Beranda Berita Utama

Bangun Istana Tiongkok untuk Rumah Panda

BERBAGI
FANTASTIS: Rumah Panda yang akan ditempati dua ekor giant panda (Ailuropoda melanoleuca) di Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, Kamis (28/9). Sepasang giant panda bernama Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina) tiba di Taman Safari Indonesia. Foto: sofyansyah/radar bogor

BOGOR–Kini tak perlu jauh-jauh untuk melihat panda. Taman Safari Indonesia (TSI) baru saja kedatangan sepasang giant panda dari Tiongkok. Panda bernama Cai Tao dan Hu Chun itu mendarat kemarin pagi di Jakarta setelah melakoni penerbangan selama 6 jam 50 menit dari Chengdu.

“Tidak perlu buang-buang uang untuk beli tiket pesawat dan ngurus visa. Kalau mau lihat panda, di sini juga bisa,” tutur Direktur Utama TSI Jansen Manansang kepada wartawan di TSI Cisarua kemarin (28/9).

Cai Tao dan Hu Chun menjadi dua panda pertama yang hadir di Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Cai Tao dan Hu Chun langsung dibawa ke rumah panda TSI Cisarua. Rumah mereka di TSI Cisarua ini juga tak kalah unik. Dibuat menyerupai istana kerajaan Tiongkok. Para pengunjung akan merasa seperti berada di Tiongkok saat berkunjung ke sana.

Sang konseptor David Manansang menjelaskan, sebelum membangun rumah panda, pihak TSI sudah melakukan riset ke negara lain. Termasuk rumah panda di kampung halaman mereka di Tiongkok. Dari hasil riset itu, didapatlah ide menyatukan unsur alam dengan budaya. “Kalau alam kan kita sudah punya. Di sini lingkungannya memang alam terbuka. Nah, kita bawa unsur budayanya di bangunan rumah panda. Unsur budaya Tiongkok yang jadi habitat asli mereka,” ungkap David.

Konsep itu akhirnya direalisasikan oleh arsitek Giat Gunawan. Detail eksterior dan interior dibuat seperti istana kerajaan Tiongkok. Perpaduan warna merah dan emas jadi pilihan utama. Detail desain atap hingga daun pintu dan jendela pun dibuat khas Tiongkok. “Meski terlihat seperti istana kerajaan Tiongkok, semua materialnya lokal,” tutur Giat.

“Detailnya dibuat di Surabaya. Tinggal dipasang di sini,” tambah Philip Soetojo yang bertindak sebagai kontraktor. Proses pengerjaan fisiknya dilakukan selama lebih dari setahun dan menelan biaya puluhan miliar.

Giat mengatakan, pengerjaan fisiknya memang menelan biaya cukup besar. Konstruksinya cukup rumit. “Motong sedikit bagian dari bukit ini untuk bangunan rumah panda. Pelebaran jalan juga harus dilakukan agar material bisa dibawa ke sini. Ini cukup tinggi. 1.400 mdpl,” terang Giat.

Untuk menyesuaikan dengan temperatur habitat mereka, rumah panda dilengkapi AC. Jansen mengatakan, di kandang giant panda, suhu udara malam hari bisa 17 derajat. Sedangkan siangnya bisa 28 derajat. Suhu tersebut terbilang pas untuk giant panda. ”Di dalam kandang pun ada AC. Pokoknya ini kandang terbaik se-Asia Tenggara. Yang di Singapura saja kalah,” ucap dia.

Setelah mempunyai keturunan, hewan ini akan dikembalikan ke negara asalnya. Masa subur panda betina hanya dua kali sehari dari 365 hari atau setahun. Maka itu, TSI mengupayakan dengan menyediakan beberapa kandang alam untuk kawin. Opsi lain yakni dengan cara kawin suntik.

Selama di Indonesia, Cai dan Cu akan didampingi empat orang petugas. Dua dokter yang memiliki setifikat khusus asal RRT dan Indonesia, dan dua keeper (pengasuh). Cai dan Cu tidak dapat disaksikan dalam waktu dekat oleh umum karena harus menjalani masa penyesuaian karantina selama satu bulan.(don/jpg/c)

 

Komentar Anda

Baca Juga