Beranda Metropolis

Kesepian Akut Picu Bunuh Diri

BERBAGI

BOGOR–Orgsanisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, setiap tahun, lebih dari 800 ribu orang di dunia meninggal karena bunuh diri. Artinya, tiap 40 detik ada satu orang yang bunuh diri. Dan nyatanya, bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor 2 terbanyak di dunia dan nomor 1 di Asia Tenggara pada kelompok usia 15-29 tahun.

Belakangan ini pun bunuh diri menjadi kasus yang sering ditemui. Beberapa pesohor memilih mengakhiri hidupnya dengan berbagai alasan. Sebut saja, Chris Cornell, Robin Williams, Chester Bennington, dan Selebgram Oka Mahendra.

Di Indonesia pada umumnya dan Kota Bogor, belum ada data pasti berapa jumlah bunuh diri. Namun, estimasi WHO, untuk angka bunuh diri berada pada kelompok usia 15–29 tahun di Indonesia adalah 3.6/100.000 penduduk. Jika estimasi populasi 13-17 tahun pada tahun 2015 sebesar 23,4 juta, maka bunuh diri diperkirakan sejumlah 842 kasus. Hal-hal inilah yang dipaparkan saat Lokakarya Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia yang jatuh pada 10 September mendatang di RS Marzoeki Mahdi.

Direktur RS Marzoeki Mahdi, Bambang Eko menuturkan, setiap tanggal 10 September diperingati sebagai Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya upaya pencegahan bunuh diri.

“Faktor yang sangat memengaruhi bunuh diri adalah ketidakbahagiaan dan impulsivitas. Juga tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Sering kali bunuh diri berkaitan dengan masalah kejiwaan, meski tidak semua orang yang melakukan bunuh diri memenuhi kriteria diagnosis gangguan kejiwaan,” papar Bambang.

Dikatakan Bambang, beberapa gejala yang penting jika seseorang berpikir untuk bunuh diri, mulai dari mengancam membunuh dirinya atau mengatakan hal seperti, “Tidak akan ada yang merindukanku ketika aku sudah tidak ada nanti”. Atau mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang terdekat.

“Mereka yang sebelumnya sudah pernah mencoba bunuh diri memiliki risiko melakukan bunuh diri, memiliki masalah keuangan, kehilangan pekerjaan, keputusasaan juga mengalami tekanan emosional yang parah,” jelas Bambang.

Lebih lanjut Bambang mengatakan, kemiskinan dan bullying juga bisa menjadi pemicu terjadinya bunuh diri. Intinya, hal-hal apa saja yang menyebabkan ketidakbahagiaan pada akhirnya akan membuat seseorang bertindak impulsif, artinya melakukan sesuatu sebelum berpikir.

Dia juga menekankan bahwa kesepian akut berpotensi membuat seseorang mengakhiri hidupnya. Namun, kesepian seperti apa? Semisalnya, awalnya memiliki pasangan namun mendadak kehilangan. Lalu faktor impulsivitas. Tidak tergantung lelaki atau perempuan, biasanya mereka yang extrovert kemudian mendadak ditinggalkan berpotensi besar melakukan bunuh diri.

diri seperti apa. Kedua, membatasi akses sarana prasarana untuk bunuh diri, seperti jembatan dipagari, pengawasan pada lift, jurang diberi pagar, dan hambatlah peredaran narkoba yang bisa berujung pada bunuh diri,” kata Bambang lagi.

Selain itu juga, soal kemacetan yang kemudian mampu menyebabkan stress. Pemerintah perlu menguranginya dan membuat seluruh penduduk Kota Bogor menikmati pembangunan dan menyediakan lapangan pekerjaan. “Jangan menggusur tapi tidak mencarikan solusi,” tandasnya. (wil/c)

Baca Juga