Beranda Berita Utama

Cangkok ’’Bayi Raksasa’’ di lokasi yang sama

BERBAGI

Kebun Raya Bogor (KRB) kembali kehilangan aset terbesarnya. Pagi kemarin (4/10), pohon tertua di jantung Kota Hujan sekaligus salah satu ikon KRB, tumbang. Pohon tersebut berjenis Litchi Chinensis (pohon leci), yang didatangkan khusus dari Tiongkok dan telah mencapai usia 194 tahun.

BIBIT sang raksasa ditanam kurang lebih enam tahun sejak KRB didirikan pada 1817. Adalah botanis asal Jerman C.G.C. Reinwardt, yang sengaja menjadikan Lands Plantentuin te Buitenzorg -nama KRB sebelumnya- menjadi lahan percobaan bagi tanaman yang akan diperkenalkan di Hindia Belanda. Litchi Chinensis pun tumbuh subur dan aktif berbuah hingga ratusan tahun.

Kasubag Kerja Sama dan Informasi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Rosniati Apriani Risna, mengaku baru menerima informasi me­ngenai tumbangnya pohon tersebut pukul 05.00 WIB. Padahal, sore hari sebelumnya sang raksasa masih tegak berdiri. “Persisnya belum tahu tumbang­nya jam berapa. Yang pasti, sore kemarin masih berdiri dia,” aku Rosniati ditemui Radar Bogor di ruang kerjanya kemarin.

Kini, LIPI kesulitan untuk mengevakuasi pohon berdiameter sekitar 1 meter dan tinggi 15 meter itu. Lantaran posisinya yang terletak tepat di samping kolam gunting Istana Bogor dan Kebun Raya, membuat sebagian besar batangnya tercebur ke kolam. “Ini belum tahu evakuasinya. Kami sedang mambuat sampan dari bambu untuk mempermudah evakuasinya. Karena akarnya itu berada persis di pinggir kolam gunting,” jelasnya.

Tak hanya itu. Tim LIPI juga kesulitan karena akses menuju pohon tersebut hanya jalan setapak. Kondisi itu membuat alat berat sulit ke lokasi tumbangnya pohon. “Terpaksa, kami potong-potong kecil menjadi beberapa bagian,” imbuhnya.

Menurut Rosniati, pohon yang ditanam pada tahun 1823 itu memang sudah tidak produktif sejak beberapa puluh tahun lalu. Untuk itu, pihaknya rutin melakukan perawatan dan pemeriksaan kesehatan pohon. “Kita sudah melakukan treatment untuk pohon-pohon yang tua. Menggunakan alat untuk mengecek kesehatan pohon. Dicek seberapa rapuh, rutin setiap hari,” kata dia.

Beruntung, LIPI sempat melakukan pencangkokan pohon leci tersebut. Sehingga KRB kini masih memiliki pohon jenis serupa yang ditanam tak jauh dari lokasi pohon yang kini tumbang.

“Setiap pohon yang teregistrasi ada seperti KTP-nya. Pohon ini tergolong yang sudah tidak berbuah lagi sejak beberapa puluh tahun. Tapi sudah dilakukan upaya pencangkokan agar ada regenerasinya. Hasil cangkok, ya, kita tanam di dekat pohon yang tumbang itu,” ungkapnya.

Pohon yang memiliki latar bangunan Istana Bogor itu memang tergolong tumbuhan yang sudah tua. Kini, ada sebanyak 600 pohon tua lainnya dengan umur lebih dari 100 tahun di Kebun Raya. “Kalau yang di atas 100 tahun ada sekitar 600 pohon. Kalau yang di atas 50 tahun ada tiga ribuan. Kalau dari semua tanaman ada sekitar 13 ribuan,” paparnya.

Tumbangnya pohon tertua di KRB ini menambah panjang daftar pohon yang tumbang di Kota Hujan, dua pekan terakhir. Diawali pohon besar di Jalan Jalak Harupat yang tumbang pada 27 September, kemudian di Jalan Mandalawangi Kecamatan Bogor Tengah pada 2 Oktober. Berlanjut di Jalan Jabaru Kecamatan Bogor Barat pada 3 Oktober.

Kasi Pemeliharaan Taman pada Dinas Permuahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor, Erwin Gunawan mengatakan bahwa pohon yang berisiko tumbang tak melulu karena ukurannya yang besar dan usianya yang sudah tua. Justru pohon yang tumbang beberapa waktu lalu berukuran tidak terlalu besar. “Pohon tersebut tumbang dari bagian akarnya. Kami tidak bisa mendeteksi sampai bagian tersebut,” jelasnya.

Dari sekitar 14.000 pohon besar yang ada di Kota Bogor, peme­rintah daerah setempat baru bisa mendata kurang lebih 500 pohon dalam program KTP Pohon. Menurut hasil peme­riksaan petugas pertamanan, ratusan pohon berisiko tumbang setiap tahunnya.

“Pohon yang sudah di-KTP di Jalan Semeru, Jalan Kapten Muslihat, Jalan Djuanda, Jalan Pajajaran, Jalan Salak, Jalan Pemuda, Jalan Ahmad Yani, Jalan Dadali, Jalan Jalak Harupat,” ujar Erwin.

Erwin mengakui masih banyak pohon berdiameter lebih dari 25 sentimeter yang belum terdata berpotensi tumbang pada musim penghujan seperti sekarang. Ia menyebutkan sebanyak 106 pohon beresiko tinggi, 64 pohon beresiko sedang dan sisanya dianggap kecil potensi tumbangnya.(rp1)

Komentar Anda