Beranda Metropolis

Mahasiwa Target Radikalisme

BOGOR–Kalangan mahasiswa yang tengah haus ilmu-ilmu baru, dikhawatirkan mudah dirasuki paham-paham radikal. Karena itu, Universitas Pakuan (Unpak) Bogor menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk menggembleng ribuan mahasiswa baru-nya di lapangan Pusdikzi Lawanggintung, di hari kedua Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN), kemarin (6/9).

Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan dan deradikalisasi, Mayor Jenderal TNI Abdul Rahman Kadir menyatakan, generasi muda, khususnya civitas academica, menjadi sasaran empuk penyebaran radikalisme. “Sudah banyak orang Indonesia yang tergabung dalam organisasi teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Di antaranya Bahrun Naim, Bahrun Syah dan Shalim Mubarok, yang merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia,” ujarnya di hadapan mahasiswa baru.

Di Indonesia, kata dia, tidak ada tempat yang imun dari pengaruh radikalisme dan terorisme. Mereka (teroris) sangat pandai dalam memengaruhi dengan paham-pahamnya. Itu dilakukan dengan beragam modus. Seperti memberikan pekerjaan yang menjanjikan, membuat korban merasa utang budi dan mau melakukan apa pun, salah satunya menjadi teroris.

“Perkembangan lainnya, yaitu mereka sangat pintar bermain di dunia maya. Karena pengguna dunia maya sangat banyak, mereka memasukkan berbagai informasi, seperti membuat peledak, cara mendoktrin, metode memengaruhi, semuanya mudah dicari di dunia maya saat ini,” beber Abdul.

Apalagi, saat ini, ISIS sudah berada di Filipina Selatan yang lokasinya sangat berdekatan dengan beberapa wilayah di Indonesia, seperti Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara. “Kalau dihubungkan dengan hasil survei Wahid Foundation, situasi ini sangat didukung dengan situasi yang ada di Indonesia,” tambah dia.

Survei tersebut juga menyebutkan, sebanyak 72 persen anak muda menolak radikalisme. Sedangkan 7,7 persen bersedia bergabung, dan 0,5 persen mengaku pernah melakukan kekerasan atas nama agama. Di sisi lain, untuk tingkat toleransi pada siswa SMA di Jakarta dan Madura menghasil­kan, 60 persen mereka toleran, 35,7 persen intoleran pasif, 2,4 persen intoleran aktif, dan 0,3 persen berpotensi menjadi teroris. “Ini harus sangat diwaspadai, bahayanya kalau mereka sudah terdoktrin, apa pun yang mereka lakukan semua dianggap benar,” tambah Abdul.

Tren saat ini, lanjut dia, teroris sudah berbeda. Dahulu, Alqaidah sangat memerangi orang-orang yang berbau Barat. Sedangkan saat ini, ISIS, memerangi siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka. Ia juga membeberkan ciri-ciri utama teroris. Mereka mudah mengkafirkan orang lain. “Yang berbeda lagi, rekrutmen mereka dulu melalui hubungan keluarga, kerabat, ketokohan, lembaga, dan dengan cara tertutup, juga face to face. Sekarang rekrutmen mereka bisa melalui website, media sosial, sehingga tidak perlu ketemu,” tegasnya.

Menurut hasil survei dari asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia, sebanyak 51,8 persen penduduk Indonesia menggunakan internet. Dari persentase tersebut, sebanyak 89,7 persennya merupakan mahasiswa. “Ini yang menjadi target mereka. Makanya, harus ditegaskan bahwa mahasiswa harus sangat hati-hati dan waspada, jangan sampai cita-cita kalian hancur dengan tergabung dalam paham-paham radikalis dan teroris,” tegasnya. (ran/c)

Baca Juga