Beranda Female

Bantu Ibu-ibu muda Belajar Memasak lewat Cooking Class

BERBAGI

Cooking class identik dengan belajar memasak. Padahal, kelas memasak tidak hanya diperlukan untuk orang-orang yang belum bisa memasak, namun juga untuk yang sudah bisa memasak. Karena berinovasi dengan makanan yang kita konsumsi, diperlukan agar tidak bosan menyajikan makanan untuk keluarga. Cooking class juga sangat membantu untuk para ibu muda yang baru menikah.

Berawal dari hobi memasak, Atha Astari yang akrab disapa Atha membuka bisnis katering dan pojok oleh-oleh yang menjual berbagai macam makanan, yang diolah dari butternut squash. Melihat masih banyaknya ibu-ibu yang belum paham cara memasak masakan tertentu, menggugah Atha untuk membuka kelas memasak untuk ibu-ibu yang ingin belajar dan Atha juga membantu para UKM belajar memasak.

Kelas memasak diadakan setiap Senin hingga Sabtu, khusus Sabtu dilakukan di Jakarta. Jumlah anggota yang mengikuti cooking class setiap harinya dibatasi sebanyak 15 orang agar bisa lebih fokus dalam menyerap ilmu yang diberikan.

Atha menyosialisasi­kan kelas me­masaknya melalui media sosial seperti grup WhatsApp. “Sasarannya adalah ibu-ibu rumah tangga, terutama ibu-ibu muda yang ingin belajar masak. Untuk Sabtu biasanya banyak yang datang pekerja kantoran,” tutur Atha Lestari, selaku guru yang mengajar dalam kelas memasak.

Cooking class dilakukan di kediaman Atha di Villa Bogor Indah. Peserta rutin yang mengikuti berasal dari ibu-ibu yang berada di lingkungan rumah Atha. Namun, banyak juga yang datang dari luar.

Satu peserta dikenakan biaya Rp150.000 untuk dibelikan bahan baku, peserta juga mendapatkan makan siang, snack dan hasil masakan bisa dibawa pulang. Untuk jasa kelas memasak ini gratis.

Dalam proses cooking class, Atha tidak memberikan fotokopi resep. Peserta harus mencatat sendiri agar lebih mudah mengingat resep yang sudah diberikan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdapat tiga peserta.

Atha mempraktikkan cara buat masakan dan peserta bisa langsung praktik. “Saya ingin mengamalkan ilmu yang saya punya, karena saya hobi masak jadi saya ingin mengamalkan ilmu agar bermanfaat untuk ibu-ibu, yang ingin bisa memasak dan agar para ibu tidak menjadi konsumtif. Perempuan juga bisa produktif bukan untuk melebihi laki-laki namun untuk bisa membantu perekonomian keluarga,” tuturnya.

Masakan yang paling banyak diminati para ibu adalah ayam kodok, karena harga ayam kodok termasuk mahal dan sulit pembuatannya. Ayam kodok itu merupakan ayam utuh yang dipisahkan kulit dari daging dan tulangnya, ayam juga harus khusus dalam penyembelihannya, tidak boleh terlalu matang agar kulit tidak mudah sobek, kemudian ayam tersebut diolah.(cr6/c)

Komentar Anda