Beranda Metropolis

Semarak Bogor Art Festival Ke-7, Tahunnya Seni Permainan Angklung

BERBAGI
KREATIF: Peserta Bogor Art Festival 2017 menunjukkan kebolehannya di CFD Kota Bogor, bilangan Sudirman, Ahad (8/10).

Muda-mudi kreatif Kampus Pertanian kembali menggelar Bogor Art Festival. Tahun ini, tepatnya tahun ke-7 perhelatan karya Departemen Budaya dan Seni BEM Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, mengangkat tema Angklung sebagai budaya Sunda yang wajib dilestarikan.

“Kegiatannya mulai pekan ini sampai Desember mendatang di tiap akhir pekan,” ujar Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB, Lukman M Baga kepada Radar Bogor.

Lukman menjelaskan, Bogor Art Festival rutin digelar setiap tahun. Di tahun ini, panitia bekerja sama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor dan menggelar berbagai kegiatan serta lomba di sejumlah lokasi. Salah satunya seperti pembukaan Bogor Art Festival di kawasan car free day (CFD) bilangan Sudirman.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap mahasiswa dari luar daerah dapat mengenal Bogor. Jangan sampai, selama empat tahun kuliah di Bogor, mereka tidak mengenal Bogor,” kata Lukman.

Dia menyebutkan, selain pergelaran budaya, panitia juga mengadakan berbagai lomba bagi pelajar SMA dari dalam dan luar Bogor.

Antara lain, lomba paduan suara, tari-tarian, menggambar serta karya tulis. “Selain mengadakan lomba-lomba, pada setiap penyelenggaraan kegiatan ini panitia juga mengusung tema yang berbeda. Tahun lalu, tema yang diangkat tentang Batik Bogor dan untuk tahun ini Angklung,” sebutnya.

Seperti tahun sebelumnya, kegiatan ini mendapat apresiasi dari Wali Kota Bogor Bima Arya. Bima menilai, Bogor Art Festival turut membantu mempromosikan dan mengenalkan budaya Bogor, juga membuat mahasiswa paham tentang budaya Bogor. “Pekerjaan rumah berikutnya tidak saja mengenalkan ke luar, tetapi juga ke internal. Karena masih banyak yang belum mengenal lebih dalam tentang sejarah Kebogoran,” kata Bima.

Menurutnya, masih banyak pelajar, mahasiswa dan juga masyarakat yang bertanya melalui akun media sosial tentang apa arti tulisan yang ada di Tugu Kujang, yakni “Dinu Kiwari Ngancik Nu Bihari Seja Ayeuna Sampeureun Jaga”. Juga, kenapa Hari Jadi Bogor tanggal 3 Juni dan masih banyak pertanyaan lainnya. “Itu hal-hal yang sering ditanyakan dalam keseharian,” ungkapnya.

Bima mengatakan, sesungguhnya seni dan budaya bukan hanya tari-tarian, baju, totopong dan pangsi, serta bukan pula hanya atribut. Budaya lebih kepada nilai-nilai yang ditanamkan masyarakat di suatu daerah.

“Kalau mahasiswa sudah tidak ribut satu sama lain, saling menolong satu sama lain, tidak menyeberang sembarangan, tidak membuang sampah sembarangan, ikut membantu menjaga, memelihara apa yang kita punya, itu namanya kita sudah sukses menanamkan nilai budaya Bogor,” cetusnya.

Setelah pembukaan kemarin, pada 14 dan 21 Oktober mendatang akan diadakan kompetisi seni. Panitia menantang para anak muda kreatif mengikuti lomba pembuatan film pendek, poster, tulis cerita, lukisan, dan puisi.

Selanjutnya pada 11 November akan ada expo kuliner yang diikuti oleh mahasiswa dan UMK, kemudian di 12 November akan ada lomba tari tradisional, fotografi, dan paduan suara tingkat nasional. Puncaknya pada 17 Desember, penutupan Bogor Art Festival 2017 bakal dimeriahkan musisi terkenal tanah air.(wil/c)

Komentar Anda