Beranda Uncategorized

Guru Besar IPB Kembangkan Model Baru Metode Survei

TEMUKAN CARA BARU: Guru Besar IPB, Prof Khairil Anwar Notodiputro menemukan metode baru survei yang lebih efektif dan murah. Metode itu bernama pendugaan area kecil.

Tren survei belakangan ini terus meningkat. Seiring dengan perkembangan informasi berbasis data yang bukan lagi hanya sebagai pelengkap, namun juga informasi wajib dalam penyampaian suatu informasi. Namun, membuat survei membutuhkan biaya yang tak kecil. Karena itu, guru besar IPB menawarkan model baru survei yang jauh lebih efektif dan murah.

Laporan : Wilda Wijayanti

Kemajuan teknologi membuat dunia semakin menyatu, bahkan nyaris tanpa sekat. Komunikasi antarnegara semakin cair. Gejolak di suatu negara, detik itu juga bisa kita ketahui. Pada 1998, terjadi gelombang reformasi di Indonesia yang membawa perubahan besar.

Pertama, perubahan dari kekuasaan sentralistik menjadi desentralistik tersebar. Kemudian, sistem politik beru­bah dari mayoritas tunggal ke sistem mul­ti­partai. Kedua perubahan tersebut telah mendorong tumbuhnya kebutuhan data pada level kabupaten, kecamatan, bahkan level desa.

“Tadinya yang korupsi satu dua orang, sekarang yang korupsi banyak orang dan tersebar,” ujar Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengeta­huan Alam (FMIPA) IPB, Prof Khairil Anwar Notodiputro, dalam jumpa pers praorasi ilmiah di kampus IPB Baranang­siang, Kamis (5/10).

Menurutnya, dahulu orang membutuhkan data hanya level nasional dan provinsi. Sekarang tidak bisa lagi. Sementara itu, jika dilakukan survei langsung (hingga level desa) memerlukan upaya yang luar biasa. “Survei itu tidak gratisan dan perlu biaya perlu waktu,” lirihnya.

Permasalahan ini bisa diatasi dengan metode pendugaan area kecil (small area estimation/SAE). Berbeda dengan metode konvensional yang didasarkan pada pendugaan langsung, metode SAE berbasiskan model dan merupakan pendugaan tidak langsung. “Metode SAE mampu meningkatkan efekti­vitas dan efisiensi dari statistik yang dihasilkan, dibanding dengan metode konvensional,” pungkasnya.

Hasil penelitiannya di depar­temen statistika FMIPA IPB, menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi yang terjadi dengan menerapkan model SAE bisa mencapai 80 persen. Jika metode langsung butuh 100 sampel, metode tidak langsung ini hanya butuh 20 sampel sudah cukup. Artinya, terjadi penghe­matan yang luar biasa.
“Pemerintah di berbagai negara seperti Amerika, Italia, Belanda, Kanada sudah meng­gu­nakan metode SAE ini. Artinya, ada optimisme dalam peman­faatan SAE oleh pemerintah untuk menghasilkan statistik yang efektif dan efisien,” bebernya.

Tidak ada yang salah dengan metode langsung. Tapi, akan bermasalah jika jumlah contohnya sedikit dan tidak memadai. Dalam kondisi keterbatasan dana, waktu dan tenaga, sering kali kita tidak mampu mengambil contoh dengan jumlah yang banyak atau memadai.

“Untuk Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian dan Lembaga Negara, metode SAE ini bisa menjadi solusi ketika APBN semakin terbatas sementara pengumpulan data dan produksi statistik tidak dapat dihentikan untuk merencanakan, memantau dan mengevaluasi pembangunan nasional,” tandasnya. (*/c)

TEMUKAN CARA BARU: Guru Besar IPB, Prof Khairil Anwar Notodiputro menemukan metode baru survei yang lebih efektif dan murah. Metode itu bernama pendugaan area kecil.

 

 

Baca Juga