Beranda Berita Utama

Kompepar: Relokasi Harus Konsisten, Pelebaran Sebaiknya Prioritas di Ruas Sempit

BOGOR–Pelebaran jalur Puncak terus digeber. Hingga pekan kemarin, program pengurai macet itu sudah sampai titik Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung. Berbagai pihak pun mengharap peran serta masyarakat, dan mendukung penataan Puncak menjadi kawasan wisata unggulan Bumi Tegar Beriman.

Meski begitu, Ketua Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Bogor Teguh Mulyana mengingatkan pemerintah harus konsisten dalam memperlakukan para PKL. Jangan sampai ada PKL yang telah terdata tetapi tidak mendapat tempat di lahan relokasi.

“Pelebaran memang diperlukan. Hanya saja, pemerintah pusat dan daerah harus memberi ruang masyarakat agar tetap usaha. Jangan sewenang-wenang, karena para pedagang di pinggir jalan sudah memiliki legalitas. Jelas harus dibuatkan rest area untuk relokasi kegiatan mereka,” kata pria yang akrab disapa Bowie itu kepada Radar Bogor.

Bowie menyarankan pemerintah mengutamakan kajian pelebaran jalan di titik-titik kemacetan. Tujuannya jelas, untuk mengurai mecet di lokasi yang selama ini memang menjadi biang kemacetan panjang. “Selayaknya pemerintah daerah lebih fokus pada ruas sempit untuk dilebarkan. Agar tak menjadi biang macet,” kata dia.

Di bagian lain, selama masa pelebaran jalan, polisi terpaksa merekayasa lalu lintas dengan sistem buka tutup. Meski begitu, Kasatlantas Polres Bogor, AKP Hasby Ristama, memastikan personel Satlantas Polres Bogor siaga membantu kelancaran lalu lintas.

“Selama pelebaran juga kami akan siagakan anggota di sepanjang jalur Puncak,” jelasnya kepada Radar Bogor. Hasby mengimbau agar masyarakat berhati-hati dan mengurangi kecepatan. Ia juga meminta masyarakat turut mendukung program pelebaran jalan untuk memperlancar lalu lintas di kawasan wisata itu.

Pekan lalu, Kasubid Manajemen Operasional dan Rekayasa Lalu Lintas pada Korlantas Mabes Polri, Kombespol Johanes Didiek Dwi Prihantoro menyambangi lokasi pelebaran di Jalur Puncak. Didiek mengakui, kondisi lalu lintas Puncak semakin parah di beberapa titik. “Kalau bicara

Didiek mengingatkan, sudah sering kali terjadi kecelakaan maut di jalur Puncak. Beberapa di antaranya kecelakaan bus yang menabrak lima motor, truk, dan mobil di Ciloto, Puncak, Cianjur, April 2017. Bus yang mengalami rem blong menabrak pengendara motor hingga beberapa tewas.

Peristiwa selanjutnya masih di bulan dan tahun yang sama, dan melibatkan bus wisata serta kasus rem blong. Kendaraan besar itu menghantam 12 kendaraan lainnya di tanjakan Selarong, Desa Cipayung, Megamendung, hingga mengakibatkan empat orang tewas.

Untuk mengantisipasi kecelakaan, lanjut Didiek, proyek pelebaran jalan yang digarap Kementerian PUPR juga menyisipkan pembangunan landscape brake (area rem blong) di tepi ruas jalan yang menurun dan curam. Apabila kembali terjadi kecelakaan maut akibat bus yang mengalami rem blong maka bisa langsung memasuki area tersebut.

“Ya larinya ke sini (area rem blong), supaya korban tidak bertambah. Makanya, dari pihak PU membangun landscape ini,” kata dia.(don/c)

Baca Juga