Beranda Female

Cerita di Balik Decoupage Workshop

BERBAGI

Saat ini, ibu rumah tangga tak hanya dituntut piawai mengurus anak dan suami. Tak sedikit dari mereka jago membuat barang-barang menarik dari barang biasa. Entah untuk sekadar menghias rumah atau dijadikan peluang menambah penghasilan keluarga. Nah, untuk mewujudkannya, tak ada salahnya ikut bergabung dalam sebuah komunitas.

Salah satu komunitas yang bisa membantu ibu rumah tangga kreatif dan bisa menghias rumah menjadi cantik, adalah komunitas Home Decor Lovers (HDL) Family Bogor. Melalui workshop second meet up HDL Family Bogor & Decoupage Workshop di Sharon’s House, Minggu (1/10) lalu, ibu-ibu diajak menambah ilmu dalam membuat sesuatu yang bisa bermanfaat untuk kebutuhan rumah atau djadikan sebuah peluang bisnis.

Salah satu seni keterampilan tangan yang tengah naik daun dan digemari sebagian kaum hawa adalah decoupage. Anggota HDL Family Bogor Dwi Rahmatika, mencoba berbagi cara membuat seni decoupage pada beberapa media, seperti piring kaca, mangkuk kaca, talenan, botol dan lain-lain. Semua belajar dan berkreasi di decoupage workshop.

Dwi Rahmatika menjelaskan, decoupage berasal dari bahasa Perancis decouper, yang artinya memotong. Decoupage adalah kerajinan atau bentuk seni yang memerlukan potongan-potongan bahan, biasanya kertas dan tisu. Potongan tersebut ditempel pada suatu media dan kemudian dilapisi beberapa lapis vernis. “Decoupage merupakan perpaduan seni menggunting, mengecat, menempel dan memvernis,” tutur Dwi Rahmatika.

Untuk motif kertas, baiknya diaplikasikan pada media yang datar seperti kayu atau papan mdf, bisa juga digunakan pada media yang permukaannya tidak pipih dan rata seperti rotan, anyaman pandan, anyaman bambu, anyaman rotan, toples yang cembung atau tidak simetris. “Namun, hasilnya tidak sebaik jika menggunakan tisu napkin, begitu juga sebaliknya. Kelema­han tisu napkin jika digunakan pada media yang datar dan ukuran besar akan menimbulkan banyak kerutan,” jelasnya.

Motif kertas baik untuk wall decor, lanjut Dwi, sehingga menggunakan media lebar tidak mengerut, tetap licin dan terlihat benar-benar menyatu pada media. Untuk motif tisu, kata dia, baiknya diaplikasikan pada media yang motifnya digunting secara detail seperti bunganya saja yang digunting. Setelah detail digunting posisikan ke media yang ingin ditempel. Setelah itu basahi sponge dan peras, lem di atas motif yang sudah digunting kemudian keringkan dan vernis.

“Untuk media yang ingin dicuci berulang kali, lakukan vernis sebanyak tiga sampai empat kali, namun jika hanya dijadikan pajangan cukup vernis satu kali,” tuturnya.

Media yang bisa digunakan untuk decoupage bisa menggunakan apa pun yang bisa dikreasikan seperti piring kaca, botol, tas anyaman pandan, talenan, dan centong, kecuali media yang berbahan kain bludru. “Untuk motif kertas bisa menggunakan kertas apa pun, semakin tipis kertas maka semakin baik hasilnya. Untuk gambar bisa sesuai dengan selera, bisa mencarinya dengan memanfaatkan media sosial,” tambahnya.

Dalam proses decoupage dengan motif paper harus ada pencelupan di air. Jadi kalau tinta dan printernya biasa, ketika dicelupkan ke dalam air akan luntur. “Yang penting itu tintanya, karena untuk decoupage, tinta dan prin harus khusus tidak bisa menggunakan tinta dan prin yang umum. Namun bisa dicoba terlebih dahulu prin gambar, dan ketika dicelupkan luntur maka tidak bisa digunakan untuk decoupage,” tuturnya.

Perbedaan penggunaan motif kertas dan motif tisu adalah pada caranya. Jika untuk motif tisu setelah digunting detail, dibuka lapisan tisu dan letakkan pada media. Pada media jangan diberikan lem namun berikan lem di atas tisunya saja. Setelah tisu diposisikan di atas media, karena jika media diberikan lem terlebih dahulu maka tisu akan mudah mengerut.

“Untuk motif kertas, medianya yang terlebih dahulu harus dilem, kertasnya dicelupkan ke air agar lebih lentur, jika posisi belum pas dengan mudah bisa digeser. Dan setelah dikeringkan hasil akan benar-benar meresap, menempel dan menyatu pada media,” tandasnya.

Untuk teknik pengerjaan decoupage, lanjut Dwi, semua dilakukan dengan cara yang berbeda, semua tergantung pada motif dan media yang digunakan. Lalu, untuk media kaleng dan botol yang merupakan media tidak berpori atau licin dan memiliki kelemahan saat dicat. Proses pengeringan jauh lebih lama. Namun jika menggunakan media kayu proses pengeringan lebih cepat.(cr6/c)

Komentar Anda