Beranda Metropolis

Bang Rohili, Muazin yang Ketuk Hati Warga Sukadamai

BERBAGI
SEMANGAT: Bang Rohili sehari-hari bekerja menjadi penjual bensin eceran. Atas kemuliaannya yang selalu membangunkan warga Sukadamai untuk salat Subuh berjamaah, warga berinisiatif menggalang dana untuknya agar bisa ke Tanah Suci. Nelvi Radar Bogor

Hidup di metropolis, tak menjadikan Rohili warga Kota Bogor bebas dari garis kemiskinan. Untuk makan sehari-hari saja sulit, apalagi memiliki hunian yang nyaman bagi keluarga. Meski hidup serba terbatas, tak menjadikan pedagang bensin eceran ini menyerah. Bahkan, pria yang selalu menjadi pertama datang di masjid itu tetap memiliki keinginan untuk bisa menginjakkan kakinya di Baitullah.

Laporan: Wilda Wijayanti

Berkunjung ke rumahnya di RT 03/06 Kampung Situpete, Kelurahan Sukadamai, Kecamatan Tanah Sareal, Bang Rohili (47) tengah membeli bensin di pom bensin terdekat. Bukan menggunakan motor, melainkan sepeda bututnya yang menjadi ’teman’ Bang Rohili. Dengan sedikit modifikasi, jeriken yang dibawa mampu memuat 36 liter bensin.

Memasuki rumahnya, sejauh mata memandang, jelas jika rumah Bang Rohili jauh dari kata layak. Tak ada ventilasi yang memadai. Bahkan, rumah yang merupakan warisan dari orang tuanya ini hanya beralaskan tanah.

Sepulangnya Bang Rohili membeli bensin, pria asli Cilebut ini begitu ramah menyapa. Dijelaskannya, sebelum berjualan bensin eceran, Bang Rohili sempat mengabdi tiga tahun lamanya menjadi marbot Masjid Ad Dzikra di lingkungan rumahnya. Setelahnya, ia pun berpindah pekerjaan di bengkel las, sekiranya dua tahun.

“Kerja di bengkel las, kesehatan jadi memburuk, napas enggak kuat. Akhirnya, mutusin buat keluar dan sempat nganggur satu tahun sebelum jualan bensin. Selama itu untuk menghidupi keluarga, pinjam sana-sini,” kata Bang Rohili seraya tertawa.

Kemudian, berbekal modal dari salah satu kakaknya, Bang Rohili pun akhirnya memutuskan untuk berjualan bensin eceran, empat bulan terakhir. Dari awalnya hanya 13 liter, kini dalam sehari Bang Rohili mampu menjual 70 liter. “Sehari penghasilan Rp150 ribu, secukupnya buat anak sekolah, ada empat orang. Yang dua di SMA, dua lagi di MI. Istri di rumah ngurus anak,” kata dia.

Bang Rohili mengungkapkan, pernah berada di keadaan paling terpuruk. Di saat masih bekerja di bengkel las, ia pernah tertipu oleh saudaranya sendiri. Motor yang kiranya diperbaiki malah berujung dengan kerusakan. Terpaksa dirinya jual dengan harga Rp180 ribu dalam bentuk terpisah.

“Ya, rezekinya mungkin di bensin eceran ini. Sedikit-sedikit bisa nyicil, beli mesin air sama beberapa ayam bangkok. Pas dulu masih kerja di bengkel las, uangnya habis di situ-situ juga, enggak jelas ke mana perginya. Pernah mau ampe diputus aliran listrik, tapi alhamdulillah bisa dilanjutin lagi,” terang dia.

Saat ditanya soal keinginannya pergi ke Baitullah, Bang Rohili tak menampik. Umat muslim mana yang tak ingin berkunjung ke Tanah Suci. Di tengah keterbatasannya, Bang Rohili tetap memiliki niat dan harapan. Terlebih, tetangga juga warga sekitar rumahnya yang membuat program umrah untuk Bang Rohili.

Hal ini rupanya diamini Ketua RT 03, Candra Massuhardi. Selain menjadi pedagang bensin eceran, menurutnya, Rohili juga kerap menjadi muazin dan imam di waktu salat Subuh berjamaah. “Program umrah awalnya diinisiasi oleh Pak Waluya Suprihartono. Melihat keseharian Bang Rohili membangunkan warga untuk salat Subuh, dengan suara tarhim dan azannya yang merdu. Memiliki niatan baik tentunya kami mendukung dan mencoba memberangkatkan umrah. Alhamdulillah, kini sudah terkumpul lebih dari Rp2 juta,” jelas dia.

Di mata Candra, Bang Rohili sosok yang lugu, tidak neko-neko, periang, murah senyum. Seakan-akan tidak memiliki masalah. Padahal, Bang Rohili termasuk dalam kategori warga kurang mampu dengan kondisi rumah yang tidak layak huni.

“Sudah mengajukan dari tahun 2015, 2016 juga sudah, tapi belum ada realisasinya. Target kami mampu mengumpulkan Rp30 juta. Siapa pun boleh berdonasi, bisa melalui rekening atau datang langsung ke lokasi,” tandasnya.(*/c)

Komentar Anda