Beranda Berita Utama

Satu Tewas, Belasan Suporter Terluka

BERBAGI
RUSUH: Kerusuhan suporter Persita Tangerang dengan pendukung PSMS Medan di Stadion Mini Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (11/10).

BOGOR–Kematian sepertinya masih akrab saja dengan dunia sepak bola. Kali ini, duka itu datang dari La Viola, suporter Persita Tangerang. Mereka harus kehilangan salah satu rekan sesama pejuang di atas tribun, Banu Rusman yang baru berusia 17 tahun, buntut dari kericuhan dengan pendukung PSMS Medan di Stadion Mini Cibinong, dua hari lalu.

Banu harus kehilangan nyawanya setelah mengalami pendarahan hebat di bagian kepala akibat benturan benda keras. Banu sejatinya sudah dirawat di RSUD Cibinong, Bogor-Jawa Barat. Namun, nyawanya tak tertolong. ”Saya baru mendengar kabar duka ini siang tadi (kemarin, red),” kata Bambang Nurdiansyah, pelatih Persita.

Pria yang akrab disapa Banur itu mengungkapkan, dia ikut berbelasungkawa atas meninggalnya Banu, sekaligus menyesali insiden kerusuhan antara suporter setelah pertandingan itu.

Sebab, lanjut dia, tidak ada gesekan apa-apa antara pemain kedua tim di dalam lapangan sepanjang laga yang dimenangkan oleh PSMS dengan skor 1-0 itu berlangsung. Dari data yang dirilis oleh La Viola, sejatinya bukan Banu yang menjadi satu-satunya korban dalam insiden tersebut. Melainkan ada 18 suporter lain dengan mayoritas perempuan.

Mereka saat ini harus menjalani perawatan di RSUD Cibinong. Mayoritas dari mereka mengalami luka robek dan patah tulang karena terjebak dalam kerumunan massa yang panik.Ketua Umum Laskar Banteng Viola, Anto Setyarosa, menuntut adanya pertanggung-jawaban dari mereka yang terlibat dalam kericuhan tersebut atas kematian Banu.

Sebab, bagi dia, saling menyalahkan tidak bisa menyelesaikan masalah. ”Intinya, duka kami adalah duka suporter sepak bola tanah air,” ungkapnya. Dia pun berharap, Banu harus menjadi korban terakhir perjalanan sepak bola tanah air. Sebab, semua kekerasan yang terjadi hanya menghasilkan duka dan kesedihan. ”Dan, duka ini bisa saja dialami oleh siapa pun. Baik aparat keamanan, organisasi masyarakat atau bahkan suporter sepak bola sekalipun,” lanjutnya.

Kapolres Bogor AKBP AM Dicky membenarkan tewasnya salah seorang suporter. Namun, ia tak ingin berkomentar banyak, lantaran masih melakukan penyelidikan. “Iya, nanti ya sedang kami selidiki. Mohon maaf,”kata Dicky lewat sambungan telepon. Sementara Kabag Ops Polres Bogor Kompol Faisal Pasaribu mengatakan jajarannya sudah mengerahkan 300 pasukan pengendali massa untuk mengamankan pertandingan.

Namun, bentrokan tak terelakan. Faisal mengklaim kalau pihaknya berhasil membubarkan keributan 10 menit kemudian. ”Kami sudah berhasil membubarkan keributan antar suporter ini. Dalam kejadian ini kami tak mengamankan suporter baik dari kubu Persita maupun dari PSMS Medan,” singkat Kompol Faisal Pasaribu usai kerusuhan terjadi.

Meninggalnya Banu tersebut membuat jumlah suporter yang meninggal akibat mendukung tim kebanggannya selama tahun ini sudah berjumlah tiga orang. Selain Banu, ada juga Ricko Andrean, anggota The Viking suporter Persib Bandung yang tewas karena berusaha melindungi The Jakmania dari amukan suporter di Bandung, Juli lalu. Selain itu, ada juga Catur Yuliantono yang meninggal setelah matanya terkena ledakan petasan di atas tribun penonton saat mendukung Timnas melawan Fiji di Stadion Patriot Bekasi pada awal September lalu. (ben)

RUSUH: Kerusuhan suporter Persita Tangerang dengan pendukung PSMS Medan di Stadion Mini Cibinong, Kabupaten Bogor, Rabu (11/10).

Komentar Anda

Baca Juga