Beranda Metropolis

Ukur Bakat di Unjuk Kabisa

BERBAGI
UNJUK BAKAT: Salah satu mojangmenampilkan salah satu kelebihannya dalam Unjuk Kabisa Pasanggiri Mojang Jajaka Kota Bogor 2017, di lobby depan Mal BTM, kemarin (23/8).

BOGOR–Salah satu babak penting dalam penjurian Mojang Jajaka (Moka) Kota Bogor 2017 telah dilalui. Kemarin (23/8), ke-15 pasangan Moka tampil dalam Unjuk Kabisa di Mal BTM. Mereka tidak hanya ditantang untuk unjuk bakat, tapi juga bisa mempromosikan seni dan budaya Kota Bogor.

Saat unjuk bakat, masing-masing kontestan menampilkan kemampuannya selain berlenggak-lenggok di atas panggung. Karena tahun ini finalis berasal dari berbagai latar belakang, skill dan bakat yang mereka tunjukkan pun semakin bervariasi. Tak hanya menyanyi dan menari, yang masih menjadi pilihan utama sebagian besar finalis. Ada yang berpuisi, membawakan monolog, memainkan alat musik, sampai menunjukkan gerakan pencak silat.

Wakil Wali Kota Usmar Hariman mengatakan, olah vokal dan gerak masih menjadi keahlian yang banyak dibawakan Moka. Hanya memang muatan lokalnya harus ada. Seperti salah satu finalis yang membawakan puisi Sunda. Karena tidak semua pengunjung mengerti bahasa Sunda, maka kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

“Kayak yang nyanyi bahasa Inggris, tapi nyanyi berikutnya dibahasasundakan, diartikan. Artinya, tetap melestarikan budaya lokal. Kelebihannya bisa tersirat bahwa finalis memiliki kemampuan dua bahasa, minimal,” ujarnya.

Usmar mengatakan, dari identifikasi dan verifikasi finalis yang ada, potensi untuk menjuarai Mojang Jajaka tingkat Jawa Barat cukup tinggi. Di tahun 2015, Moka Kota Bogor sempat menjadi juara umum, dengan mojang yang menjadi juara I, lalu jajaka berada di peringkat harapan I. Namun di 2016, tak satu pun tempat diraih Moka Kota Bogor. Nah, di tahun 2017, potensi yang ada cukup untuk maju di Jawa Barat dan menjadi juara umum.

“Unjuk Kabisa ini salah satu sarana mereka menampilkan di muka umum, dilatih untuk tidak demam panggung, bisa berkomunikasi dengan masyarakat, ini kan uji coba. Uji publiknya di sini, nanti di tingkat Jawa Barat kan lebih bergengsi lagi,” bebernya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Shahlan Rasyidi menjelaskan, Unjuk Kabisa merupakan pertunjukan bakat yang dimiliki masing-masing finalis. “Yang penting anak-anak bisa menunjukkan kemampuannya. Unjuk Kabisa ini masuk dalam penilaian ke final nanti. Dari awal teknis penilaiannya, mulai bahasa Sunda, Inggris, pengetahuan umum, kepariwisataan, tata krama, etika, dan keber­samaannya,” jelas Shahlan.

Menurutnya, jika ada finalis yang memiliki penilaian bagus tetapi tidak memiliki etika, akan minus. Sebab, sambung Shahlan, Pasanggiri Mojang Jajaka pun dilihat dari etika, cara bergaul, dan bicara dengan teman sekalipun.(wil/c)

Komentar Anda