Beranda Nasional

Mengunjungi Todo, Bekas Ibu Kota Kerajaan Manggarai

BERBAGI

RUANGAN dalam mbaru niang seperti aula besar berbentuk lingkaran. Kerangka atap yang terdiri atas susunan bambu diikat melingkar sekaligus membentuk dinding niang. Lingkaran terluas berada di bagian bawah dengan susunan bambu terbanyak, kemudian semakin mengerucut ke pusat atap di puncak niang.

Ini adalah simbol demokrasi parlementer, kata Titus Jegadut, pengelola situs sekaligus pemangku adat. Bambu-bambu di bawah terlihat seperti jutaan rakyat Kerajaan Manggarai yang duduk mengelilingi raja mereka yang bertengger di puncak niang, dalam sebuah forum musyawarah besar. ’’Titik teratas adalah sang pemimpin. Mulai dewa, mori, adak, kemudian raja,’’ katanya.

Dari atas ke bawah, susunan kerangka atap niang melambangkan hierarki kepemimpinan. Di bawah raja ada dalu, setingkat gubernur. Tidak heran hampir semua kecamatan di Flores Timur dulu disebut kedaluan.

Di bawah lagi ada glarang atau bupati. Membawahkan komengkaba (camat) dan akhirnya tingkat terbawah leke’ atau lurah/kepala desa. Titus masih sering mengeluh mengapa orang-orang lebih mengidolakan Wae Rebo, desa kecil di selatan Ruteng, NTT, dan mengesampingkan Todo. ’’Padahal, di kerajaan, posisi mereka cuma daerah setingkat ke camatan (komengkaba),’’ ujarnya.

Lagi pula, lanjut Titus, yang berhak disebut mbaru niang hanyalah sembilan rumah yang berdiri di Todo. ’’Yang lainnya itu namanya mbaru gendang (rumah gendang, red),’’ katanya.

Sembilan niang berdiri dalam bentuk formasi setengah lingkaran seperti sebuah sidang. Masing-masing niang melambangkan posisi raja dan para menterinya. Di tengah berdiri niang mbowang, rumah tempat tinggal sang raja. Selain mbowang, ada niang rato untuk perdana menteri atau pembantu raja bagian umum.

Niang mongko untuk hakim agung yang bertugas menyelesaikan perkara di kerajaan. Niang lodok untuk menteri agraria. Bertugas mengatur dan mengurus pembagian lahan. Niang dopo untuk menteri yang khusus mengurusi hukum dan aturan-aturan kerajaan. Kalau meminjam istilah sekarang, seperti Mahkamah Agung. Lalu ada niang wa yang berfungsi seperti menteri luar negeri. Niang teruk untuk urusan rumah tangga kerajaan.

Niang supe untuk urusan militer serta niang vesa sebagai protokoler dan juru bicara raja. Musyawarah adalah prinsip utama pemerintahan kerajaan. Setiap ada masalah, raja Todo mengajak rembuk delapan menterinya di niang mbowang. Tentu saja setiap musyawarah tidak sela manya mufakat.

Ada beberapa yang deadlock. Untuk itulah, selain kesembilan niang, satu bangunan berupa pondok kecil dinamakan mbaru tekur. Berdiri di hadapan lingkaran formasi niang. Di tempat ini, raja akan mengkaji, melakukan lobbying, atau hanya termenung berpikir untuk mendapatkan jawaban.

Masuk ke niang tidak boleh sembarangan. Harus hormat kepada adat. Tidak boleh sombong. Todo sangat keras kepada tamu yang tak hormat adat. Sebagai penjaga kompleks keraton, raja membunuh beberapa prajurit. Kemudian dikuburkan dengan posisi berdiri. Satu diletakkan di jalan masuk keraton.

Dengan ujung atas dipasang sebentuk batu tajam. Kemudian, tepat di depan setiap pintu niang dikubur tiga prajurit. Sekali lagi dengan nisan sebuah batu tajam. Filosofinya, patuhi aturan adat setiap akan memasuki Todo, apalagi niang. Kalau tidak, kamu akan terjatuh dan batu nisan tajam akan berubah menjadi parang.

Kepalamu akan terpotong dan tubuhmu akan jatuh pada peti mayat yang tersedia di balik pintu setiap niang. Di balik pintu niang memang benar-benar ada sebuah peti mayat. Tapi, Walter Mohon menunjukkan bahwa petinya tidak bisa dibuka. ’’Ini simbolis saja,’’ kata Walter.

Dulu di situ memang benar-benar ada peti, dan batu nisan tajam benar-benar secara mistis berubah menjadi parang. Batu-batu itu, kata Titus, pernah membuat seorang turis babak belur karena jatuh berkali-kali.(Taufiqurrahman/ c19/dos)

Komentar Anda