Beranda Berita Utama

Kurikulum ’’Gagal’’ Kembangkan Mindset

BERBAGI

BOGOR–Ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Kurikulum ramuan pemerintah, tampaknya, belum mampu membuat para milenial memimpikan hal-hal besar. Hal itu menurut psikolog anak dari Rumah Cinta Bogor, Retno Lelyani Dewi, dalam membaca survei yang digelar Radar Bogor selama perhelatan lomba kebersihan tingkat sekolah, beberapa waktu lalu.

Kepada ratusan pelajar SD, SMP, dan SMA, Radar Bogor melempar dua pertanyaan sederhana. Yakni, apa cita-cita mereka setelah lulus sekolah, dan siapa tokoh idola mereka saat ini. Soal cita-cita, sebanyak 21 dari 95 siswa memilih profesi dokter. Sebanyak 18 lainnya memilih guru, dan sisanya memilih menjadi tentara polisi, pengusaha, dan lain-lain.

“Inilah, ada yang salah dari sistem pendidikan yang tidak menjelaskan sejak awal mengenai berbagai jenis profesi. Akibatnya, anak lebih cenderung memilih cita-cita berdasarkan apa yang sering orang tua katakan, contohnya adalah dokter. Kita kurang mengenalkan berbagai macam profesi yang saling melengkapi,” ujar Retno.

Survei Radar Bogor juga meminta para pelajar menyebut idola mereka dari beragam latar belakang. Pada tokoh agama, sebanyak delapan dari 42 siswa memilih nama Dedeh Rosidah atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mamah Dedeh. Menurut Retno, hal tersebut menunjukkan anak-anak mengenal tokoh hanya melalui media massa. Pengaruhnya besar dari frekuensi tokoh tersebut muncul di televisi.

Kemudian untuk tokoh nasional, yang paling banyak dipilih adalah Ir. Soekarno dan R.A Kartini. Pada pilihan ini Retno memberi apresiasi. Menurutnya, cukup luar biasa karena pelajar mengingat dan mengenal sejarah Indonesia.

Nah, soal sosok artis idola, banyak pelajar yang menuliskan nama Raffi Ahmad. Retno menilai hal itu lagi-lagi dipengaruhi frekuensi anak-anak menonton televisi.

Terpisah, sosiolog dari Universitas Indonesia Geger Riyanto mengatakan bahwa hasil survei Radar Bogor memperlihatkan hal yang tak berubah dalam sistem pendidikan. Sejak era 70-80-an, dokter dan guru menjadi pilihan cita-cita anak sekolah, karena dianggap bisa memberikan kepastian finansial. Dokter dianggap mempunyai penghasilan yang besar sementara guru mempunyai kepastian.

Di sisi lain, munculnya Ir. Soekarno sebagai tokoh panutan juga menunjukkan adanya nilai yang masih bertahan kuat di masyarakat. Pendiri bangsa masih dianggap sebagai seseorang yang patut diteladani.

Tetapi, munculnya nama Mamah Dedeh sebagai panutan memperlihatkan perubahan yang cukup berarti. Ini menunjukkan bahwa anak-anak kini mengambil bukan hanya tokoh panutan moral sebagai teladannya tetapi juga mereka yang terangkat berkat kepopuleran di media elektronik.(cr6/c)

Komentar Anda