Beranda Berita Utama

Mereka yang Membuka Pintu Rumah untuk Menampung Pengungsi

BERBAGI
BERJUMPA LAGI: Anak Agung Gede Rai Sri Budaya (paling kanan baju putih) berfoto bersama Ketut Suwanda (dua dadi kanan baju putih) dan pengungsi lain di Puri Kaler Kangin.Syahrul Yunizar/Jawa Pos

Tak cuma menyediakan tempat berteduh, para tuan rumah juga berupaya membuat para pengungsi nyaman dengan menyediakan layar lebar, dapur umum, sampai tempat penitipan hewan. Yang ingin meneruskan usaha selama di pengungsian juga dipersilakan.

SAHRUL YUNIZAR, Klungkung

LIMA hari sudah Komang Widastra me­ning­galkan kampung halamannya di Karangasem. Namun, tidak tampak kegun­dahan yang berlebihan di raut wajah pria yang akrab disapa Bagong itu.

”Karena Bu Ani yang baik hati mau me­nampung kami,” ungkap warga Dusun Karangsari, Kelurahan Duda Utara, Kecamatan Selat, Bali, tersebut, lantas tersenyum kepada Ni Wayan Saryani.

Ani –sapaan Ni Wayan Saryani– merupakan pemilik rumah di kawasan Jalan Jempiring, Klungkung. Sejak Jumat malam (22/9) Bagong bersama keluarga mengungsi di rumah tersebut untuk mengantisipasi letusan Gunung Agung.

Total 35 orang ditampung guru sekolah dasar berusia 57 tahun itu dan sang suami, Ketut Sutawan. Selain menyediakan tempat berteduh dan konsumsi, Ani menyiapkan hiburan berupa televisi dan proyektor dengan layar cukup besar.

Beragam film, kadang-kadang juga tayangan langsung sepak bola, diputar agar Bagong dan pengungsi lain bisa nonton bareng setiap malam. ”Jangan sampai merasa seperti di pengungsian,” tutur Ani, Selasa (26/9).

Ani tak sendirian yang secara sukarela membuka rumah pribadi untuk menampung pengungsi. Banyak keluarga di Klungkung yang melakukan hal serupa. Dua di antaranya adalah Anak Agung Gede Rai Sri Budaya dan pasangan Ani Gitawan dan suaminya, Wayan Gitawan.

Motivasi mereka sama: hanya ingin membantu. Meringankan beban sesama, tanpa pamrih. Sebab, bagi mereka, mengulurkan tangan kepada yang tengah membutuhkan adalah berkah. Selaras dengan prinsip kearifan lokal Bali: menyama braya.

Mengutip Menyama Braya (Studi Perubahan Masyarakat Bali) karya Christantius Dwiatmadja, Sony Heru Priyanto, David Samiyono, dan I Wayan Damayana, menyama braya bermakna bahwa semua orang (orang lain) merupakan saudara atau keluarga, tidak ada orang lain atau wong liyan. Karena merupakan saudara atau keluarga, orang lain diperlakukan seperti keluarga sendiri.”Malu rasanya kalau kami sampai tidak membantu,” kata Gung Rai, sapaan akrab Anak Agung Gede Rai Sri Budaya.

Kalau Gunung Agung benar meletus, Karangasem diprediksi menjadi kabupaten yang paling parah terdampak. Karena itulah, banyak warga Karangasem yang diungsikan ke kabupaten tetangga, Klungkung.

GOR Swecapura, Klungkung, merupakan pusat koordinasi dan penampungan pengungsi. Tapi, di luar GOR, banyak pula yang ditampung di banjar alias desa adat.
Begitu mendengar arus pengungsi dari Karangasem mulai mengalir, Ani mengaku langsung mendatangi GOR dan sejumlah banjar. Dia menawari mereka tinggal di rumah yang ditempatinya bersama suami, anak, dan cucu.

Awalnya hanya satu dua yang menerima tawaran itu. Tapi, lama-kelamaan jumlahnya terus bertambah. Rumah Ani yang berbentuk huruf U bisa menampung total sampai sekitar 80 orang.

Ada empat kamar di bagian luar bangunan utama yang disediakan untuk pengungsi. Selain itu, masih ada tujuh kamar lagi di bagian belakang yang selama ini disewakan untuk kos.

Empat di antaranya masih disewa pengekos. Tiga lainnya diperuntukkan pengungsi. Seluruh kamar dilengkapi toilet. Sedangkan Ani dan keluarga menempati satu kamar di bagian dalam bangunan utama.

Ibu dua anak itu menggelengkan kepala ketika Jawa Pos bertanya soal kerepotan mengurus 35 pengungsi di rumahnya. Sebaliknya, Ani malah senang.
”Bagaimana kalau dibalik? Saya yang jadi mereka. Sudah pasti bingung mencari tempat tinggal sementara,” katanya.

Layaknya ruang keluarga, pelataran rumah Ani yang jadi tempat nonton bareng juga dilengkapi bantal dan karpet. Ani memang ingin seluruh pengungsi nyaman. Tidak kaku, apalagi ragu, berbuat yang mereka mau. ”Harus seperti rumah sendiri,” imbuhnya.

