Beranda Berita Utama

Gagal Pulang setelah Oplas

BERBAGI

SEBAGAI negara yang menjadikan operasi plastik sebagai komoditas, Korea Selatan laris dikunjungi perempuan (dan laki-laki) yang ingin memermak wajah. Termasuk tiga perempuan muda asal Tiongkok. Sayang, gara-gara buru-buru pulang setelah operasi, mereka ditolak masuk pesawat. Imigrasi mencekal mereka lantaran wajahnya berbeda jauh dengan foto paspor.

Mengutip New York Times, tiga perempuan berusia sekitar 20 tahun itu tengah menunggu di Bandara Incheon, Seoul. Wajah mereka masih bengkak dan dibalut kain kasa. Sudah menunjukkan tiket dan dokumen perjalanan, tetap saja ketiganya dilarang naik pesawat.

”Mereka tidak bisa membuktikan bahwa mereka adalah pemilik paspor,” ungkap perwakilan pihak imigrasi. Foto ketiganya yang manyun dengan paspor di tangan laris jadi obrolan di Facebook. Hingga Senin (9/10), foto itu sudah dibagikan 23 ribu kali dan dapat 51 ribu like. Makanya, kalau habis ganti muka, wajah yang lama dibawa pulang. Siapa tahu ada yang kepengin simpan.(New York Times/fam/c6/na)

Pada kasus Yusman, hak untuk banding dan kasasi tidak digunakan karena batas waktunya telah habis. Kuasa hukum langsung mengajukan peninjauan kembali. Fahmi sebagai ahli radiologi forensik kedokteran gigi pun dihadirkan untuk membeberkan hasil penelitiannya terhadap gigi dan tulang Yusman.

Pada 31 Januari 2017, MA akhirnya mengeluarkan putusan bahwa hukuman pidana mati Yusman diubah menjadi pidana 5 tahun. Yusman tetap dinyatakan turut serta dalam pembunuhan 2012 silam. Menurut Fahmi yang sedang menempuh program doktoral di Universiti Sains Malaysia, penjela­sannya secara ilmiah direspons hakim dengan baik.

’’Ini masalah nyawa. Ya tentu bagi saya ini jadi motivasi saya kerja secara sungguh-sungguh,’’ ujarnya. Yusman pun akhirnya bebas pada 17 Agustus setelah mendapat remisi sebulan.Tapi, dia tidak langsung pulang ke kampung halamannya di Hilionozega, Nias. Melainkan dibawa ke Jakarta lebih dahulu.

Yusman diperiksakan ke dokter untuk mengecek kondisi fisiknya.  ’’Kami juga bawa dia ke psikolog. Saran dari psikolog, diminta untuk sering-sering diajak bicara,’’ ungkap Putri. Yusman menuturkan, dirinya baru bisa pulang menemui keluarganya pada akhir Agustus. Awalnya, dia takut dengan warga di kampungnya di Kecamatan Idano Gawo itu. Khawatir masih tidak ada kata maaf untuk dirinya. (*/c5/ttg)

Baca Juga