Beranda Ekonomi

Butuh Enam Bulan Turunkan Bunga

BERBAGI

JAKARTA– Penurunan bunga acuan atau Bank Indonesia 7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) dari 4,75 persen menjadi 4,5 persen atau 25 basis poin (bps) belum terlalu berdampak pada penurunan tingkat suku bunga kredit. Setidaknya, hingga akhir tahun ini, tingkat suku bunga belum banyak bergeser turun.
Kemarin (28/8), Gubernur BI Agus Martowardojo menemui presiden untuk berkoordinasi mengenai kebijakan moneter. Hadir pula Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso. Agus menuturkan, yang mungkin bisa segera menyesuaikan penurunan tersebut adalah suku bunga simpanan.

Sementara itu, dari sisi kredit, penurunannya bakal lebih lambat. ’’Biasanya, transmisi itu bisa terlaksana dua sampai tiga kuartal,’’ terangnya di kompleks Istana Kepresidenan kemarin. Dengan hitungan tersebut, tingkat bunga kredit baru akan bisa mengikuti paling cepat enam bulan lagi atau awal 2018.

Dalam diskusi dengan presiden, disinggung bahwa suku bunga kredit untuk segmen korporasi dan perumahan sudah bisa turun menjadi satu digit. Namun, dia mengakui bahwa kredit UMKM dan modal kerja masih berkisar 12 persen. ’’Bulan Juli itu ada penurunan, tapi memang agak pelan,’’ lanjutnya.

Presiden, lanjut Agus, tidak banyak berkomentar mengenai penurunan BI-7DRRR. Presiden hanya mengingatkan soal deposito. ’’Kami upayakan agar tidak ada deposan yang saling bersaing untuk meminta bunga yang tinggi,’’ tutur banker senior tersebut. Sebab, hal itu bisa menyulitkan bunga kredit untuk turun.

Mengenai pertumbuhan kredit, tahun ini BI merevisi target dari 10–12 persen menjadi 8–10 persen secara year-on-year (yoy). Juli lalu, pertumbuhan kredit memang mencapai 8 persen (yoy). Namun, bila dihitung year-to-date (ytd), pertumbuhannya hanya 3,1 persen. Meski begitu, dia masih berharap pertumbuhan kredit membaik pada sisa semester II tahun ini.

Mengenai penyebab lambatnya kredit, Agus menduga perbankan memiliki kecenderungan kredit bermasalah yang meningkat. ’’Kredit bermasalah pada awal 2017 itu 2,4 persen. Kemudian, naik ke 3 persen atau 2,9 persen,’’ terang banker 61 tahun tersebut. Meskipun demikian, dia melapor kepada presiden bahwa perlambatan itu masih berada dalam range yang tidak mengkhawatirkan.

Dugaan penyebab lainnya adalah banyaknya kalangan pengusaha yang masih wait and see. Mereka ingin melihat perkembangan harga komoditas untuk menentukan langkah selanjutnya. Meski demikian, hal sebaliknya terjadi di pasar modal. Selama Januari hingga Juli, pasar modal tumbuh sekitar Rp 160 triliun. Dari jumlah tersebut, 55 persennya berbentuk obligasi korporasi.

Di sisi lain, Ketua OJK Wimboh Santoso menuturkan, penurunan suku bunga kredit sangat dipengaruhi bunga deposito. Yang jelas, jangan sampai penurunan suku bunga mengganggu industri perbankan. Para deposan perlu memahami hal itu.

Menurut dia, para deposan yang menilai bunga deposito terlampau rendah bisa beralih ke investasi yang memberikan return lebih tinggi. Apakah ke depan ditetapkan pemberian batas atas suku bunga (caping), Wimboh mengisyaratkan belum perlu. ’’Suku bunga deposito masih average 6 persen, masih oke,’’ terangnya. Caping baru dilakukan bila suku bunga menjadi ekstrem.

Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan, sejak tahun lalu, perbankan berupaya menurunkan suku bunga. Baik bunga kredit maupun simpanan. Namun, penurunan suku bunga simpanan biasanya lebih dulu dilakukan untuk kemudian menyesuaikan dengan bunga kredit. Dengan begitu, biaya dana (cost of fund) lebih terukur dalam rencana bisnis bank (RBB).

Hal yang paling memungkinkan, lanjut dia, adalah penurunan bunga kredit pemilikan rumah (KPR). ’’Bunga KPR dalam jangka panjang bisa turun sampai single-digit. Tapi, memang untuk KPR yang special rate bank sudah sempat kasih bunga rendah. Ada yang 6–7 persen,’’ jelas pria yang kerap disapa Tiko itu. Bunga KPR rata-rata masih berada di kisaran 13 persen.

Senada dengan Tiko, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa perbankan sudah memberikan special rate KPR sampai 6 persen. Kalaupun bunga acuan turun, masih dibutuhkan waktu beberapa bulan agar bunga KPR turun secara keseluruhan sekaligus untuk menurunkan bunga kredit produktif. Sebab, perbankan masih perlu memperhatikan sektor-sektor yang tepat untuk diberi bunga yang lebih rendah.

Soal pertumbuhan kredit, Jahja meramal capaian BCA tahun ini berada di level 8 persen. ’’Saya kira tahun ini single-digit. Itu inline (sejalan) dengan perubahan proyeksi dari BI,’’ ujarnya.(byu/rin/c18/sof)

Komentar Anda