Beranda Berita Utama

Saatnya Batik Masuk Sekolah

BERBAGI
TELITI: Seorang pembatik tampak teliti menulis batik menggunakan canting di workshop Batik Tradisiku, Kota Bogor.

Di Hari Batik Nasional, 2 Oktober tahun ini, sedikitnya sudah ada lima batik khas Kota Hujan yang telah diakui dan disukai berbagai kalangan. Di antaranya: batik Handayani Geulis, batik Tradisiku, batik Mago, batik Pancawati, serta batik Paniisan.

WALI Kota Bogor Bima Arya telah mewanti-wanti seluruh PNS di lingkungan Pemkot Bogor untuk mengenakan batik khas Bogor hari ini. Instruksi itu pun telah disampaikan sejak pekan kemarin melalui penanggung jawab organisasi perangkat daerah (OPD) masing-masing. Tujuannya satu, melestarikan dan mempromosikan batik Bogor kepada seluruh kalangan.

“Ya (instruksi mengenakan batik khas Bogor). Setiap saya kunjungan ke luar daerah atau negeri, kalau tidak pakai jas, ya batik khas Bogor,” ujar Bima Arya kepada Radar Bogor kemarin.

Bima juga menegaskan, sebisa mungkin dirinya terus mengimbau para PNS untuk mengenakan batik khas Bogor di berbagai kesempatan. Terlebih, kini batik Bogor sudah banyak jenis dan modelnya. Di sisi lain, untuk memajukan usaha kecil dan menengah (UKM).“Harus bangga dengan batik khas daerah kita sendiri. Bukan hanya bangga pada batik Indonesia, tapi batik daerah kita sendiri,” tegasnya.

Tak hanya PNS, menurutnya masyarakat Kota Bogor perlu bangga dengan keberadaan batik Bogor. Karena, sekarang motif batik khas Bogor lebih beragam, mulai dari motif hujan hingga motif angkot.

Kabag Adminiatrasi Perekonomian Pemkota Bogor, Tri Irijanto menyambut baik instruksi Bima agar PNS mengenakan batik Bogor. Hal itu dianggap dapat meningkatkan sektor perekonomian di bidang industri batik. “Ada intruksi. Melalui humas mengintruksi semua pegawai dalam rangka hari batik nasional. Saya harap, masyarakat Bogor kalau mau pakai batik bukan batik yang lain. Tapi batik bogor. Supaya, kondisi prekonomiannya tetap naik, kemudian mempertahankan batik khas bogor,” ungkapnya.

Kondisi batik di Kota Bogor sendiri menurutnya terus mengalami peningkatan. Pasalnya, sekarang sudah ada sebanyak enam pusat pengrajin batik di Kota Bogor. Sehingga, dirinya berharap seiring berkembangnya zaman, perkembangannya bisa merambah hingga kancah internasional. “Batik di bogor mengalami perkembangan. Awalnya dari batik Tradisiku yang cuma satu, sekarang sudah enam dengan kondisi binaan yang melebar. Diharapkan Batik Bogor itu eksis tidak hanya di Kota Bogor, tapi juga nasional dan internasional,” kata Tri.

Kini, pihaknya dengan Dekranasda Kota Bogor tengah menggagas untuk mendirikan kampung batik di Kota Bogor. Nantinya, tempat tersebut akan dijadikan pusat produksi maupun penjualan batik Bogor. “Justru kita ingin menbuat kampung batik. Sedang di survei, tidak semba­rangan. Jadi akan ada kawasan khusus untuk mempro­duksi batik. Konsepnya nanti minimal 20 KK di sana itu mem­produksi batik,” bebernya.

Sebagai informasi, hari ini, delapan tahun lalu, Unesco telah menetapkan batik Indonesia sebagai warisan dunia. Batik Indonesia dipandang sebagai warisan kebudayaan untuk budaya lisan dan non-bendawi yang memengaruhi seluruh perjalanan hidup manusia dari lahir hingga ajal menjemput.

Namun, sejumlah kalangan menyayangkan aktivitas membatik relatif masih dilakoni oleh orang-orang yang sudah ”berumur’’. Sedangkan minim sekali generasi muda yang sudi meneruskan budaya kebanggaan bangsa ini.

“Maka itu, kami melakukan jemput bola. Kita tidak boleh hanya menunggu dan berharap, tapi harus datang dan jemput bola. Mengajarkan anak-anak agar mencintai batik,” tutur pendiri sekaligus owner Batik Bogor Handayani Geulis, Sri Ratna Hamdayani B.

