Beranda Berita Utama

Bupati Pastikan Ibnu Mas’ud Tak Lagi Beroperasi

BERBAGI

BOGOR–Insiden pembakaran umbul-umbul merah putih di depan halaman Yayasan Ibnu Mas’ud yang berlokasi di Kampung Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, membuat Bupati Bogor Nurhayanti geram. Ia memastikan yayasan tersebut tidak boleh lagi berdiri di Kabupaten Bogor.

“Mereka berjanji tidak akan di situ. Tidak di Tamansari dan juga di Kabupaten Bogor, tidak boleh,” ujarnya kepada Radar Bogor.

Bupati bahkan mengutuk keras lembaga yang anti-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Termasuk yang menolak memasang bendera merah putih. “Kalau mereka anti-merah putih mereka tidak boleh di Kabupaten Bogor,” tegasnya.

Di tempat terpisah, pengamat terorisme Al Chaidar mengatakan, terkait penolakan terhadap merah putih, dia menyebut tidak ada indikasi pondok pesantren tak menyukai NKRI. Namun, akibat ketidaktahuan mereka terhadap ISIS. “Soalnya, bagi mereka, ISIS adalah negara Islam yang sudah sangat bagus dan ideal. Kemudian, mereka kecewa dengan situasi di Indonesia yang mereka lihat sekarang,” ujar Chaidar kepada Radar Bogor.

Pengamat jebolan Ilmu Politik Universitas Indonesia ini menilai masalah tersebut tidak perlu diperpanjang, biarkan hukum yang menanganinya. Solusi lain, kata dia, pemerintah segera mengajak dialog kelompok tersebut. Sebab, pemerintah wajib membina dan tidak sekadar mengawasi. “Bagaimanapun mereka warga negara kita yang sedang salah persepsi terhadap situasi negeri dan sebaiknya diajak dialog,” terangnya.

Terkait indikasi Ibnu Mas’ud terlibat dengan ISIS, Chaidar membenarkan adanya afiliasi ISIS di Indonesia. Meski begitu, belum ada kepastian jelas terkait tujuannya. “Indikasi ini memang sudah ada di beberapa data base saya. Dan itu sudah menunjukkan mereka sebenarnya tidak pasti dengan situasi keadaan di Suriah,” bebernya.

Berdasarkan data base, Chaidar menegaskan yayasan tersebut terindikasi mengarah kepada ISIS. Namun, kelompok ini tidak sungguh-sungguh berafiliasi dengan ISIS. Mereka hanya mengancam dan meminta perhatian agar pemerintah memperhatikan. “Memang ada kuat ya terindikasi ISIS,” cetusnya.

Pakar politik Islam ini juga meyakini paham ISIS tidak terbentuk dengan sendirinya. Melainkan ada proses kekecewaan yang cukup lama dialami mereka. Sebab negara dianggap tidak hadir di tengah-tengah mereka. “Di saat itu ISIS masuk dan mereka memilih untuk masuk dan mengasosiasikan diri ke dalam ISIS,” tambahnya.
Dengan demikian, kata dia, sikap anggota Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud hanya luapan sebuah kekecewaan. Akibatnya, mereka bertindak mengekpresikannya dalam membakar benda.

“Dalam penilaian mereka selama ini, Indonesia tidak manusiawi, tidak Islami dan semakin memusuhi umat Islam. Bagi mereka, ini sebuah negara yang tidak mereka harapkan,” tandasnya.

Sebelumnya, diberitakan ratusan warga Kampung Jami, Desa Sukajata, Kecamatan Tamansari, mengontrog Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, Kamis (17/8). Penyebabnya, pembakaran umbul-umbul merah putih di sekitar lokasi.

Peristiwa terjadi Rabu Malam (16/8) sekitar pukul 21.00 WIB. Warga yang melintas langsung melaporkan kejadian tersebut ke aparat setempat. Umbul-umbul yang warnanya bercorak sang saka merah putih, di pangkal atasnya terlihat simbol negara burung garuda. Umbul-umbul sendiri dipasang dan diberikan Pemerintah Kabupaten Bogor untuk menyemarakkan HUT ke-72 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Penghuni dan pengelola yayasan pun diberi waktu hingga satu bulan ke depan untuk menghentikan segala aktivitasnya. “Paling lambat 17 September 2017 sudah tidak boleh ada di desa kami,” tegas Kepala Desa Sukajaya, Wahyudin Sumardi.

Pihak Yayasan Ibnu Mas’ud pun menyanggupi permintaan itu. Di hadapan muspika dan aparat keamanan, humas dan pengelola yayasan, Jumadi membacakan surat pernyataan. Isinya, kesediaan pengurus Ibnu Mas’ud untuk membubarkan segala aktivitas sekaligus meninggalkan lokasi pesantren.

Pascainsiden pembakaran, umbul-umbul merah putih, polisi menetapkan seorang oknum pengajar Yayasan Ibnu Mas’ud sebagai tersangka. Ibnu Mas’ud juga beberapa kali disambangi Tim Densus 88. Dari lokasi ini, saat pengamanan, terlihat mondar-mandir istri salah satu pelaku bom Kampung Melayu, Jakarta.

Selain itu, 21 Februari 2016 lalu, empat santri Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud juga ditangkap aparat keamanan Changi Airport saat hendak terbang ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris ISIS.(don/c)

 

Komentar Anda