Beranda Berita Utama

Cerita Perawat Tanaman Kebun Raya tentang Tumbangnya Pohon Tertua

TERKESIMA: Pengunjung Kebun Raya menyaksikan pohon tertua yang tumbang, Rabu (4/10).

Pekerjaan besar kini dihadapi para perawat tanaman Kebun Raya Bogor. Bagaimanapun caranya, “keturunan’’ pohon tertua yang tumbang Rabu (4/10), harus bisa kembali merimbunkan jantung Kota Hujan.

Laporan : Wilda Wijayanti

”Manis banget rasa buah lecinya. Tapi sudah lama tidak berbuah, saya lupa kapan terakhir berbuah,” kenang Mujahidin, saat mengantar Radar Bogor melihat kondisi bangkai pohon Litchi Chinensis (pohon leci) berusia 194 tahun asal Tiongkok tersebut.

Bagi sebagian orang, raksasa tertua di Kebun Raya itu mungkin hanya sekadar objek dalam daftar perawatan. Tapi, bagi pria yang menjabat Kepala Sub Bidang Pemeliharaan Kebun Raya Bogor (KRB) ini, pohon leci tersebut ibarat sahabat.

Karenanya, Mujahidin sempat tak percaya. Pohon yang bebe­rapa pekan sebelumnya masih kelihatan sehat, kokoh, akhirnya tumbang juga. Belakangan ia ketahui, sang raksasa digerogoti ”kanker’’ rayap dan rendaman air. “Karena posisi pohon berada di dekat kolam,” ungkapnya.

Pohon leci ini juga legenda bagi pencinta Kebun Raya. Pengunjung yang mengetahui sejarah KRB, tak akan mungkin melewatkan berfoto dengan latar pohon tersebut. Tapi cukup disayangkan, posisi pohon tidak di jalan utama sehingga sering tidak terperhatikan pengunjung atau tamu-tamu kenegaraan.

Sebagai informasi, bibit sang raksasa ditanam kurang lebih enam tahun sejak KRB didirikan pada 1817. Adalah botanis asal Jerman C.G.C. Reinwardt, yang sengaja menjadikan Lands Plantentuin te Buitenzorg -nama KRB sebelumnya- menjadi lahan percobaan bagi tanaman yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda. Litchi Chinensis pun tumbuh subur dan aktif berbuah hingga ratusan tahun.

Kasubag Kerja Sama dan Informasi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rosniati Apriani Risna, menjelaskan, pohon yang ditanam pada tahun 1823 itu memang sudah tidak produktif sejak beberapa puluh tahun lalu. Untuk itu, pihaknya rutin merawat dan memeriksa kesehatan pohon. “Kami sudah melakukan treatment untuk pohon-pohon yang tua.

Menggunakan alat untuk mengecek kesehatan pohon. Dicek seberapa rapuh, rutin setiap hari,” kata dia.
Beruntung, LIPI sempat melakukan pencangkokan pohon leci tersebut. Sehingga, KRB kini masih memiliki pohon jenis serupa yang ditanam tak jauh dari lokasi pohon yang kini tumbang.

“Setiap pohon yang teregistrasi ada seperti KTP-nya. Pohon ini tergolong yang sudah tidak berbuah lagi sejak beberapa puluh tahun. Tapi sudah dilakukan upaya pencangkokan agar ada regenerasinya. Hasil cangkok, ya, kita tanam di dekat pohon yang tumbang itu,” ungkapnya.

Pohon yang memiliki latar bangunan Istana Bogor itu memang tergolong tumbuhan yang sudah tua. Kini, ada sebanyak 600 pohon tua lainnya dengan umur lebih dari 100 tahun di Kebun Raya. “Kalau yang di atas 100 tahun ada sekitar 600 pohon. Kalau yang di atas 50 tahun ada tiga ribuan. Kalau dari semua tanaman ada sekitar 13 ribuan,” paparnya.

Tumbangnya pohon tertua di KRB ini menambah panjang daftar pohon yang tumbang di Kota Hujan, dua pekan terakhir. Diawali pohon besar di Jalan Jalak Harupat yang tumbang pada 27 September, kemudian di Jalan Mandalawangi Kecamatan Bogor Tengah pada 2 Oktober. Berlanjut di Jalan Jabaru Kecamatan Bogor Barat pada 3 Oktober.

Dari sekitar 14.000 pohon besar yang ada di Kota Bogor, pemerintah daerah setempat baru bisa mendata kurang lebih 500 pohon dalam program KTP Pohon. Menurut hasil pemeriksaan petugas pertamanan, ratusan pohon berisiko tumbang setiap tahunnya.(*)

Baca Juga