Beranda Berita Utama

Lahap Makan Ubi Lauk Udang Selingkuh

BERBAGI
PEGANG TEGUH ADAT: Lusi Lokobal (kiiri) dan anak perempuannya Lias Lanni bersama wartawan di depan pintu masuk honai yang berada Distrik Asolokobal, Kampung Yapema, Kabupaten Jayawijaya. FOTO: Guslan Gumilang/Jawa Pos

Masyarakat suku tradisional Wamena masih memegang teguh adat istiadat meski sebagian sudah tersentuh modernisasi. Bagi mereka, tradisi lokal adalah harga diri yang harus dipertahankan.

FERLYNDA PUTRI, Wamena

Perkenalan dengan Lusi Lakobal membawa saya merasakan sehari-sehari menjadi masyarakat Wamena. Tepatnya di Distrik Asolokobal, sekitar 45 menit bermobil dari Kota Wamena.

Lusi merupakan istri keempat di antara tujuh istri Moke Lanni, kepala suku di Distrik Asolokobal. Sehari-hari dia bekerja di kebun dan bersama istri lain kepala suku bertugas memasak dan mengurus rumah adat Papua atau honai. Sesekali dia ke Kota Wamena untuk membantu salah seorang dokter.

Sepanjang perjalanan, jalan terasa bergelombang tak rata. Sebagian lagi jalan tanah atau batu. Mobil harus pelan-pelan. Selain jalan yang tidak bagus, takut babi lewat. Bisa celaka ketika ada babi yang tertabrak. Ganti ruginya mahal sekali. Untuk babi betina, dihitung per puting susu. Bisa sampai Rp30 jutaan.

Tak terasa mobil semakin masuk ke pedalaman. Jalan aspal sudah jauh di belakang. Kanan dan kiri ilalang. Satu dua rumah dilewati. Di depan jalan sudah buntu. Ada pagar menghalangi jalan. Di situ tidak terlihat satu rumah pun. Hanya satu bangunan di balik pagar yang saya yakini bukan rumah Lusi. Sebab, rumah Lusi merupakan honai. Tak beberapa lama, laki-laki gimbal keluar. Di tangan kirinya ada parang.

Dia lantas membukakan pagar kayu. Mobil masuk. Lelaki itu bernama Tele. Adik kandung Lusi. Tele mempersilakan mobil masuk dan mengarahkan agar masuk di jalan tanah yang tak lebih dari 4 meter. ”Kita jalan tak jauh ya,” kata Lusi. Dia kemudian melangkah di depan kami menuju jalan setapak. Agak masuk, ada sungai kecil. ”Ini bisa diminum langsung. Dingin,” tuturnya saat melewati jembatan. Air sungai itu memang bening.

Ada empat honai yang kami lewati hingga akhirnya sampai di rumah Lusi. Ada dua honai berbentuk memanjang. Di tengah ada honai berbentuk seperti jamur seperti biasa di buku pelajaran IPS. Honai berbentuk jamur itu khusus untuk laki-laki. Sedangkan yang perempuan tinggal di honai panjang.

Dinding honai terbuat dari papan kayu. Beratap ilalang. Lantainya adalah tanah yang beralas rumput kering. Tidak ada ventilasi. ”Masuk,” kata Lusi sambil menggerakkan tangannya. Dia mengajak melihat honai perempuan atau dalam bahasa mereka disebut ewe ai. Untuk masuk honai, alas kaki harus dicopot.

Honai perempuan dibagi tiga tempat. Sisi pinggir kanan dan kiri digunakan untuk tidur. Tempatnya bertingkat. Bagian bawah biasanya untuk masak. Karena itu, ada perapian di tengah. Selain untuk memasak, perapian dipakai untuk menghangatkan honai. Sebelum tidur, perapian dinyalakan sehingga asapnya ke atas.

Di bagian atas, tempat tidur dialasi papan. Penerangan hanya mengandalkan satu lampu kecil di tangga. Lusi kembali mengajak tur di rumahnya. Kali ini di bagian tengah. Begitu pintu kecil dibuka, bau kotoran menyeruak. Bagian tengah digunakan untuk ternak babi. Setiap babi diberi kamar sendiri.

Luas kandang babi lebih besar daripada kamar tidur. Di Kabupaten Jayawijaya babi memang menjadi ciri kekayaan sebuah keluarga. Semua kegiatan adat pun pasti menggunakan babi.

Tur terakhir adalah melihat honai laki-laki. Honai tersebut terletak di tengah-tengah. Berbeda dengan honai laki-laki yang sebelumnya saya lewati, honai itu cukup besar. Itulah honai adat. Memang di satu kampung hanya ada satu honai adat. Honai tersebut memiliki dua ruangan yang sama seperti honai perempuan untuk tidur. Hanya, honai itu lebih luas. Sebab, beberapa lelaki tetangga akan tidur di honai tersebut.

Asap dari perapian di bawah ternyata memang meng­hangatkan. Belum lagi tidur dengan penuh orang. Saya tidak tahu bagaimana kondisi Guslan di honai laki-laki. Pagi memang lama datang. Beberapa kali saya terbangun, ternyata belum pagi juga. Semakin larut, dingin semakin menggelayut.

Hidup dengan segala keterbatasan memang tidak mudah. Namun, semua harus dijalani dan dibuat indah. Penduduk pelosok Kota Wamena bertahan dengan alamnya yang ramah. Tak perlu banyak polah, mereka selalu yakin bahwa Tuhan Maha Pemurah. (*/c10/oki) Sumber: diolah dari berbagai sumber

Komentar Anda