Beranda Metropolis

Kampung Ayam Ungkep, Destinasi Wisata Unik di Cibadak, Pernah Diborong Seribu Potong ke Pakistan

BERBAGI
TELATEN: M Alfan Cahyadi (kanan) didampingi Ketua RW 3 Pabuaran, Borai, saat memperlihatkan proses pembuatan ayam ungkep, kemarin (23/8).

Selain Kampung Berisik, Kelurahan Cibadak juga mempunyai kampung tematik lainnya. Adalah Kampung Ayam Ungkep yang berada di Kampung Pabuaran RW 3 Kelurahan Cibadak. Lebih dari 70 persen kepala keluarga (KK) di sana berprofesi sebagai produsen ayam ungkep. Profesi ini pun sudah ada sedari puluhan tahun silam.

Laporan: Wilda Wijayanti

Di balik masakan ayam goreng yang enak dan sering kita makan di rumah makan atau restoran, ternyata ada tangan dingin para produsen ayam ungkep di Kelurahan Cibadak. Dari tangan merekalah daging ayam dibumbui dengan pas.

Kemarin (23/8) wartawan koran ini pun berkesempatan melihat aktivitas mereka. Salah satunya, pengusaha ayam ungkep Muhammad Alfan Cahyadi (40). Dia mulai mengolah ayam ungkep dari pukul 15.00. Ayam-ayam segar yang didapatnya dari salah seorang peternak segera dipotongnya menjadi beberapa bagian, dibantu sang istri di dapur rumahnya di Kampung Pabuaran. Setiap harinya, rata-rata Alfan memproduksi lebih dari 50 ekor ayam.

Setelah selesai dipotong, ayam pun segera dimasak, diracik dengan bumbu rahasia berbahan dasar kunyit. Di atas wajan besar, potongan ayam-ayam tersebut pun diungkep atau direbus selama kurang lebih 90 menit hingga bumbu meresap ke bagian terdalam ayam.

Dirasa matang, ayam kemudian ditiriskan, didiamkan hingga keesokan harinya dijajakan ke pelanggannya yang kebanyakan berada di perumahan-perumahan ternama. Rutinitas ini sudah dilakukan Alfan selama 12 tahun lamanya. Dirinya hanyalah satu dari ratusan KK Kampung Pabuaran RW 3 yang juga berprofesi sebagai produsen ayam ungkep. Maka, tak heran jika kampung ini dijuluki Kampung Ayam Ungkep.

“Meski banyak yang menjadi produsen ayam ungkep, tapi masing-masing sudah ada langganannya. Kalau saya pribadi, selain ke perumahan, masukin juga ke dokter dan bidan-bidan di Pulo Armin. Produksinya rumahan, tapi sertifikat halalnya sudah ada,” kata Alfan kepada Radar Bogor.

Per potongnya, Alfan menjual dengan harga mulai Rp4.500 hingga Rp6.000. Dia menjamin usaha mereka tidak menggunakan bahan pengawet dan dijamin cita rasanya. Saking tersohornya, ayam ungkep buatan Alfan bahkan pernah dikirim hingga Pakistan. Tak tanggung-tanggung, 1.000 potong ia kirim.

“Pengemasannya ya beda, dipres lebih lama, dimasukin freezer. Sampai sana enggak perlu dihangatkan, langsung dimasak juga enggak masalah. Dari bumbu dan keempukan tetap sama, tidak berubah. Selain Pakistan, pernah juga kirim ke Sumbawa dan kota lainnya, rata-rata 50 potong,” urainya.

Kata Alfan, capek dan repot itu sudah pasti. Terlebih, dirinya tidak mempekerjakan pegawai untuk membantu. Hanya di beberapa momen tertentu, itu pun di bagian potong ayam saja. Lainnya, mulai dari meracik bumbu dan memasak, masih menjadi tugas ia dan sang istri.

“Resepnya bikin sendiri, pas di awal-awal itu sempat masak menggunakan kayu bakar. Memang lebih enak. Tapi kan lebih efisien pakai gas,” bebernya.

Bukan tanpa rintangan, jika harga ayam sedang melambung tinggi, Alfan harus memutar otak agar ayam ungkep buatannya tetap terjual habis meski sudah memiliki pelanggan tetap. “Harga ayam tinggi sempat ‘goyang’, dua tahun kemarin, tetap naekin harga sambil terus menjalin komunikasi sama pelanggan untuk tetap setia membeli,” jelasnya.

Soal julukan Kampung Ayam Ungkep yang ambil bagian dalam Kampung Tematik, Ketua RW 3, Nasrudin atau biasa disapa Boray, mengaku optimis wilayahnya mampu keluar sebagai pemenang. Sebab, dengan begitu, otomatis usaha yang dijalani warganya akan semakin bagus juga bisa menjadi daya tarik wisata lainnya.
“Alhamdulillah, taraf kehidupan warga di RW 3 cukup baik. Terbukti menjelang Idul Adha, di satu RT ada tiga sapi yang dikurbankan. Mudah-mudahan ke depannya lebih bagus dan tidak lagi ada pengangguran,” tandasnya. (*/c)

Komentar Anda