Beranda Traveling

Backpacker ke Kerajaan Bawah Laut Raja Ampat Bisa Nego untuk Beli BBM Saja

BERBAGI
KAYAKING: Tidak lengkap pergi ke Pulau Peanemo tanpa berputar mengelilinginya dengan
kano. Cukup membayar Rp100 ribu, Anda bisa secapeknya menyisir keindahan kawasan tersebut.

Bagi para penggemar wisata laut, Raja Ampat adalah surga. Bukan hanya karena lautan di kawasan itu menjadi rumah bagi 75 persen keragaman biota laut, alamnya sendiri memang luar biasa. Dari atas, sekeliling pulau seolah diberi garis maskara berwarna cyan. Hanya, memang ongkos berwisata ke sana tidak murah.

Paket trip wisata normal butuh biaya Rp18 juta–Rp30 juta, bergantung lama dan berapa banyak pulau yang diseberangi. Harus rajin nego-nego dan mau susah mikir untuk menyiasatinya.

BERWISATA ke Raja Ampat, Papua Barat, bagi seorang backpacker adalah tantangan. Wilayahnya yang kepulauan sudah menjadi hambatan tersendiri. Sebab, alat transportasi utama di sana adalah speedboat, dan itu tak murah. Padahal, ada sekitar enam pulau yang berkategori ’’wajib’’ dikunjungi sebelum bisa mengaku telah berwisata ke Raja Ampat. Yakni, Pulau Waisai (ini pulau utama), Peanemo, Aborek, Waiag, Oba, dan Tornolol.

Biasanya, paket wisata yang dita­war­kan sudah termasuk keliling semua pulau tersebut. Tapi, dari beberapa konsultasi dan pertim­bangan bujet, terpaksa rute Pulau Waiag saya coret. Ini memang agak menyedihkan. Sebab, pergi ke Pulau Waiag adalah jackpot-nya Raja Ampat. Terdiri atas gugusan pulau batu-batu berjajar yang seolah ditata tangan tak terlihat, di sini wisatawan bisa melihat aneka fauna khas Papua seperti burung cenderawasih, maleo, dan kuskus.

Karena jarak perjalanan yang jauh (sekitar enam jam), harus menginap, dan tarif yang tak bisa disiasati, saya memilih mencoretnya. Apalagi, saat saya ke sana pertengahan Juli lalu, masih bertiup angin selatan. Ombak sangat besar. Toh, masih ada Pulau Peanemo yang menawar­kan pemandangan dan pengalaman yang relatif sama. Sekadar diketahui, speedboat mahal karena BBM yang juga cukup mahal.

Untuk trip ke Pulau Waiag, dibutuhkan enam drum BBM. Itu setara dengan 1.200 liter (satu drum berisi 200 liter). Kalikan saja dengan harga pasaran BBM di sana yang mencapai Rp9 ribu per liter. Maka, ongkos BBM saja bisa mencapai Rp10,8 juta. Belum ongkos sewa speedboat. Karena itu, para pengusaha angkutan speedboat mematok harga Rp17 juta–Rp20 juta untuk pergi ke sana.

Untuk penginapan, para back­packer sebaiknya tidur di hotel yang cukup banyak di Waisai. Tarifnya Rp400 ribu–Rp800 ribu per kamar. Jangan di resor. Sebab, resor mema­tok harga yang cukup mahal. Yakni, per kepala per malam dibanderol Rp800 ribu–USD203 (Rp2,6 juta).

Karena itu, pergi ke Raja Ampat sendirian sangat tidak disarankan. Sebab, beban ongkos sebesar itu ditanggung sendiri. Tapi, bukan backpacker namanya jika tak punya akal. Untuk itu, saya harus punya orang yang mau diajak trip bersama.

Kebetulan, saya punya kenalan seorang polisi (yakni, Kasatreskrim Polres Raja Ampat AKP Yudi Arvian) dan juragan sembako di sana yang bernama Rocky Kardinal. Dan kebetulan, dua hari sebelumnya, saya berhasil ’’meracuni’’ AKP Yudi Arvian.

Dari yang semula takut menye­lam menjadi ketagihan me­nye­lam, setelah saya ajak menyelam bersama di Waiwo Resort. Tinggal meyakinkan si Rocky Kardinal. Akhirnya, dengan modal muka memelas dan alasan ’’Ayolah Bos, mosok tidak ditemani, wong saya jarang-jarang ke Papua,’’ Rocky pun bersedia.

Dengan tambahan dua pihak ikut menyangga, kami pun mencari speedboat. Beruntung, ada speed­boat yang hendak berangkat ke Pulau Peanemo dan sekitarnya berisi rombongan delapan pekerja perkebunan sawit yang mendapat jatah liburan dari perusahaannya. Karena kapasitas speedboat untuk 15 orang, masih ada space kosong. Setelah nego-nego, kami pun deal dengan kesepakatan seperti ini.

Rombongan kami boleh ikut, dengan catatan membelikan dua drum BBM atau 400 liter BBM. Lagi-lagi beruntung, kami mendapat harga khusus BBM sebesar Rp7.300 per liter. Jadi, total jenderal, untuk trip ke Peanemo yang biasanya paling murah Rp9 juta, kami cukup membayar Rp2,92 juta saja.

Setelah itu, tinggal nego-nego diving equipment. Lengkap dengan instruktur dan masing-masing mendapat tabung sendiri, kami mendapat harga Rp2 juta. Itu cukup untuk menyelam dua kali sepanjang trip ke Pulau Peanemo dan sekitar­nya. Total, beserta biaya tak terduga, kami bertiga hanya menghabiskan uang Rp6 juta. Angka itu jauh lebih murah ketimbang paket normal yang mencapai Rp10 juta–Rp15 juta.

Hanya, apesnya speedboat yang kami tumpangi jenis terbuka. Bukan yang ada kabinnya. Karena itu, ketika membelah perairan Raja Ampat dengan ombak yang setinggi kapal kami (sekitar 70 cm–1 meter), sebelum mencapai pantai, kami telah mandi air laut. Tapi, justru itu yang membuat perjalanan menikmati Raja Ampat menjadi makin berkesan.(jp)

Baca Juga