Beranda Metropolis

Dosen IPB Kembangkan Teknologi Bioflok pada Ikan Hias

BERBAGI
DIBURU: Sejumlah pembeli memburu ikan hias.

Potensi ikan hias di Indonesia dinilai masih belum digarap dengan maksimal. Padahal, dari 9 ribu jenis ikan hias di dunia, Indonesia memiliki 4 ribu jenis yang tersebar di laut maupun perairan tawar. Melihat potensi itu, Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB, Iis Diatin menawarkan teknologi bioflok dalam meningkatkan produktivitas ikan hias.

Laporan: Wilda Wijayanti

Selama ini, proses budidaya ikan hias masih konvensional karena bergantung pada pemberian pakan dalam jumlah tinggi. Padahal, ini berisiko karena menurunkan kualitas air budidaya. Karena itu, Iis Diatin berinisiatif melakukan percobaan untuk meningkatkan produk­tivitas ikan hias Platydoras costatus dengan teknologi bioflok.

Teknologi bioflok merupakan metode untuk mengoptimalkan kualitas air media budidaya. Dengan teknologi ini, ikan dipelihara dalam wadah terkontrol dengan padat tebar tinggi. Teknologi bioflok dilakukan dengan menambahkan molase pada media budidaya.

“Masalah utama yang sering ditimbulkan budidaya intensif adalah degradasi kualitas air yang berasal dari aplikasi pakan yang cukup tinggi. Tujuan dari penelitian ini, untuk menga­nalisis penerapan teknologi bioflok pada kelompok ikan hias ekspor, khususnya ikan Platydoras secara intensif pada berbagai padat tebar,” jelas Iis.

Dalam percobaan ini, ikan Platydoras berukuran 2,17-2,71 sentimeter dipelihara dalam akuarium dengan kepadatan dan perlakuan berbeda. Sebanyak 450 ekor dan 750 ekor ikan Platydoras dipelihara dalam wadah yang berbeda dengan tanpa bioflok, serta 450 ekor dan 750 ekor ikan dipelihara pada wadah berbeda dengan bioflok. “Ikan diberi pakan dengan pelet sebanyak 5 persen dari berat total, pemberian pakan dengan frekuensi dua kali sehari dan dilakukan penambahan molase setiap hari,” ungkapnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, sambung Iis, diketahui ikan yang dipelihara tanpa bioflok pada kepadatan 450 ekor memiliki pertumbuhan terbaik diikuti dengan tingkat kelangsungan hidup tertinggi dengan nilai 93 persen. Kelangsungan hidup ikan Platydoras yang dipelihara dengan teknologi bioflok mencapai 72 persen. Sementara nilai kualitas air seperti suhu, PH dan oksigen selama periode pemeliharaan berada pada kisaran toleransi ikan.

“Kepadatan penebaran yang tinggi menyebabkan pergerakan ikan menjadi terbatas. Hal tersebut mengakibatkan persaingan dalam media pemeliharaan ikan serta meningkatkan agresi ikan yang pada akhirnya mengakibatkan ikan stres dan berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan ikan Platydoras yang dipelihara dengan teknologi bioflok mengalami stres yang lebih tinggi sehingga kelangsungan hidupnya menjadi rendah,” bebernya.

Menurut Iis, karakter ikan hias yang biasanya dipelihara di air jernih dan sering diganti air cenderung tidak terlalu menyukai air yang keruh. Padahal, bioflok sendiri konsepnya tanpa ganti air dan memiliki kekeruhan yang tinggi. Dia menyarankan solusi untuk melakukan pergantian air tapi dengan waktu yang lama, yaitu dua minggu sekali sebanyak 30-50 persen.

“Saya menyarankan dua minggu sekali sebanyak 50 persen. Berbeda dengan pemeliharaan secara konvensional tiap hari 30 persen air yang diganti. Dengan bioflok, tidak perlu setiap hari air diganti, tetapi dua minggu sebanyak 30-50 persen konsep hemat airnya sudah terpenuhi,” jelasnya.
Iis mengatakan, untuk menilai sisi produktivitas tidak dapat dilihat dari jumlah kelangsungan hidup atau survival rate (SR) semata. Akan tetapi, juga harus dilihat dari segi peningkatan padat tebar yang dilakukan.

“SR-nya di atas 70 persen sementara di pembudidaya sekitar 80 persen. Menurut saya sudah bagus. Peningkatan padat tebar SR-nya mendekati 80 persen, memang belum bisa menyamai pembudidaya. Maka, solusinya adalah mengganti air dua minggu sekali atau juga flok-flok yang terlalu tinggi dibuang,” tandas dia. (*/c)

Komentar Anda