Beranda Berita Utama

Budayakan Silaturahmi Lintas Agama

SILATURAHMI: Para pemuka berbagai agama dan tokoh Bogor saat bersilaturahmi di kediaman Ketua MUI Kota Bogor, kemarin (1/9).KELIK/RADAR BOGOR

BOGOR–Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor KH Mustofa Abdullah Bin Nuh siang kemarin menerima kunjungan silaturahmi para pemuka berbagai agama di Kota Bogor, di kediamannya. “Ini dalam kaitan Lebaran Idul Adha,” katanya. Para pemuka agama juga menyampaikan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1438 Hijriah kepada umat Islam di Kota Bogor melalui MUI.

Ustaz Toto -sapaan akrabnya- mengaku seperti mendapat kejutan dikunjungi oleh pemuka agama di momen hari besar keagaaman. Silaturahmi itu merupakan wujud kepedulian tokoh-tokoh masyarakat terhadap kebersamaan di Bogor. Toto berharap silaturahmi lintas agama berjalan rutin di tahun-tahun mendatang.

“Isu soal keagamaan memang masih sangat sensitif, sebab itu, masyarakat perlu diberikan pemahaman secara bertahap pun pelan-pelan. Membuyarkan sekat yang merugikan, sangat merugikan. Allah sudah menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa, beraneka agama, dan Indonesia ini adalah miniatur hal-hal seperti itu,” tukasnya.

Turut dalam rombongan, Pendeta Aria mewakili Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kota Bogor, Jimmy Charter perwakilan PGB Bangau Putih, Guntur Santoso perwakilan umat Buddha Kota Bogor dari Vihara Dhanagun, Meilany manajer BTN Prioritas, Niko Chang (mualaf), Moko, Timbul dan Daisy mewakili Gereja Protestan Pasundan, CEO Radar Bogor Group Hazairin Sitepu, Ni Luh Puspasari mewakili Pura Parahyangan Agung Jagatkarta Gn Salak, Nana mewakili umat Majelis gg Kembang Cibuluh, serta Romo Endro dari Gereja Kathedral Bogor, dan Pasiter Kodim 0606 Kapten Rachmat.

Ustaz Toto menjelaskan, diperlukan komunikasi, kedewasaan, kearifan dan keyakinan bahwa Tuhan memang menciptakan manusia berbeda-beda. Dalam Islam, kemerdekaan berpendapat sangat didukung dan diperbolehkan.

Umat Islam, kata Toto, paling menghargai kemerdekaan berpendapat melebihi umat lain, bangsa lain, bahkan melebihi demokrasi sekalipun. “Tapi dengan tiga syarat. Pertama, Anda tidak boleh sembarang berpendapat. Kedua, jangan merasa benar sendiri. Dan ketiga, jangan memaksakan pendapat kepada orang lain,” pungkasnya.

Pendeta Gereja Katedral Kota Bogor, Romo Endro Susanto, turut dalam silaturahmi itu. Dia sempat menggambarkan, ibarat sebuah rumah, jika warnanya hanya putih tentu akan terlihat kurang bagus. Selain itu, kata dia, hidup pada dasarnya adalah tentang perbedaan. “Maka perbedaan jangan dijadikan kendala, itu saja,” tuturnya.

Ke depannya, para pemuka agama berkomitmen melakukan hal serupa dengan bertandang ke tokoh agama lain yang sedang merayakan momen hari besar keagamaan. “Saat Idul Adha atau Idul Fitri, datang ke saudara muslim, saat Waisak datang ke agama Buddha, Natal juga. Kalau itu semua dibangun, saya rasa akan indah dan menyejukkan bagi Kota Bogor,” cetusnya.(wil/c)

Baca Juga