Beranda Berita Utama

Arus Duit First Travel Tembus Rp4 TArus Duit First Travel Tembus Rp4 T

BERBAGI
EKSPOSE: Kiki Hasibuan saat dipamerkan oleh Bareskrim Mabes Polri di Gedung KKP, Jakarta, Selasa (22/8/17). Annisa Hasibuan, Andika Surachman, dan Kiki Hasibuan dihadirkan saat press release pengungkapan kasus penipuan calon jamaah umrah PT First Travel.

JAKARTA–Besarnya dana jamaah yang masuk ke rekening First Travel benar-benar di luar dugaan. Setelah sempat disebut uang jamaah yang diputar sana-sini mencapai Rp1 triliun, Bareskrim mendeteksi arus kas 30 rekening First Travel mencapai Rp4 triliun. Hingga saat ini, hanya sebagian kecil titik akhir aliran dana First Travel yang ditemukan.

Kanit V Subdit V Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim AKBP M Rivai Arvan menuturkan, memang awal penelusuran transasksi keuangan itu diprediksi menyentuh triliunan. Namun, begitu semua rekening diketahui, jumlahnya total Rp4 triliun sekian.

”Lebih dari Rp4 triliun, ada komanya,” jelasnya ditemui di lobi Bareskrim kemarin.  Namun, perlu dipahami bahwa jejak uang Rp4 triliun lebih itu hanya arus kas. Bukan uang yang masih tersimpan dalam rekening. Fungsi mengetahui arus kas ini tentunya untuk melihat aliran dana tersebut. ”Ke mana saja uangnya, menjadi aset atau semacamnya,” paparnya.

Dia menjelaskan, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa mendeteksi titik akhir aliran dana First Travel tersebut. Yang pasti, saat ini baru ada beberapa aset yang didapatkan. Lima mobil hingga beberapa tanah dan bangunan. ”Belum semuanya,” jelasnya.

Untuk aliran dana keluar negeri, kemungkinan itu cukup besar. Saat ini Pusat Pelaporan dan Ana­lisa Transaksi Keuangan sedang mendeteksinya. ”Itu kewenangan PPATK,” paparnya.

Salah satu uang yang mengalir keluar negeri itu adalah untuk membeli saham sebuah restoran bernama Nusa Dua. Brand restoran ini sangat terkenal di Inggris. ”Saham yang dibeli mencapai 40 persen dengan nilai 70 ribu pounsterling,” terangnya.

Rumitnya, ternyata saham restoran itu sudah berpindah tangan pada perusahaan lainnya. Dia digantikan dengan sebuah apartemen yang nilainya jauh lebih rendah. ”Entah berpindah tangan ke siapa saham ini,” paparnya.

Untuk apartemen tersebut, ternyata juga telah berpindah tangan. Berpindahnya pada sebuah perusahaan travel Kanomas. ”Namun, saham dan apartemen masih atas nama Andika dan Anniesa. Hanya penguasaan di orang lain karena keduanya utang,” ujarnya.

Dia mengatakan, akan diupayakan penyitaan terhadap aset-aset tersebut. Tapi, kalau ada yang bertanya soal gugatan perdata tentunya itu bukan kewenangan Bareskrim. ”Silakan gugat perdata, kami tida mengurusi itu,” paparnya.

Yang juga penting, mulai Jumat depan akan dilakukan pengembalian paspor jamaah. Nanti teknisnya, jamaah tidak perlu langsung ke Crisis Center, melainkan dari Crisis Center yang akan menghubungi secara langsung. ”Kan mereka juga meninggalkan nomor telepon, nanti dihubungi satu per satu,” tuturnya.

Bagian lain, Agen First Travel DH mengatakan bahwa sebe­narnya First Travel ini meman­faatkan izin resmi dari Kemenag dalam melakukan penipuan. Masyarakat mengetahui First Travel mendapatkan dua kali perpanjangan izin. ”Dua kali perpanjangan ini bagi masyarakat adalah perusahaan ini kredibel,” terangnya.

Namun, kenyataannya justru perusahaan berizin ini melakukan penipuan. Maka, seharusnya Kemenag juga ikut bertanggung jawab sebagai lembaga pengawas. ”Tanggung jawab mereka tidak hanya berhenti pada sekadar mencabut izin, tapi lebih,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi soal First Travel yang memanfaatkan dua kali perpanjangan izin Kemenag, AKBP Rivai Irvan mengakui bahwa lembaga pemberi izin memang seha­rusnya memunculkan tanggung jawab pengawasan. ”Namun, tentunya harusnya Kemenag yang ditanya, bagaimana mereka,” paparnya. (idr/wan/rin)

Komentar Anda