Beranda Metropolis

Peneliti IPB Usung Kelompok Cassava Chips Berbasis Keluarga Prasejahtera

BERBAGI ILMU: Peneliti IPB berinteraksi dengan warga dan membahas pengembangan Cassava Chips.

Meningkatkan ekonomi masyarakat kecil bukan hanya menjadi tugas pemerintah semata. Sebagai wadah pendidikan, kampus juga mempunyai tanggung jawab serupa. Hal itulah yang dilakukan para peneliti Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB. Mereka melakukan pengabdian kepada masyarakat melalui program Ipteks bagi Masyarakat (IbM) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI.

Adalah Burhanuddin, Tintin Sarianti, dan Min­tarti yang menggagas kelompok “Cassava Chips” Berbasis Keluarga Prasejahtera di Kelurahan Menteng Kota Bogor dan Desa Neglasari Kabupaten Bogor.

Mintarti mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk mengurangi jumlah keluarga miskin di dua lokasi tersebut. “Kami juga ingin meningkatkan penghasilan keluarga-keluarga miskin peserta program,” ujarnya.

Dikatakannya, hasil pendataan dan pemetaan keluarga menunjukkan bahwa jumlah keluarga miskin di RW 11 Kelurahan Menteng sebanyak 23,79 persen, sedangkan jumlah keluarga miskin di RW 6 Desa Neglasari adalah 18,86 persen.

Batasan keluarga miskin dalam kegiatan ini adalah keluarga Pra KS (prasejahtera) yang dicirikan dengan tidak bisa makan dua kali sehari; tidak memiliki pakaian yang cukup untuk berbagai kegia­tan; kondisi atap, lantai dan din­ding rumah tidak layak; tidak bisa akses ke sarana keseha­tan karena keterbatasan biaya; dan anak usia sekolah yang tidak bisa bersekolah karena ketidak­mampuan ekonomi.

Mintarti menyampaikan bahwa akar permasalahan kemis­kinan di Kelurahan Men­teng dan Desa Neglasari adalah keterbatasan ekonomi. Maka, solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah strategi pening­katan penghasilan keluarga-keluarga (KK) pra KS melalui penumbuhan kelompok wirausaha “Cassava Chips” berbasis potensi lokal. Keluarga pra KS didekati, dimotivasi, diseleksi untuk menjadi wirau­saha baru di bidang industri emping singkong.

Emping singkong atau cassava chips dipilih sebagai komoditas usaha karena Desa Neglasari sudah memiliki industri emping singkong ‘Miraos’ yang sudah cukup berkembang. Industri emping singkong Miraos inilah yang menjadi ‘bapak asuh’ bagi kelompok wirausaha baru yang beranggotakan KK Pra KS tersebut. Jumlah KK Pra KS peserta program adalah lima orang dari Kelurahan Menteng dan lima orang dari Desa Neglasari.

Dua kelompok wirausaha baru yang telah dibentuk melalui program ini adalah kelompok Dapur 38, Kelurahan Menteng dan kelompok Mekar Usaha, Desa Neglasari. Kedua kelompok tersebut di-treatment dengan berbagai pelatihan dan pemberian motivasi, agar mereka bisa siap mental, fisik dan terampil menjadi wirausaha.

Emping singkong, kata dia, adalah produk kuliner baru yang diharapkan bisa jadi oleh-oleh khas Bogor setelah talas. Program IbM ini berlangsung sejak April 2017 hingga Oktober 2017 mendatang. “Setelah program selesai pada Oktober, kelompok tetap dibina dan di-monev per­kembangannya, disambungkan dengan berbagai pihak, agar mereka besar dan mandiri,” ucapnya.

Sementara, Eros (42), angggota Kelompok Mekar Usaha, mengaku senang dengan adanya program ini. Sebelumnya, untuk membantu suami yang bekerja sebagai penjual sayur, ia menjadi pembantu rumah tangga.

“Alhamdulillah, dengan ikut kelompok ini saya sudah ada gambaran ke depan. Walaupun hasilnya belum seberapa, tapi saya senang ada kegiatan setiap harinya. Apalagi dilakukan bersama ibu-ibu lain, saya jadi semangat untuk maju bersama,” tandasnya.(*)

Baca Juga