Beranda Metropolis

Kian Eksis dengan Tari Tradisional

BERBAGI
UNJUK KEBOLEHAN: Para anak didik Sanggar Seni Getar Pakuan memperlihatkan kebolehannya pada kegiatan Getar Pakuan Art Festival ke-45 di Botani Square, kemarin.

BOGOR–Sanggar Seni Getar Pakuan adalah contoh pusat kesenian tradisional yang mampu bertahan di tengah segala gempuran kesenian dari luar. Bahkan, anino masya­rakat pada tari tradi­sional cende­rung meni­ngkat. Hal itu terlihat dalam kegiatan Getar Pakuan Art Festi­val ke-45, di Botani Square, kemarin (15/10).

Tak kurang dari 600 anak didik Sanggar Seni Getar unjuk kebolehannya dalam bidang seni tradisional. Art and Creative Sanggar Seni Getar Pakuan, Decky menguraikan, Getar Pakuan Art Festival akan berlangsung selama empat hari sekaligus. Mulai tanggal 7, 8, 14 dan 15 Oktober. Ratusan anak didik terpilih unjuk gigi di panggung, memperlihatkan apa yang telah dirinya pelajari selama di sang­gar.

“Evaluasi ini kami hadirkan setiap enam bulan sekali. Isinya adalah materi-materi selama mereka belajar di sanggar, lalu dipentaskan selama enam bulan ini,” jelas Decky.

Sedianya, kata Decky, total anak didik Sanggar Seni Getar Pakuan berjumlah 900 orang. Hanya, tak semuanya lolos untuk mengikuti evaluasi. “Konsep evaluasi lebih mentra­disi, karena mayoritas sanggar kita adalah tradi­sional, khusus­nya Sunda,” jelasnya.

Secara umum, evaluasi ke-45 kali ini tidak jauh berbeda dengan evaluasi-evaluasi sebelumnya. Yaitu, menguji sejauh mana anak didik, memahami pembelajaran saat berada di kelas. Lebih kepada ujian, khususnya.

“Sanggar Seni Getar Pakuan ini adalah salah satu sanggar terbesar di Jawa Barat. Beberapa sanggar yang baru berdiri adalah jebolan Sanggar Seni Getar Pakuan. Salah satu yang terkenal adalah Sandrina, juara Indonesia Mencari Bakat (IMB),” pungkasnya.

Dia menjelaskan, sederet prestasi sudah mereka kantongi. Antara lain, menjadi Duta Seni Pelajar dari Jawa Barat serta mengikuti festival di Thailand. Selama empat hari Getar Pakuan Art Festival, pihaknya menam­pilkan evaluasi yang berbeda-beda.

“Di tanggal 7 ada jaipongan khusus anak-anak, lalu modern dance. Tanggal 8 ada jaipongan untuk remaja serta musik, mulai dari karawitan, vokal hingga piano. Berlanjut dengan evaluasi melukis, menggambar, dan mewarnai. Masuk hari ketiga, tanggal 14, masih seni tradisional tapi dicampur, anak-anak pemula dan remaja pemula. Dan hari ini (kemarin, red) adalah puncak acara,” tukasnya.(wil/c)

Komentar Anda

Baca Juga