Bersama sejumlah pihak, Ratna datang ke sekolah-sekolah memberikan pelatihan membatik. Upaya itu dilakukan karena tak semua orang berkesempatan mengenal batik secara benar. Artinya, sebagian besar masyarakat mengenal batik hanya sebatas produk tekstil. “Saya harap anak-anak diberi waktu senggang untuk mengenal batik. Mengenali makna membatik, lalu mencoba membatik, atau dijadikan sebuah ekstrakurikuler di sekolah,” cetusnya.

Di sisi lain, kata Ratna, ketika ia bersusah payah mengenalkan batik kepada anak-anak di sekolah, para turis asing justru berdatangan dan ingin mengenal sekaligus belajar membatik. Hal inilah yang terkadang membuatnya miris dan bertekad untuk memperjuangkan batik agar mendapat tempat di hati para generasi penerus.

“Mereka (turis asing) malah berdatangan rutin membatik di galeri kami. Ada dari Korea, Jepang, Rusia. Saya ingin anak-anak kita dibuat dulu memahami, mengenal dan mencintai batik. Karena batik akar jati diri bangsa,” kata dia.

Ucapan Ratna bukan isapan jempol semata. Sang putra, Georgian Marcelo, juga ”dipaksa’’ mengenal hingga mencintai batik. Alhasil, pria yang akrab disapa Ian itu pun benar-benar kepincut dengan budaya membatik. “Batik itu budaya. Bukan tekstil bermotif. Kenali dulu, lalu cintai batikmu,” ucapnya kepada Radar Bogor.

Sebagai anak muda, Ian punya cara tersendiri mengembangkan batik Handayani. Menurutnya, para pegiat batik harus juga melek teknologi. Semisal mengem­bangkan jaringan dan promosi secara digital. “Mau tidak mau harus ikut berenang di arus tersebut. Bermain di dunia online, media sosial. Itu bahkan lebih memudahkan pebatik. Kami memanfaatkan itu sebagai oportunity. Tinggal bagaimana me-maintenence loyalitas konsumen,” ungkapnya.

Memanfaatkan media sosial juga, batik Handayani bisa tetap berkomunikasi dengan para pelanggannya. Sekaligus menggaet pelanggan baru dari kalangan anak muda. Cara lainnya dengan terus berinovasi agar batik tidak monoton dan selalu memberi kesan segar. “Seperti batik kita, khas Bogor, batik motif angkot. Banyak konsumen dari luar daerah seperti Bengkulu, Aceh jadi berdatangan ingin melihat dan mengenal. Ada juga yang ternyata tahu dari medsos, kemudian mereka visit sekaligus berwisata ke Bogor,” ujarnya.

Semangat serupa juga disuarakan Siswaya, pemilik batik Bogor Tradisiku. Siswaya pun membuka pintu workshop batiknya untuk semua pihak yang ingin mengenal dan mempelajari batik. “Kami membuka kursus juga, dari yang lama sampai singkat untuk umum, siapa saja. Biasanya ramai sama anak sekolah, mahasiswa, wisatawan, sampai masyarakat yang ingin belajar,” ujar Siswaya.

Tak hanya itu, Batik Tradisiku saat ini sedang menyusun kurikulum batik di pusat pendidikan dan pelatihan Kementerian Perindustrian. Harapannya, diklat ini akan menjadi satu dasar pembelajaran tentang batik. “Karena saat ini tidak semua orang paham dengan batik,” ujarnya.

Untuk diketahui, batik karya Siswaya telah dijadikan seragam khusus Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bogor. Batik Tradisiku juga mempromosikan batik khas Bogor di Tokyo, fashion show, Fukuoka, Jepang.

Berbagai penghargaan tingkat kota hingga nasional pun diraih Siswaya. Di antaranya penghargaan produk inisiator dari Wali Kota Bogor, produk inovasi dari Gubernur Jawa Barat, penghargaan green industry dan gugus kendali mutu dari Kementerian Perindustrian.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Fahruddin, menyambut baik niat para pegiat dan pelaku usaha memasukkan batik dalam ekstrakurikuler sekolah. Pria yang akrab disapa Fahmi itu pun mengaku telah membicarakan usulan itu dengan beberapa pihak. “Sudah ada rencana. Kami mau gebyarkan membatik dan hari batik. Mungkin dalam jangka waktu dekat. Minimal anak mengenal, mengerti batik, juga dengan berbagai lomba,” kata Fahmi.

Senada, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, TB Luthfie Syam mengatakan bahwa secara esktrakurikuler memang belum dilakukan. Tapi secara konten, para pelajar rutin mendapat materi soal sejarah dan budaya membatik. “Pelajaran membuat desain batik yang diintegrasikan dengan pelajaran menggambar. Mungkin seperti itu sudah,” kata Luthfi.(wil/ran/rp1/c)

Komentar Anda

Baca Juga