Beranda Berita Utama

Militer Penggal Kepala Anak-anak, 73 Ribu Mengungsi, 400 Nyawa Melayang

BERBAGI
TERSIKSA: Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di sawah berlumpur setelah melewati perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh, kemarin (3/9).

COX’S BAZAR–Inggris geram terhadap Aung San Suu Kyi. Ke­marin (3/9), Menteri Luar Negeri Bo­ris Johnson mengecam keras re­presi berulang terhadap etnis Ro­hingya yang melahirkan eksodus dan krisis kemanusiaan anyar di Myanmar. Dia juga mendesak Suu Kyi segera beraksi.

”Kebijakan yang saat ini Burma (nama lain Myanmar) terapkan terhadap Rohingya hanya akan mencoreng reputasi mereka sendiri,” kata Johnson seperti dilansir The Independent. Tetap derasnya arus eksodus Rohingya dari Myanmar ke Bangladesh membuat Inggris gemas. Melalui Johnson, London meminta Suu Kyi segera bersikap. Sebagai pemimpin negara, tidak selayaknya Suu Kyi diam saja.

Hingga kemarin, jumlah warga Rohingya yang menyeberang ke Bangladesh sudah mencapai 73.000 orang. Sebagian besar di antaranya nekat berjalan kaki ke perbatasan Bangladesh. Beruntung, aparat yang berjaga di perbatasan baik hati. Meskipun Dhaka memerintahkan polisi dan penjaga keamanan menolak kehadiran kaum Rohingya, pada praktiknya para personel di perbatasan lebih memakai hati.

Selain puluhan ribu pengungsi Rohingya yang sudah berhasil masuk Bangladesh, masih ada sekitar 20.000 warga lainnya yang terjebak di sekitar Sungai Naf. Sungai besar yang terletak di perbatasan Myanmar dan Bangladesh itu berarus deras dan menjadi habitat ular berbisa. Phil Robertson, wakil direktur Human Rights Watch untuk Asia, menyebut ancaman kematian karena tenggelam dan gigitan ular sangat tinggi.

Kemarin, sejumlah warga Rohingya yang berada di Bangladesh menceritakan penderitaan mereka di tanah kelahiran. Abdul Rahman, pria 41 tahun asal Desa Chut Pyin di Negara Bagian Rakhine, mengaku beruntung karena masih bisa hidup setelah terperangkap selama sekitar lima jam dalam pertempuran sengit. ”Mereka menangkap dan menyekap kami di gubuk bambu yang kemudian dibakar,” katanya.

Rahman mengaku kehilangan saudara laki-lakinya dalam pertempuran sengit yang berakhir dengan kebakaran hebat tersebut. ”Tentara Myanmar membakar saudara saya itu bersama beberapa pria kaum kami yang sebelumnya mereka tangkap. Saya juga menemukan beberapa kerabat sudah menjadi mayat di lahan terbuka. Ada luka tembak dan bekas sayatan pada tubuh mereka,” ungkapnya sambil menerawang.

Yang lebih parah lagi adalah kondisi anak-anak. Menurut Rahman, dua keponakan lelakinya tewas dengan kondisi sangat mengenaskan. ”Kepala keponakan-keponakan saya terpenggal dari badan mereka. Yang satu berusia enam tahun dan yang lain berusia sembilan tahun,” katanya.

Tentara Myanmar yang merazia Rakhine memang brutal. Mereka tidak hanya membakar hidup-hidup para pria Rohingya, tapi juga menembaki kaum hawa dan memenggal kepala anak-anak. Pernyataan yang senada dengan Rahman dipaparkan oleh Sultan Ahmed. ”Saya menyaksikan beberapa mayat tanpa kepala di desa kami. Karena itu, saat tentara mendekati rumah saya, saya bersembunyi tanpa suara,” ujar Ahmed.

Sayangnya, laporan-laporan itu tidak bisa dikonfirmasikan kebenarannya. Sebab, akses ke Rakhine sangat terbatas. Jika tadinya Myanmar masih meng­izin­kan staf PBB atau sukarelawan masuk provinsi termiskin itu, kini tidak lagi. Gara-garanya adalah skandal biskuit World Food Programme (WFP) yang dikasuskan oleh Suu Kyi pekan lalu. Kini, seluruh distribusi bantuan makanan dihentikan.

Sementara itu, Presiden Joko Widodo semalam menyampaikan sikap resmi Indonesia atas krisis yang terjadi di Rakhine State. ’’Kita menyesalkan aksi kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar. Perlu sebuah aksi nyata, bukan hanya pernyataan kecaman-kecaman,’’ ujar Presiden di Istana Merdeka.(byu/AFP/Reuters/theindependent/BBC/hep)

Komentar Anda