Beranda Metropolis

Krisis Air Bersih Meluas, Jarang Mandi demi Hemat Air

BERBAGI
ANTRE: Warga sedang mengantre air ketika mobil tangki milik PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor datang.

BOGOR –Krisis air bersih di Kota Hujan semakin menjadi. Kali ini menimpa warga Kelurahan Muarasari dan Harjasari Kecamatan Bogor Selatan. Sudah sepekan, air yang mengalir ke rumah warga mampet. Bahkan, dua hari terakhir adalah yang terparah, tidak ada air mengalir sama sekali.

Seperti dialami warga RT 04/05 Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Yanti Susanti (37). Air PDAM di wilayahnya mati total sejak enam hari terakhir. Imbasnya, segala aktivitas terganggu, mulai mandi hingga mencuci pakaian. “Paling sengsara ketika tidak ada air itu, ya, buang air besar (BAB). Gimana tidak sengsara, kita harus nahan-nahan karena memang tidak ada air. Belum lagi kalau anak diare,” keluhnya ketika ditemui Radar Bogor, kemarin (8/10).

Yanti pun harus pintar-pintar mengatur hidup tanpa air. Mulai menyediakan masakan jadi untuk keluarganya, tanpa bisa memasak sendiri. Kemudian, makan pun tidak menggunakan piring, melainkan kertas nasi. Hal itu dilakukan agar tidak repot-repot mencuci piring. “Masak beli jadi, makan pun yang simpel, biar tidak cuci piring. Hanya, buat mandi terpaksa ambil air di MCK Harjasari,” ungkapnya.

Namun, untuk mengakses MCK juga bukan perkara gampang. Dia harus menempuh jarak sekitar 800 meter dari rumahnya sampai ke lokasi. Sampai di sana pun, dia perlu mengantre bersama warga dari dua kelurahan yang sama-sama terdampak matinya air PDAM Tirta Pakuan. Padahal, di MCK yang berlokasi di RT 01/11 Kelurahan Harjasari itu hanya tersedia dua pintu kamar mandi.

Beberapa hari lalu, menurut Yanti, mobil tangki PDAM Tirta Pakuan memang sempat datang ke tempatnya. Tapi, dirinya tidak kebagian air karena yang dibawa hanya satu mobil, sedangkan yang mengantre untuk dapat air jumlahnya terbilang banyak. “Kemarin mobil PDAM datang, tapi hanya 800 liter. Kita tidak kebagian, padahal banyak yang butuh. Datang hanya sekali, itu pun kita telepon suruh datang,” kata Yanti.

Tak berbeda jauh, nasib serupa juga dialami Ajung (42), warga RT 01/11 Kelurahan Harjasari. Ia mengaku kecewa kepada PDAM Tirta Pakuan. Akibat air di rumahnya mati, ia harus hemat menggunakan air yang diambilnya dari MCK. Tak hanya irit air, Ajung juga harus hemat mengganti baju, supaya tidak sering mencuci baju. Caranya dengan ganti baju selang tiga hari.

“Keperluan sehari-hari terganggu karena tidak ada air. Nyuci baju juga jadi susah. Jadi, kita hemat-hemat yang ada (pakaian). Bisa sampai tiga hari (ganti baju),” kata Ajung.

Setali tiga uang dengan Yanti dan Ajung, warga RT 02/01 Kelurahan Muarasari, Daryuni (42) merasa jengkel dengan PDAM. Sebab, kejadian air yang tidak mengalir ini bukan sekali dua kali. Padahal, ketika telat membayar tagihan, dia harus membayar sejumlah denda. Parahnya lagi, menurutnya, matinya air PDAM sempat membuat anak tetangganya bolos sekolah. “Malahan, tetangga saya anaknya tidak sekolah gara-gara tidak ada air. Giliran telat bayar tagihan, kita kena denda. Sekarang kita bayar malah mati-mati terus,” keluhnya.

Namun, ada yang menarik, warga juga menemukan kejadian matinya air PDAM seperti sudah terjadwal, lantaran kejadiannya serupa seperti tahun lalu. “Kok setiap tahun sama matinya. Tahun kemarin juga mati di tanggal dan bulan yang sama. Masak iya, baju pakaian anak sekolah harus dicuci pakai air hujan,” timpal warga RT 05/05 Kelurahan Muarasari, Novianti (28).

Sejatinya, Keluharan Harjasari dan Muarasari hanya sebagian dari wilayah Bogor yang terdampak matinya air PDAM. Tercatat ada sejumlah daerah yang juga mengalami nasib serupa akibat perbaikan pipa AC diameter 18 inci yang bocor di Kampung Bojongkoneng, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, yang terdampak longsor.

Adapun daerah tersebut, antara lain, Jalan Raya Ciawi–Sukabumi, Ciawi, Wangun, Tajur, Rulita, dan Kompleks Kehutanan Tajur. Berikutnya Jalan Muarasari, Ashari Jaya, Perumahan Mutiara Bogor Raya, Griya Katulampa (selengkapnya lihat grafis).

Direktur Teknik PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Syaban Maulana menuturkan, informasi longsor di daerah Bojongkoneng diterima PDAM Kota Bogor pada Rabu (4/10) malam. Tim dari Sub Bagian Penanggulangan Kebocoran serta Pengaliran dan Jaringan langsung menuju ke tempat kejadian perkara (TKP), karena lokasi longsor berada di jalur pipa milik PDAM.

“Setelah kami cek, ternyata lokasi longsor berada di jalur pipa yang kebetulan baru akan kami perbaiki Kamis (5/10). Akhirnya diputuskan, aliran air kami tutup untuk menghindari kemungkinan longsor susulan,” ujarnya.

PDAM kemudian memutuskan perbaikan pipa transmisi jalur sumber mata air Tangkil tersebut dibatalkan, dan menyiapkan rencana relokasi. Diperkirakan, relokasi membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu, mengingat ada beberapa langkah teknis dan administrasi yang harus dikerjakan.

“Selama proses persiapan relokasi, kemungkinan pasokan air kami hentikan. Karena khawatir akan berpengaruh pada kondisi sambungan pipa yang bocor. Sehingga pasokan air bersih ke wilayah zona 1 akan terhenti,” tukasnya.(rp1/c)

Komentar Anda

Baca Juga