Beranda Berita Utama

Brutalnya Tradisi jaga Gengsi

BERBAGI

Kematian Hilarius Christian Event (15) menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan. Semua pihak diminta bergerak. Aksi brutal bomboman telah menjadi tradisi para oknum senior sekolah elite di Kota Bogor. Duel lima lawan lima bak ”gladiator” di tengah arena itu terlaksana secara sistematis sejak 2010.

Penelusuran Radar Bogor, laga bomboman biasanya digelar jelang agenda-agenda besar yang melibatkan kedua sekolah. Layaknya event organizer, senior kedua sekolah mencari tempat, menentukan waktu, memilih petarung, hingga menjadi wasit dan promotor.

Pada saatnya, siswa junior dipaksa beradu fisik dengan petarung dari sekolah lain. “Sementara motifnya gengsi, memperebutkan nama baik, tidak ada hadiah,” ungkap Paur Humas Polresta Bogor Kota Ipda Rahmat Gumilar kepada Radar Bogor.

Selama bertahun-tahun, kata dia, tradisi itu berjalan apik dan turun-temurun. Beberapa alumni dua sekolah itu pun enggan berkomentar ketika ditanyai pewarta. Mereka memilih menutup rapat-rapat cerita bomboman ketimbang mencegah adik kelas kembali menjadi korban, seperti Hilarius Christian Event (15).

Pada 2016 lalu, salah seorang rekan almarhum Hilarius sempat menceritakan tentang bomboman. Aturan mainnya cukup sederhana. Jika ada tiga siswa dari satu tim yang menyerah dengan cara mengangkat dua jari (jari telunjuk dan tengah), maka tim lawan akan menyudahi pertarungan dan keluar sebagai pemenang.

Kasatreskrim Polresta Bogor Kota, Kompol Ahmad Choyruddin membenarkan hal itu. Dia menyebut, ketika satu angkatan siswa menang bomboman, maka angkatan tersebut disegani sekolah lawan. Keterangan itu didapat dari pengakuan para saksi, termasuk tersangka kasus kematian Hilarius.

Tak hanya itu, Wakasat Reskrim Polesta Bogor Kota AKP Adam Muchamad mengatakan bahwa dari hasil BAP, dua tersangka yang kini sudah ditahan juga pernah menjadi korban duel ala gladiator. Dua tersangka itu yakni HK dan TB, yang dipaksa kakak kelas mereka untuk berduel saat awal-awal masuk sekolah. “Dari pengakuannya, mereka duel satu lawan satu. Disaksikan banyak orang juga, kakak kelas dan alumni,” tukasnya.

Ketua Indonesia Child Protection Watch (ICPW) Erlinda mengatakan, kasus tewasnya Hilarius mesti menjadi pembuka tabir bomboman. Pada saat itu, Erlinda yang dulu menjabat sebagai Sekjen KPAI tidak bisa berbuat banyak karena berbagai sebab. “Pada waktu itu juga kita langsung komunikasikan dengan Kemendikbud. Karena waktu itu memang bukan ranah kita, itu ranah mereka (kepolisian dan sekolah), jadi, kita tidak bisa berbuat banyak,” bebernya pada Radar Bogor kemarin.

Erlinda mengakui, pada waktu itu tidak ada satu pun orang yang mau bersaksi. “Nah, makanya saya kaget sekali beberapa waktu lalu bisa terbongkar semua. Saya bersyukur sekali,” ungkapnya lagi.

Ia juga mengapresiasi Polresta Bogor Kota yang bisa menindaklanjuti kasus Hilarius meskipun pihak sekolah masih tertutup.“Itu (bomboman) adalah sesuatu yang bukan hanya bullying, namun juga sangat tidak manusiawi dan kriminal. Sempat dibilang gladiator menjadi salah satu budaya yang dilestarikan, itu sangat tidak masuk di akal,” sambungnya.

Ia menegaskan, harus ada gebrakan baru dari instansi seperti Dinas Pendidikan untuk melakukan pengawasan ekstra. Juga adanya sanksi bagi semua yang terkait dalam kasus-kasus serupa dan tidak berakhir damai.

“Yang pasti, kalau saya melihatnya ini adalah satu kebiasaan remaja di usia seperti SMP atau SMA yang sedang mencari jati dirinya, dan ini harus terus dipantau,” sahutnya.

Yang paling utama dari per­kembangan kasus tewasnya Hilarius sekarang ini adalah harus adanya sanksi kepada pihak sekolah. Tidak hanya pada tersangka yang merupakan siswa. Harus ada pemantauan lebih ke­napa kejadian gladiator tersebut bisa terjadi hingga menimbulkan tewas­nya seseorang.(ded/dka/c)

Komentar Anda