Beranda Berita Utama

Setengah Hari, Bali Gempa 495 Kali

PENUH SESAK: Suasana di pengungsian warga yang terdampak Gunung Agung di GOR Suweca Gelgel, Klungkung, Bali (25/9).Raka Denny/jawapos

KARANGASEM-Gunung Agung terus menunjukkan aktivitas vulkanik. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ratusan kali gempa vulkanik dalam dan gempa vulkanik dangkal terjadi Senin (25/9). Tidak hanya itu, mereka juga medeteksi puluhan gempa tektonik lokal. Secara keseluruhan terjadi 495 kali gempa sejak pukul 00.00 WITA sampai pukul 12.00 WITA.

Menurut Kepala PVMBG Kasbani, data tersebut menunjukkan bahwa jumlah kegempaan di sekitar Gunung Agung dalam tiga hari belakangan terus naik. “Gempa-gempa terasa sering terjadi,” ungkap dia. Itu mengindikasikan energi magmatik yang luar biasa besar dari gunung tersebut. “Yang terbesar dalam sejarah pemantauan instrumental di Gunung Agung,” jelasnya.

Tidak heran dalam pertemuan antara pejabat teras Pemprov Bali kemarin, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) selalu siaga. Pejabat yang akrab dipanggil Pastika itu pun menekankan agar anak buahnya tidak bepergian keluar daerah. “Kecuali untuk urusan yang sangat urgen,” kata dia. Sebab, mereka harus konsentrasi berhadapan dengan kondisi saat ini.

Selain itu, Pemprov Bali bersama BNPB, BPBD Bali, serta instansi lainnya terus berupaya mengevakuasi seluruh masyarakat dari kawasan rawan bencana. Khususnya yang berada di zona merah. Kemarin Jawa Pos (Grup Radar Bogor) turut serta dalam evakuasi tersebut.

Bukan sekadar ucapan, membujuk masyarakat untuk mengungsi memang sulit. “Banyak yang khawatir dengan hewan ternak,” ungkap salah seorang relawan bernama I Komang Ardita.

Benar saja, dalam perjalanan menuju Dusun Batu Gede, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat, Karangasem, truk yang dipakai untuk evakuasi sempat diberhentikan masyarakat. Ketika ditanya kenapa? Mereka menjawab ingin minta tolong agar truk tersebut dipakai untuk mengangkut hewan ternak. “Sekarang jiwa (masyarakat) dulu,” kata Ardita. Sempat berdialog panjang, akhirnya mereka mengerti.

Kesulitan mengevakuasi seluruh masyarakat di kawasan rawan bencana juga tampak di sepanjang perjalan. Masih ada yang duduk santai bersama keluarga di pelataran rumah masing-masing. Bahkan juga yang masih membuka warung. Padahal, sebagian besar masyarakat sudah mengungsi. “Bisa ditandai, rumah yang lampunya masih nyala sampai siang berarti sudah mengungsi,” kata Ardita.

Relawan asal Karangasem itu pun meceritakan pengalaman mengevakuasi masyarakat dari kawasan rawan bencana beberapa hari belakangan. “Ada yang sampai diikat keluarganya sendiri,” ucapnya. Namun demikian, masih ada saja yang nekat. “Katanya mau mengungsi kalau sudah meletus,” ucap dia. Untuk itu, bujuk rayu terus dilakukan agar kawasan rawan bencana benar-benar kosong.

Begitu tiba di Dusun Batu Gede, Ardita langsung mencari tahu keberadaan masyarakat. Dia bertanya kepada petugas yang berjaga di sekitar lokasi tersebut. “Masih ada yang belum mengungsi?” Kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai PNS di Pemkab Klungkung itu. Petugas lantas menjelaskan bahwa ada beberapa masyarakat yang belum diungsikan. Setelah dipastikan lokasinya, pencarian berlanjut.

Bujuk rayu yang disampaikan Ardita bersama relawan lain pun berhasil. Tidak kurang 25 jiwa dibawa mengungsi dari Dusun Batu Gede. Dia menjelaskan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Sebab, lokasi pengungsian aman. (and/lyn/syn)

Baca Juga