Beranda Metropolis

Menguak Asal Nama Kampung di Bogor lewat Buku Toponimi Bogor

BERBAGI
BOGOR: Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bogor menggelar kegiatan bedah buku Toponimi Bogor karya budayawan Bogor, Eman Sulaeman, di Paseban Sri Bima kemarin (4/10). Nelvi/radar bogor.

Meningkatkan minat baca pada masyarakat Kota Bogor bisa dengan beragam cara. Salah satunya lewat bedah buku. Tentu saja, buku yang dibedah bukan buku sembarangan. Kemarin (4/10) Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bogor membedah buku Toponimi Bogor karya sejarawan Eman Sulaeman, di Paseban Sri Bima.

Laporan: Wilda Wijayanti

Sekretaris Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bogor, Encep MohAli Alhamidi menguraikan, bedah buku ini sekaligus ingin menunjukkan bahwasanya Kota Bogor memiliki buku yang berisi tentang asal usul nama, tempat, maupun jalan yang ada di Kota Bogor.

“Tentu ini menarik, karena di dalam nama tersebut mengandung asal usul yang berkaitan dengan sejarah. Kemudian, bisa menjadi inspirasi bagi penulis lainnya, untuk melengkapi hal yang sama. Sebab, di dalam buku baru tercantum 44 nama kampung/jalan di Kota Bogor yang sudah diungkap. Tentu ada nama-nama lain, seperti dalam diskusi yang belum tahu nama-namanya. Sehingga nanti akan terbit toponimi lainnya secara berseri,” kata dia.

Kemudian, karena mengandung nama, otomatis ada penggalian sejarah. Maka, tidak menutup kemungkinan nantinya, jika buku ini dibedah secara ilmiah, dilengkapi lagi, akan menjadi referensi daerah, sehingga menjadi bahan premier, sekunder maupun tersier. Dan lebih dari itu, fakta bahwa generasi yang sekarang belum tentu mereka tahu asal usul ini dan sebagainya.

“Jadi, forum bedah buku ini, salah satu bagian dari menggerakkan minat baca bagi masyarakat, menggerakkan penulis, untuk melengkapi, dan akhirnya masyarakat secara keseluruhan mengenal jauh lebih lagi tentang Bogor.

Isi bukunya, misalnya, ada nama tentang Lawang Gintung, ada nama Sempur, pemberian asal usul nama itu, siapa yang memberi nama. Sehingga kita tahu bahwa wilayah yang kita tempati diberi nama ini asal usulnya. Pasti banyak yang belum tahu,” kata Encep.

Buku Toponimi Bogor ini sangat dianjurkan berada di rak-rak perpustakaan sekolah. Bedah buku tersebut bukan tanpa sebab, karena menjadi yang paling dekat dengan keseharian, supaya mengenal, merasa lebih dekat lagi dengan Bogor.

“Mungkin nanti akan dibahas soal berdirinya Pajajaran, runtuhnya Pajajaran, mungkin puisi juga. Bahkan, ke depan bisa saja dongeng yang berlatar Bogor. Entah itu legenda atau cerita. Paling tidak dongeng itu salah satu media kepada anak untuk mengenal wilayahnya,” jelas dia.

Sebenarnya, menurut Encep, buku Toponimi Bogor belum masuk ke dalam referensi primer dari sisi penulisan. Sebab, di dalamnya belum mencantum­kan nama-nama sumber otentiknya. Justru, ketidaksem­purnaan ini menggugah penulis lain. “Makanya, bedah itu bukan ke promosi, melainkan lebih kepada uji publik. Inilah forum ilmiah yang pengujinya rata-rata ada pengurus perpustakaan di sekolah-sekolah,” cetusnya.

Dari bedah buku ini juga terungkap, ada beberapa buku yang sudah jadi. Sementara penulis tidak memiliki dana untuk menerbitkannya. Artinya, di sini pemerintah mesti turun tangan, karena ini bukan buku yang sifatnya komersial, melainkan buku sejarah. Buku sejarah dari sisi ekonomisnya belum tentu laku. Kalaupun laku di Kota Bogor saja.

“Berarti buku ini harus dibantu penerbitannya oleh pemerintah dan pemerintah harus menye­diakan anggarannya. Harapan­nya, kegiatan seperti ini tetap di-support untuk didanai, karena mempertemu­kan penulis, pener­bit, pegiat perpustakaan yang tujuannya adalah memang untuk mencerdaskan bangsa,” tandasnya.(wil/c)

Baca Juga