Beranda Metropolis

Telusuri Sejarah Bogor ke Belanda

BERBAGI

BOGOR–Penuh dengan jejak sejarah, tak semua arsip sejarah Kota Bogor terkumpul dengan baik. Karenanya, Sejara­wan Bogor beserta Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor akan menelusuri langsung catatan sejarah Bogor di Leiden University, Belanda.

Sejarawan Bogor Rahmat Iskandar mengatakan, nantinya, akan dicari kesepakatan kira-kira naskah apa yang bisa mendukung sejarah Bogor dan apa yang sudah atau belum ada di Kota Bogor. “Saya akan menelusuri yang di Bogor saja, ada enam tim yang dibentuk,” ujarnya saat audiensi dengan Wali Kota Bogor Bima Arya di Paseban Punta, kemarin (18/8).

Dijelaskannya, ada beberapa periode sejarah Bogor yang masih kosong. Di antaranya, hancurnya Pajajaran hingga ditemukan sisa-sisa Pajajaran oleh Cipiko. Belum lagi, ada kekosongan data tahun 1687 hingga akhir pemerintahan Belanda.

“Selain mencari kekosongan tadi, yang menjadi latar belakang Pemkot Bogor sekarang akan mencari kekosongan menyangkut tata kota, infrastruktur, sejarah Bogor, dan berbagai hal yang ada kaitannya dengan Bogor,” bebernya.

Kota Bogor, kata dia, juga kekurangan peta dasar tentang pertanahan, tata ruang fisik Kota Bogor dulu yang diyakininya pasti ada di Leiden. Sebab, Belanda lama menetap di Kota Bogor. Sejarah membuktikan kalau Bogor menjadi pusat pemerintahan pada 1870. Semua keputusan di Batavia ditulisnya di Bogor dan Istana Bogor sebagai kediaman resmi gubernur juga jenderal.

“Untuk sementara ambil dari awal VOC sampai Jepang, karena ini data yang paling gampang diperoleh. Belanda punya catatan arkeolog di Bogor, dari sana bisa diambil data-datanya. Yang paling tahu sejarah Bogor adalah orang Belanda, karena pemerintahan dan kekuasan dipegang Belanda. Buku-buku dikelola mereka dalam bahasa Belanda. Selain Raden Saleh, belum ada tokoh yang meneliti arkeologi Kota Bogor,” tuturnya.

Sementara itu, sambung Rahmat, melihat data Saleh Sasmita tentang sejarah Bogor, masih minim. Kurang lebih 10 persen saja kalau memandang buku sejarah Bogor itu sebagai acuan. Ada juga Pak Eman, tapi menulis juga berdasarkan Pak Saleh. “Pak Saleh sendiri menulis soal Tarumanegara, ekspedisi sampai pada 1750 ketika Cikapancilan dibangun. Yang penting, alur sejarahnya dari masa VOC ada,” urainya.

Sementara itu, Bima Arya mengungkapkan, ada target jangka panjang dan pendek, dan harus ada yang dibawa pulang dari Leiden University, entah itu buku maupun foto. Ruang-ruang kosong perjalanan Bogor yang tidak ada akan dicari. “Yang menarik di sini perspektifnya, yang diingatkan harus punya target, yang ingin dibawa dan persiapan infrastruktur SDM dan sistem,” tandasnya.(wil/c)

Komentar Anda