Beranda Berita Utama

Antrean Air sejak Pagi Buta

BERBAGI

BOGOR–Sumber air yang mengering layaknya wabah yang terus menyebar di Bogor. Satu per satu wilayah mulai terjadi kekurangan air bersih. Di wilayah hulu yang merupakan kawasan serapan air yakni Puncak, turut kekeringan.

Pantauan Radar Bogor, daerah serapan air hujan itu mendadak berubah menjadi wilayah yang nyaris tandus. Air jernih yang biasa mengalir di tebing-tebing tepian Jalan Raya Puncak, kini hanya menyisakan retakan. Banyak sumur warga yang mulai mengering.

Tak hanya itu, perusahaan air minum swasta sebagian besar tak beroperasi. Akibatnya, fasilitas umum dan kantor-kantor pemerintahan juga tak mendapat pasokan air. Mereka hanya bisa mengandalkan air sumur untuk kebutuhan harian.

Kondisi kekeringan terparah yang ditemukan Radar Bogor, salah satunya di Desa Teluk Pinang, RT 04/01, Kecamatan Ciawi. Sumur-sumur yang menjadi andalan warga kini tak kunjung mengeluarkan air. Begitu juga dengan perusahaan air. Meski berlangganan, sudah tiga bulan terakhir tak mengalir.

Kemarin (13/9) pemandangan langka terjadi di sumur tua Teluk Pinang. Saat musim hujan, sumur itu selalu sepi tak sedikit pun dilirik. Tapi saat kemarau ini, sumur itu berubah layaknya tambang emas. Sejak pukul 03.00 pagi, warga rela mengantre membawa jeriken untuk kebutuhan MCK.

Ada juga yang menampungnya dengan ember sembarang asal mendapat jatah air segar. “Ini sudah tiga bulan lebih susah air. Kebutuhan sehari-hari, nyuci, mandi, buat minum, susah,” keluh Rosita (56) warga RT 04/01, Desa Teluk Pinang.

Masih di kampung yang sama, RT 02/04, Fatma (29), seorang ibu rumah tangga, menyebut meski mengandalkan PDAM, tapi air tak kunjung muncul selama tiga bulan terakhir. Untuk mencukupi kebutuhan air, warga terkadang harus menunggu air sisa buangan salah satu depot air curah. Ada juga yang mengandalkan air dari pabrik-pabrik di sekitar perkampungan.

Pada 23 Agustus lalu, warga yang tak mendapatkan pasokan air bersih dari PDAM Tirta Kahuripan membuat puluhan kaum ibu menggelar aksi demo. Menurut salah seorang pendemo, Asri Tuti, sudah sebulan lebih air PDAM tak mengalir ke kediamannya. Kalaupun ada, debitnya sangat kecil.

Akibat kurang pasokan air, warga terpaksa mencari sumber air bersih dengan membeli air curah ke pihak swasta. “Ini mengganggu kalau anak mau berangkat sekolah, nyuci baju, dan masak. Padahal kami bayar,” akunya.

Saat mediasi, PDAM Tirta Kahuripan Cabang Pelayanan X Ciawi memberikan solusi dengan menyuplai air menggunakan truk tangki. Meski begitu, warga menolak dan tetap menuntut agar pelayanan kembali normal. Saat itu pula, Kabid Humas Protokol PDAM Tirta Kahuripan Agus Rianto menyampaikan permohonan maaf kepada para pelanggan.

Sejumlah Wilayah Bogor Mulai Kekeringan

Terpisah, Kabid Kedaruratan pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor Sumardi mengatakan, saat ini sudah banyak wilayah yang telah meminta bantuan pengiriman air bersih. Seperti Desa Sukagalih, Kecamatan Caringin dan beberapa desa di Kecamatan Jonggol. “Air bersih sudah kita kirimkan bahkan sejak bulan lalu. Hari ini (kemarin, red) pun ada permintaan dari Caringin, langsung kita kirim,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Guna mengantisipasi mem­beludaknya permohonan pengiriman air bersih, ia pun telah menyiapkan kendaraan tangki sebanyak lima truk. “Kita sudah mulai antisipasi sejak awal mulai terlihat kemarau, awal bulan September ini,” tukasnya.

Kepala BMKG Kabupaten Bogor Budi Suhardi mengimbau masyarakat melakukan gerakan penghematan pemakaian air yang efisien. Juga melapor ke camat atau kepala desa, jika tak turun hujan hingga dua dasarian (20 hari). Jika dalam waktu tersebut tak juga hujan, maka dapat dipastikan air tanah mengering.

“Segera berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Bogor agar diusulkan bantuan jika sudah tidak turun hujan dua dasarian,” pungkasnya.(don/rp2/d)

Baca Juga