Tidak heran, Ani juga kerap mengajak anak-anak para pengungsi tidur bersama dirinya dan salah seorang putrinya serta cucu-cucunya. Satu kamar dan satu tempat tidur. Lantas, bagaimana suaminya?

Ketut memilih tidur di pelataran rumah. Bersama kaum bapak, pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir di Pemkab Klungkung itu menjaga pengungsi lain. ”Sengaja pakai karpet supaya tidurnya hangat,” ungkap Ani.

Dari 35 jiwa yang mengungsi di rumahnya, ada satu keluarga dengan seorang bayi. Lantaran tidak ingin terjadi sesuatu pada bayi tersebut, Ani memberikan kamar khusus.

Keluarga itu diperbolehkan menempati kamar tersebut sampai kondisi dan situasi di sekitar Gunung Agung kondusif. Tidak peduli harus 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan lebih dari 1 tahun.

Ani siap menanggung biaya demi menyokong kebutuhan sehari-hari seluruh pengungsi di rumahnya. Baik listrik, air, maupun logistik. Dia sangat percaya, dengan niat baik, akan selalu ada jalan untuk membantu. Benar saja, untuk kebutuhan makanan, dia akhirnya dapat bantuan dari Pemkab Klungkung.Ani pun membuatkan dapur khusus untuk mereka. ”Ada di belakang. Jadi, bebas. Bisa masak apa pun. Kalau di depan saya mungkin sungkan,” kata dia.

Tujuan lain dia membuat dapur itu adalah para pengungsi tidak melulu bergantung kepada pemerintah. Untuk itu, dia mempersilakan para pengungsi yang sehari-hari menggantungkan nasib dengan berjualan oleh-oleh untuk meneruskan usaha mereka. ”Sekarang (Selasa lalu, Red) alatnya sedang dibawa (ke sini),” ujarnya.

Kalaupun rumahnya kelak tak cu­kup, Ani sudah berancang-ancang mengubah toko miliknya yang terpisah jarak 1,5 kilometer untuk menampung pengungsi. Saat ini toko tersebut masih di­kontrak sebuah perusahaan swasta dan dijadikan showroom.

Kontraknya baru berakhir tahun depan. Namun, Ani siap memutuskan kontrak jika ternyata memang butuh tempat tambahan untuk menampung pengungsi. ”Di toko itu bisa menampung lebih banyak pengungsi,” katanya.

Di Kompleks Puri Kaler Kangin, Gung Rai membuka lebar-lebar pintu rumah sekaligus tempat ibadah itu karena teringat yang dilakukan sang ayah, Anak Agung Gede Rai Tan Naya, 54 tahun silam. Persisnya ketika Gunung Agung terakhir meletus pada 1963. ”Ayah ketika itu langsung membuka rumah untuk menampung pengungsi,” kata pria yang masih keturunan raja Klungkung tersebut.

Jadilah sejak Jumat malam lalu puluhan pengungsi mengetuk pintu tempat tinggalnya. ”Mereka langsung datang karena sudah tahu,” ucap suami Gusti Ayu Rupini tersebut.

Satu di antara 27 pengungsi yang datang ke rumahnya bahkan pernah menjadi pengungsi saat Gunung Agung meletus pada 1963. ”Umurnya sudah 90 tahun lebih,” tambah pensiunan PNS tersebut.

Pengungsi yang dimaksud adalah Ketut Suwanda. Gung Rai lantas mengajak Jawa Pos menemuinya. Tampak sekali keakraban di antara keduanya meski tak ada pertalian darah.

”Katanya masih ingat saya. Masih ingat ayah saya,” ucap Gung Rai menirukan ucapan Suwanda yang tak bisa berbahasa Indonesia. Memang tidak banyak yang disampaikan Suwanda. Namun, matanya seolah berkata bahwa dia tenang bisa tinggal sementara di Puri Kaler Kangin.

Suwanda yakin keluaraga yang sempat menyelamatkan nyawanya dari ancaman erupsi Gunung Agung 54 tahun lalu itu bakal melakukan hal sama untuk keluarganya kali ini. Juga untuk kerabat dekatnya.

Kedekatan tak hanya terlihat antara Gung Rai dan Suwanda. Tapi, juga dengan para pengungsi lain di rumahnya. Sambil menunjukkan beberapa tempat yang diubah menjadi tempat tidur kepada Jawa Pos, Gung Rai sempat begurau dengan mereka.”Kalau malam saya tengok. Siang disapa semua,” jelasnya.

Perbincangan yang berlangsung sekitar dua jam ditutup Gung Rai dengan menunjukkan beberapa dokumen foto. Semuanya merupakan bantuan yang diberikan rekan-rekannya.

Mulai makanan sampai pakaian. Tidak lupa, dia juga menunjukkan dapur yang sengaja dibuat. ”Agar para pengungsi bisa mengolah logistik sendiri,” katanya. (*/c10/ttg)

Baca Juga