Beranda Berita Utama

’’Perang’’ Dua Doktor, Empat Profesor

BERBAGI

Bakal calon rektor (BCR) Institut Pertanian Bogor (IPB) semakin mengerucut. Kemarin (27/9), panitia pemilihan rektor (Pilrek) IPB periode 2017-2022 resmi mengumumkan enam nama BCR yang lolos dari penjaringan 24 besar oleh Senat Akademik (SA).

Mereka adalah Dr Agus Purwito, Dr Arif Satria, Prof Hermanto Siregar, Prof Luki Abdullah, Prof M. Yusram Massijaya dan Prof Yonny Koesmaryono. “Setelah ini akan dilanjutkan dari enam BCR menjadi tiga orang yang akan diumumkan 9 Oktober, melalui sidang pleno SA IPB,” ujar Ketua Panitia Pilrek IPB, Erica Laconi kepada Radar Bogor.

Erica menjelaskan, penjaringan enam BCR dilakukan melalui sidang pleno SA yang diikuti lebih dari 50 anggota. Hari ini, keenam BCR tersebut akan mendapat surat keputusan resmi dari SA IPB. Mereka akan mengikuti tahapan selanjutnya yakni membuat tulisan tentang gagasan atau pemikiran rencana strategis IPB 2017–2022.

“Nanti pada 2 Oktober, tulisannya diserahkan dan dibagikan ke seluruh anggota SA IPB. Barulah 9 Oktober dipresentasikan,” jelas Erica, seraya menyebut tahap selanjutnya adalah diumumkannya tiga BCR yang lolos seleksi gagasan.

Sementara itu, 18 BCR yang tidak lolos, kata Erica, bisa kembali duduk di jabatan struktural yang sempat ditinggalkannya selama mengikuti proses pemilihan rektor. Mereka adalah Dr Arief Daryanto, Prof Anas M. Fauzi, Prof Ari Purbayanto, Prof Bambang Purwantara, Dr Bayu Krisnamurthi, Prof Damayanti Buchori, Prof Deni Noviana, Prof Erliza Hambali, Prof Iskandar Z. Siregar, Prof Kukuh Murtilaksono, Prof M. Zairin Junior, Prof Rina Oktaviani, Dr Rinekso Soekmadi, Dr Sam Herodian, Prof Slamet Budijanto, Dr Sri Nurdiati, Prof Srihadi Agungpriyono, dan Prof Wiku Adisasmito.

Sedangkan rektor baru IPB akan diketahui 15 November mendatang setelah melewati sidang paripurna yang akan memilih satu calon rektor secara musyawarah mufakat oleh Majelis Wali Amanat (MWA) IPB. “Sesuai jadwal, 15 Desember pelantikan Rektor IPB periode 2017–2022,” imbuhnya.

Di tempat terpisah, salah seorang BCR yang lolos, Prof M. Yusram Massijaya menyatakan keinginannya menjadikan IPB sebagai pemikir dan penggerak bangsa. Salah satu poin yang ingin diperjuangkannya yakni terkait inovasi yang dampak secara nasionalnya belum terlihat.

“Seandainya menjadi rektor, saya ingin hasil inovasi unggulan-unggulan IPB seperti pajale disebarkan ke seluruh Indonesia,” ujarnya kepada Radar Bogor.
Selain itu, Yusram ingin mengumumkan ke dunia bahwa IPB itu ada. “Termasuk Bogor, harus mendapat benefit yang paling besar dari IPB,” sambungnya.

BCR lainnya, Luki Abdullah mengaku akan membuat konsep yang sesuai dengan kebutuhan IPB. “Rektor sekarang sampai ke depan akan bekerja sesuai rencana jangka panjang yang sudah ditetapkan oleh IPB sampai 2045,” ujar guru besar Fakultas Peternakan itu.

Pada prinsipnya, menurut Luki, siapa pun yang menjadi rektor akan menjadi jembatan untuk proses transformasi. “Sehingga pada 2045, IPB memiliki wajah yang memang jauh lebih baik,” kata pria asal Sukabumi itu.

Sedangkan BCR IPB, Agus Purwito menilai seluruh 24 BCR IPB adalah orang-orang hebat. “Kalau saya terseleksi, bukan berarti lebih hebat dari yang lain,” kata Agus. Langkah selanjutnya, pria yang diusulkan Fakultas Pertanian dan Sekolah Bisnis itu mengaku akan mengikuti sesuai proses.

Sedangkan BCR IPB, Arif Satria mengaku harus segera menjawab harapan presiden dan rakyat Indonesia agar IPB bisa menghasilkan lulusan unggul. “Khususnya dalam bidang pertanian,” ujar Arif.

Dalam diskusi dengan CEO Radar Bogor Grup Hazairin Sitepu beberapa waktu lalu, Arif bahkan sudah menyiapkan sejumlah rencana. Seandainya terpilih, salah satunya akan membangun Tani Center. Tak hanya itu, Arif juga akan membidik para ketua OSIS di daerah untuk masuk ke IPB.

BCR IPB lainnya, Hermanto Siregar mengatakan, persoalan yang dihadapi dari waktu ke waktu selalu terulang. Yang jelas, kata guru besar bidang ekonomi itu, bagaimana menyiapkan alumni yang bisa lebih dirasakan kiprahnya untuk mengembangkan dunia pertanian.

“Bagi saya, perkembangan pertanian tidak ada artinya jika tidak bisa meningkatkan kesejah­teraan petani. Jadi, kita membuat keberadaan alumni-alumni ini bisa mendorong kesejahteraan petani dengan kelembagaan yang cocok,” ujarnya.

Hermanto pun berharap IPB menjadi leading university atau perguruan tinggi yang memimpin. Meski fokus di bidang pertanian, tetapi dampak keberadaannya bisa lebih dirasakan secara lebih menyeluruh dan komprehensif dalam tataran pembangunan nasional.

BCR IPB, Yonny Koesmaryono mengatakan, terpilihnya menjadi enam BCR dari 24 orang meru­pakan suatu kehormatan, serta amanah yang harus dijalankan. Terkait persiapan, Yonny sudah mempersiapkan pemikiran-pemikiran untuk membangun IPB dan mempertahankan reputasi IPB yang sudah baik menjadi lebih baik.

“IPB yang fokus di bidang pertanian satu-satunya di tanah air. Kita ingin reputasi itu tetap terjaga, bahkan lebih baik bisa berkontribusi terhadap pembangunan nasional. Mudah-mudahan saya bisa memenuhi harapan itu,” ujar wakil rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IPB itu.

Sementara itu, sebagai kampus yang berada di Bogor di kota maupun Kabupaten Bogor, para kepala daerah juga memiliki harapan pada kampus yang dijuluki kampus inovasi itu.

“Selama ini Pemkot dan IPB melakukan sinergi dalam banyak hal. Tidak hanya terkait pembangunan Bogor dan penataan kota secara fisik, tetapi pembangunan karakter generasi masa depan,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto. Sehingga, Bima berharap komunikasi yang sangat baik ini bisa berlanjut, siapa pun rektornya.

Hal senada diungkapkan Bupati Bogor Nurhayanti. Dia berharap, sebagai daerah domisili IPB semakin maju dan sukses dengan programnya termasuk kerja sama dengan Kabupaten Bogor semakin ditingkatkan. “Khususnya dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan daya beli petani melalui peningkatan hasil produksi pertanian,” kata Nurhayanti.(wil/rp2/rah/d)

Baca Juga