Beranda Berita Utama

Puslabfor Deteksi Racun Genset

BERBAGI

EVAKUASI: Komandan Koramil Klapanunggal Kapten Chb K. Zurnalita turun langsung mengevakuasi jasad korban tewas diduga akibat menghirup zat beracun dari asap genset, Selasa (3/10).Azi/Radar Bogor

BOGOR–Kepolisian Resor Bo­gor meminta bantuan Pus­labfor Bareskrim Polri untuk mencari musabab kematian satu keluarga di Perum Grand Kahuripan Cluster Bromo V, Blok BD 07, RT 02/08, Desa Klapanunggal, Keca­matan Klapanunggal, Kabupaten Bogor. Kemarin (4/10) tim Puslabfor melakukan olah TKP dengan memasang alat pendeteksi pencemaran udara atau gas detector.

“Kami bekeDarja sama dengan Puslabfor untuk mengetahui apakah penyebab kematian satu keluarga ini akibat udara karbon dari genset. Nanti hasil dari laboratorium akan disesuaikan dengan hasil autopsi di RS Polri Kramat Jati,” ujar Kapolsek Klapanunggal, Ajun Komisaris Polisi Adhimas Sriyono Putra kepada Radar Bogor.

Olah TKP berlangsung selama satu jam setengah mulai pukul 15.00–16.30 WIB. Hasilnya, selama 30 menit genset terpasang, gas detector langsung berbunyi menandakan udara di dalam ruangan sudah tercemar. Petugas lantas mengambil sampel udara dari dalam dan luar rumah, untuk diteliti lebih lanjut. “Dari hasil penelitian akan diketahui apakah pembakaran genset tersebut sempurna atau tidak,” ungkapnya, seraya menambahkan pihaknya juga masih akan memeriksa sejumlah saksi.

Seperti diberitakan Radar Bogor sebelumnya, Selasa (3/10) sore, sekeluarga penghuni rumah Grand Kahuripan Cluster Bromo V Blok BD 07, RT 02/08, Desa Klapanunggal, ditemukan tewas. Kuat dugaan, ketiga korban meninggal musabab kekurangan oksigen dan menghirup karbon dioksida (CO2) dari asap genset.

Korban diketahui bernama Ahmad Sariun (34) asal Ciamis, bersama istrinya Rika Liswati (28), dan anak pasutri tersebut, Rabil (4). Berdasarkan keterangan saksi-saksi, ketiganya diduga telah meninggal sejak Minggu (1/10) malam.

“Saya curiga sejak kemarin lampu rumah tetap menyala siang hari. Saya pikir sedang liburan. Tapi sempet khawatir karena anaknya (korban Rabil) tidak terlihat di pengajian,” tutur tetangga korban, Johar (45) kepada Radar Bogor.

Dua hari Rabil absen ke pengajian membuat Johar berprasangka buruk. Firasat itu diperkuat ketika dirinya mendengar pengakuan sang pemilik kontrakan yang dihuni korban, mencium bau busuk dari dalam rumah. Bau itu sampai mengundang lalat-lalat hijau menempel di pintu dan kaca depan.

“Akhirnya, ibu Nani (pemilik kontrakan) datang, sempat mengetuk pintu. Terkunci rapat dari dalam. Bilang ada bau busuk mencurigakan,” ujarnya.
Segera, Johar dan Nani melaporkan kejadian itu pada Babinsa Klapanunggal. Tak lama, babinsa setempat, Sertu Sugianto, beserta Komandan Koramil Klapanungal Kapten CHb K. Zurnita datang ke lokasi. Atas izin pemilik, pintu rumah tersebut didobrak.

Betapa terkejutnya warga menemukan tubuh Ahmad Sariun, istri, dan putranya tergolek kaku. Tubuh mereka sudah membengkak dan membiru. Kanit Reskrim Polsek Klapanunggal Ipda Yayan Sofyana Suri yang tiba di lokasi kemudian langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Hasil pemeriksaan sementara, di ruang tamu rumah kontrakan itu ditemukan mesin genset merek Zehn dalam keadaan mati dan bahan bakar kosong.

“Kami meminta dukungan tim identifikasi dari Polres Bogor,” ujar Yayan, seraya menyebut tidak ditemukan bekas kekerasan ataupun barang yang hilang atau rusak dari rumah tersebut.

Tetangga korban, Yani (40) menuturkan, dua hari sebelumnya, Minggu (1/10), sekitar pukul 17.00 WIB, semua listrik di perumahan tersebut padam. Tak lama, Yani sempat mendengar korban menyalakan genset. Selanjutnya pada pukul 23.30 WIB, listrik menyala kembali dan dirinya sempat memberi tahu korban melalui pesan singkat bahwa listrik sudah menyala. “Tapi gak dijawab. Sejak hari itu korban dan keluarga gak kelihatan keluar rumah,” tuturnya.

Kasus tewasnya sekeluarga akibat menghirup racun dari asap genset bukan kali pertama di Bogor. Pertengahan tahun lalu, satu keluarga di Desa Pabuaran, Kecamatan Gunungsindur mengalami kejadian serupa. Pasangan suami istri dan ketiga anaknya meninggal dunia akibat menghirup gas karbon monoksida dari asap pembuangan mesin genset.

Kronologinya pun nyaris sama dengan peristiwa di Klapanunggal. Peristiwa maut di Kampung Citeureup RT 03/03, Desa Pabuaran, Kecamatan Gunung­sindur, 2016 lalu diawali mati listrik. Korban yang juga kepala keluarga bernama Lamtono (34) memutuskan untuk menyalakan genset yang disimpan di ruangan dapur sebagai pengganti sumber listrik.

Genset dibiarkan menyala dan seluruh anggota keluarga terlelap tidur. Singkat cerita, keesokan harinya, tetangga korban menemukan satu keluarga yang terdiri dari Lamtono (34) dan istri, Fatma (29), ketiga anak mereka: Marsya Laudya (10), Tegar (7) dan Alldryan Marcellino (2) dalam kondisi lemas. Sementara Lamtono ditemukan sudah tak bernyawa.

Para korban sebenarnya sempat dilarikan ke RS Hermina, Tangerang Selatan, namun nyawa mereka tak bisa diselamatkan.

Sekretaris Badan Penang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Budi Pranowo mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan genset. Mengingat genset mengeluarkan gas buang karbon monoksida (CO) yang berbahaya jika dalam kondisi ruang tertutup.

Terlebih dalam kondisi cuaca seperti sekarang ini, potensi listrik mati karena cuaca yang kerap diakali warga dengan menyalakan genset di dalam rumah.
“Kami mengimbau masyarakat agar memahami panduan dalam menghadapi bahaya gas CO. Ikuti betul petunjuk manual. Pastikan ada ventilasi yang cukup di dalam rumah. Rawat genset atau mesin secara berkala, gunakan gas detector, dan paham P3K khusus tentang gas beracun (CO),” tukasnya.

Sebagai informasi, karbon monoksida merupakan gas yang berbahaya bagi tubuh bila dihirup dalam jangka waktu lama. Dinukil dari berbagai sumber, karbon monoksida dapat mengikat hemoglobin dalam darah hingga mengalahkan oksigen yang dikandung udara bebas. Karena kekurangan oksigen, jaringan tubuh pun tidak berfungsi dan bisa berakibat fatal pada kematian.

Dalam berbagai kasus, korban tak akan menyadari telah menghirup gas tersebut karena karbon monoksida tidak berwarna. Meskipun berbau, korban yang sedang tertidur tidak akan menyadarinya.(azi/rp2/d)

Komentar Anda

Baca Juga