Beranda Berita Utama

Keluarga Tersangka: AM Bela Diri

FOTO KANAN: Kakak kandung tersangka, Siti Nuraini (tengah) memberi keterangan pada pewarta di Mapolres Bogor, Senin (4/9). Foto insert, almarhumah Indria Kameswari semasa hidup.

BOGOR–Terungkap sudah misteri pembunuhan Indria Kameswari (38), PNS di Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido Bogor, Jumat (1/9) lalu. Seperti dugaan banyak orang, algojo pencabut nyawa Indria, tak lain adalah suaminya sendiri, Abdul Malik Azis alias AM (39).

[ihc-hide-content ihc_mb_type=”block” ihc_mb_who=”unreg” ihc_mb_template=”3″ ]

Polisi menangkap Abdul di Batam, dua hari pascaperistiwa pembunuhan, Minggu (3/9). Informasi yang dihimpun, Polres Bogor bekerja sama dengan BNN mengejar AM hingga ke luar Jawa. Tersangka akhirnya dibekuk di rumah kenalannya di Batam.

“Ditangkap di kediaman kenalannya. Dia tidak melawan, pasrah saja,” ujar Dirkrimum Polda Jawa Barat Kombes Umar S Fana kepada pewarta. Umar mengatakan, polisi masih mendalami modus AM membunuh istrinya sendiri. Termasuk mengumpulkan alat bukti tambahan. “Modusnya belum terkuak,” jelas Umar.

Kepada polisi, kata Umar, keterangan AM kerap berubah-ubah. Kadang mengakui membunuh istrinya dengan tidak sengaja, dan kadang mengakui membunuh istrinya karena pertengkaran.

“Kadang-kadang dibilang apa lagi, berubah lagi. Jadi, kita belum BAP tersangka, yang penting sekarang dibawa pulang dulu ke Bogor,” katanya.
Sementara itu, penyidik Polres Bogor hingga kemarin masih menunggu hasil visum jasad korban untuk memastikan penyebab kematian. Kabar awal, ada luka terbuka di punggung pegawai BNN itu saat ditemukan tewas di kontrakannya di Cijeruk, Kabupaten Bogor. “Hasil VER (visum et repertum) belum keluar,” kata Kapolres Bogor AKBP AM Dicky Pastika Gading.

Dicky meminta masyarakat bersabar karena penyidik membutuhkan waktu untuk mengumpulkan bukti-bukti yang ada. “Belum ada laporan lagi dari anggota. Kala sudah ada perkembangan, nanti kasih kesempatan dulu mereka bekerja. Jangan kita ganggu. Mengumpulkan alat bukti kan tidak gampang,” ungkapnya.
Di bagian lain, keluarga tersangka mengatakan bahwa AM tidak memiliki niat membunuh istrinya, Indria Kameswari (38). Keluarga menduga Abdul hanya membela diri sesaat sebelum kejadian.

“Saya mohon maaf, atas nama keluarga mohon maaf kepada BNN, dan ini tolong, dan ini mohon dilakukan seadil-adilnya. Jangan didahulukan masalah korps, karena ini kan masalah pribadi, antara Pak Malik dan Indria,” kata kakak kandung tersangka, Siti Nuraini, kepada pewarta di Mapolres Bogor, Kecamatan Cibinong, Senin (4/9).

Didampingi dua kerabatnya, Siti mendatangi markas Polres Bogor untuk meminta agar polisi menegakkan hukum yang berlaku seadil-adilnya. Sebab, keluarga menuding Indria sering kali melakukan penganiayaan terhadap tersangka. Siti bahkan menyebut Indria kerap mengancam akan menembak karena dirinya pegawai BNN dan memiliki senjata. “Kami mohon maaf kepada BNN jika adik kami pelakunya, tetapi adik kami selalu dianiaya oleh korban,’’ ungkap Siti.

Pihak keluarga juga membawa sejumlah barang bukti terkait penganiayaan yang sering dilakukan korban kepada tersangka. Di antaranya, video pertengkaran pasangan suami istri itu jelang kematian Indria. Di dalam video berdurasi satu menit itu, terdengar suara teriakan dan caci maki seorang perempuan kepada lelaki yang diduga Indria dan AM.

“Istrinya mendesak Aziz menjual tanah milik orang tua untuk membeli mobil. Ini bukti surat kuasa menjual tanah orang tua kami, ini desakan Indria,’’ ungkap Siti.

Kisah ini sudah berlangsung lama. Menurut Siti, sejak menikah lima tahun lalu, pasutri itu selalu bertengkar. Namun, ketika keluarga menyarankan untuk bercerai, AM memilih bertahan. “Buntutnya Agustus lalu, AM dianiaya hingga luka parah di bagian kepala. Ini bukti rekam medis di rumah sakit,’’ ungkap Siti.

Menurut Siti, psikologis adiknya itu berubah sejak menikah dengan almarhumah. Adiknya itu merupakan suami kelima Indria setelah berstatus janda. Kesehariannya, tersangka bekerja sebagai kontraktor perumahan. “Adik saya itu duda satu kali, kalau Ibu Indria janda empat kali,” ungkapnya.

Siti mengaku terakhir kali berkomunikasi, sehari sebelum peristiwa pembunuhan tersebut, atau pada Kamis (31/8/2017) di rumah keluarga di Jalan Warakas 1, Jakarta Utara. Saat itu Abdul datang untuk meminta sertifikat rumah untuk suatu keperluan. “Tiba-tiba ada polisi datang dan kasih tahu kalau Indria meninggal, dan pelakunya katanya suaminya, adik saya,” tukasnya.(rp2/don/c)

[/ihc-hide-content]

Baca Juga