Beranda Berita Utama

Tragedi Rohingya Picu Terorisme

BERBAGI

JAKARTA–Memburuknya kondisi di Rakhine State, Myanmar Utara, tidak hanya mengundang simpati. Konflik yang mengakibatkan puluhan ribu warga Ro­hingya bermigrasi untuk menye­lamatkan diri pun mengusik kelompok-kelompok teroris untuk bergerak. Tidak terkecuali dari Indonesia.Pengamat terorisme Al Chaidar men­dapat informasi bahwa beberapa anggota kelompok teroris dari tanah air sudah ada yang bertolak ke Myanmar.

Al Chaidar menyampaikan bahwa kondisi di Rakhine State saat ini sangat mungkin dimanfaatkan oleh kelompok teroris untuk masuk Myanmar. Dia memastikan bahwa kondisi di Myanmar sudah cukup untuk memicu kelompok tersebut bergerak. Termasuk di antaranya dari Indonesia. ”Sudah ada (anggota kelompok teroris dari Indonesia) yang berangkat,” ungkap dia kemarin (4/9).

Informasi berkaitan dengan hal itu memang masih minim. Namun, Al Chaidar mengungkapkan, beberapa faktor yang mendorong kelompok teroris dari Indonesia bergerak. Selain berbagai informasi yang mereka terima dari media massa dalam dan luar negeri, ada perintah dari kelompok teroris dari luar Indonesia. ”Perintah dari Al Qaeda Yaman dan Al Qaeda India,” terang dia. Perintah tersebut masuk melalui jejaring kelompok teroris dalam negeri.

Atas dorongan tersebut, mereka bergerak. Memang tidak dalam jumlah besar. Menurut dia, jumlah anggota kelompok teroris yang sudah bergerak dari Indonesia ke Myanmar masih di bawah sepuluh orang. Namun, mereka juga dibantu dengan kelompok serupa dari luar negeri. ”Masih sedikit. Belum jelas berapa (jumlah anggota kelompok teroris yang berangkat ke Myanmar),” imbuhnya.

Yang pasti, seruan dari Al Qaeda Yaman dan Al Qaeda India langsung direspons oleh kelompok teroris di tanah air. Dengan bantuan kelompok serupa dari Bangladesh, anggota kelompok teroris dari Indonesia masuk Myanmar. ”Ada guide dari Bangladesh,” ujarnya. Mereka yang memberi petunjuk agar anggota kelompok teroris dari Indonesia bisa masuk Myanmar. ”Lewat jalur laut,” tambah dia.

Meski dijaga oleh otoritas setempat, jalur laut dianggap paling aman oleh kelompok teroris masuk Myanmar. Dengan perkembangan yang terjadi di Rakhine State, sambung Al Chaidar, bukan tidak mungkin gelombang pengiriman anggota oleh kelompok teroris dari Indonesia terus berlanjut. Bahkan, bisa berpotensi semakin besar. ”Ya, mungkin juga (dalam jumlah besar),” kata dia.

Berdasar informasi yang diterima oleh Al Chaidar, denyut pergerakan kelompok teroris di Asia khususnya Asia Tenggara memang tidak pernah putus. Mereka kerap mencari kesempatan untuk masuk. Apalagi setelah geliat di Timur Tengah terus diserbu hingga mereka tersudut. Konflik di Marawi City, Mindanao, Filipina adalah bukti nyata. Tidak heran, begitu terjadi gesekan di Rakhine State, mereka pun bergerak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi bertemu dengan State Counsellor Myanmar Aung San Suu Kyi untuk membahas krisis kemanusiaan di Rakhine State, kemarin (4/9). Dalam pertemuan tersebut, Retno menyampaikan usulan Indonesia yang disebut Formula 4+1 untuk Rakhine State.

Empat elemen ini terdiri atas mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State, tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan.

”Sedangkan satu elemen lainnya adalah pentingnya agar rekomendasi Laporan Komisi Penasihat untuk Rakhine State yang dipimpin oleh Kofi Annan dapat segera diimplementasikan,” kata Retno melalui keterangan resmi.

Retno mengatakan, pada pertemuan tersebut juga dibahas lebih mendalam mengenai penyaluran bantuan kemanusiaan. Pada pertemuan itu juga disepakati bahwa penyaluran bantuan kemanusiaan dilakukan oleh Pemerintah Myanmar dengan melibatkan Palang Merah Internasional (ICRC ) dan negara lain. Termasuk Indonesia dan negara ASEAN lainnya.

Retno juga menyampaikan kepedulian dan komitmen tinggi LSM Kemanusiaan Indonesia terhadap Myanmar. Yakni dengan meluncurkan Aliansi Kemanu­siaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM). Aliansi yang terdiri atas 11 organisasi kemanusiaan memprioritaskan bantuannya pada empat hal. Yaitu pendidikan, kesehatan, livelihood atau ekonomi, dan relief.

”Saya mengharapkan agar Pemerintah Myanmar dapat melanjutkan pemberian akses kepada AKIM karena selama ini telah bersama Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan beberapa program,” tutur Retno.(and/syn/byu/lyn)

Komentar Anda