harus disertai dengan mendisiplinkan para pengemudi angkutan umum.

Bila saja pemerintah Kota Bogor ada rencana membangun fasilitas seperti di atas, maka percayalah ia akan membuat masalah baru lagi, karena sudah pasti dikerjakan setelah pengerjaan tol selesai. Itu akan membuat penderitaan baru. Kemacetan akan terus terjadi di Sholis.

Bila tidak ada kemauan untuk membuat itu sejak saat ini, dan membiarkan orang melintasi jalan di mana saja dan kapan saja, maka kesemrawutan kehidupan di kota ini akan terus tampak di depan mata kita.

Belum lagi kalau ada galian oleh PLN, perusahaan gas, perusahaan air minum (PDAM) ataupun perusahaan teleko­munikasi. Secara masing-masing, silih berganti. Itu juga akibat tidak terintegrasinya perencanaan pembangunan kita.

Andai saya wali kota, begitu tol sesi-3 itu operasional, maka suasana baru pun tampak. Dan itu adalah titik start pem­bangunan karakter manusia di Kota Bogor. Karakter disiplin, tertib, sehat, nyaman dan akan tampak indah.(****)

Komentar Anda