Beranda Ekonomi

Kejar Target Inflasi

BERBAGI

JAKARTA–Tren inflasi rendah masih berlanjut. Hal itu me­nyusul tingkat inflasi pada September yang mencapai 0,13 persen. Padahal, sejumlah pihak memprediksi indeks harga konsumen (IHK) pada September sedikit lebih tinggi daripada Agustus.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi inti pada September tercatat 0,35 persen. Dengan demikian, inflasi pada tahun kalender (Januari–September) 2017 mencapai 2,66 persen. Sedangkan secara year-on-year, tingkat inflasi mencapai 3,72 persen.

Kepala BPS Suhariyanto menguraikan, inflasi se­panjang September di­pengaruhi kenaikan harga se­jumlah kelompok pe­ngeluaran. Kenaikan harga tertinggi tercatat pada kelompok biaya pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebe­sar 1,03 persen.

Kenaikan harga di ke­lompok sandang menyum­bang inflasi 0,52 persen. Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan rokok menyumbang 0,34 persen. Sumbangan inflasi dari kelompok bahan bakar hanya minimal, yakni 0,21 persen. Demikian pula kelompok kesehatan 0,16 persen serta transportasi, komunikasi, dan jasa keua­ngan 0,02 persen.

Selain ikan segar, pepaya, bubur, mi, dan garam, kelompok makanan justru mengalami penurunan harga 0,53 persen. Komoditas yang memberikan andil deflasi, antara lain, bawang merah, daging ayam ras, bawang putih, telur ayam, dan tomat sayur. ”Komoditas yang perlu diwaspadai adalah beras dan cabai rawit,’’ terang Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.

Dengan tren inflasi yang terus rendah, Kecuk memprediksi target inflasi tahun ini sebesar 4 persen bisa tercapai. Syaratnya, pemerintah dapat mewaspadai gejolak harga pangan volatil menjelang Natal dan tahun baru. ”Tapi, pemerintah dan BI sudah belajar karena Lebaran lalu (harga volatile food) terkendali. Jadi, saya optimistis (target inflasi tahun ini, Red) tercapai,’’ imbuh pria kelahiran Blitar tersebut.

Secara terpisah, Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa angka inflasi pada kisaran 0,25–0,3 persen sudah cukup baik. Hal itu menandakan gejolak harga pangan masih terkendali. ”Volatile food akan berisiko pada Desember atau Januari. Tapi, kalau melihat hujan juga masih agak baik,’’ paparnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai dengan koordinasi yang baik antara pemerintah dan BI, terjadi deflasi terhadap komoditas pangan. Namun, dia meminta pemerintah mewaspadai inflasi pada akhir tahun karena musim hujan mengakibatkan suplai pangan menipis.(ken/c7/noe)

Komentar Anda