Beranda Female

Rematik Serang Kaum HawaRematik Serang Kaum Hawa

BERBAGI
RENTAN KENA: Dibandingkan kaum pria, wanita tiga kali lebih sering terserang rematik.

Salah satu penyakit yang sering dikeluhkan sebagian besar orangtua, yakni rematik. Namun, saat ini rematik tak hanya menyerang orang dewasa tapi juga bisa menyerang anak-anak. Bahkan sebagian orang belum sadar, jika rematik dapat berpengaruh pada kualitas hidup.

Rematik  atau istilah medisnya disebut rheumatoid arthritis (RA) adalah istilah umum yang menunjukkan gangguan pada sendi, otot dan jaringan lunak tubuh yang menimbulkan gejala EPLSL3, kejang otot, nyeri pinggang dan nyeri ‘syaraf terjepit’. Penyebab rematik adalah proses degenerasi karena usia, trauma berulang, endapan kristal dalam sendi, infeksi bakteri atau virus, faktor keturunan, penyakit metabolik, penyakit autoimun dan kehamilan. Penyakit rematik persendian atau artritis ditandai adanya pembengkakan sendi, kemerahan kulit di atas persendian, peningkatan suhu sendi yang meradang, rasa nyeri, gangguan fungsi persendian dan gejala sistemik, demam, penurunan berat badan dan lain-lain.

“Arti urat pada asam urat tidak sama dengan arti urat pada otot,” jelas Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekaligus Konsultan Rematologi Rizasyah Daud, M.Sc., SpPD-KR, FINASIM.

Menurut Dirut RS Azra Bogor ini, rematik dan artritis dapat menyerang siapa saja dan hampir semua orang, tidak terbatas pada suatu golongan umur, jenis kelamin dan tidak mengenal perbedaan ras dan geografik. “Ada mitos yang mengatakan bahwa mandi malam dapat menyebabkan rematik, ternyata tidak. Suhu tubuh yang dingin dapat menyebabkan terjadinya kontraksi capsul sendi, yang menimbulkan nyeri untuk sementara waktu sampai suhu tubuh menjadi normal kembali,” jelasnya.

Osteoartritis atau pengapuran sendi adalah jenis rematik yang paling banyak dijumpai yang timbul secara alamiah dengan meningkatnya usia, dan terjadi akibat kerusakan rawan sendi yang melapisi kedua ujung tulang yang membentuk persendian. “Osteoartritis dini mengalami perubahan sendi yaitu permukaan rawan sendi mulai tidak merata, gejala yang ditimbulkan berupa rasa nyeri pada saat sendi digunakan dan menghilang pada saat istirahat,” terang dr Riza.

Osteoartritis lanjut menimbulkan gejala seperti nyeri terus menerus, juga timbul pada saat tidur di malam hari.  Osteoartritis akhir menimbulkan gejala seperti menyatunya sendi (Ankylosis) dan kekenduran pengikat sendi (laxity). Gejala penjempitan syaraf antara lain nyeri tengkuk, kesemutan, nyeri pinggang & ischialgia dan terjadi pada osteoartritis tulang belakang, dimana syaraf yang keluar dari sumsum tulang belakang mengalami penekanan akibat pengapuran atau penyempitan lubang syaraf pada tulang belakang.

“Pengobatan secara umum untuk penyakit rematik dan osteosartritis adalah proteksi sendi, penggunaan obat-obatan, rehabilitasi atau fisioterapi dan pembedahan,” ujarnya. Pengobatan osteoartritis antara lain paracetamol, cream, spray, capsaicin, obat anti infamasi non steroid namun harus berhati hati dengan efek samping pada lambung, ginjal & jantung dan suntikan steroid intra artikular. Artritis gout memiliki faktor resiko yaitu intake protein purine, produksi purine tubuh, ekskresi purine tubuh dan faktor “bakat” dan gender.

“95 persen wanita yang masih mengalami menstruasi, umumnya tidak akan menderita artritis gout, lima persen sisanya masih mungkin menderita artritis gout karena defisiensi enzim (umumnya diderita sejak kecil),” tuturnya.

Faktor penyebab terjadinya artritis gout adalah makan terlalu banyak, diet terlalu ketat, konsumsi alkohol yang berlebihan, pasca bedah dan trauma sendi. “Untuk menghindari artritis gout harus menjaga pola makan seperti seimbang dalam dan komposisi dan hindari intake protein tinggi purin / asam urat,” tandasnya.

Artritis reumatoid dapat menyerang wanita tiga kali lebih sering dibandingkan pria, usia 24-50 tahun dan dapat terjadi pada anak-anak (JRA / JCA). “Penyebab  terjadinya artritis reumatoid adalah belum diketahui dengan pasti dan terjadi karena kelainan respons sistem kekebalan tubuh yang menyerang jaringan tubuh sendiri,” tambahnya. Pengobatan artritis reumatoid adalah obat anti inflamasi non – steroid, disease modifying anti rheumatoid drugs, kortikosteroid Dosis Rendah, agen biologik, latihan dan terapi rehabilitatif.

“Pengobatan penyakit reumatik bertujuan lebih dari sekadar menghilangkan rasa nyeri, hindarilah pengobatan alternatif yang tidak terbukti bermanfaat, penyakit rematik yang berat dan kronik memerlukan internist – reumatologist,” tegasnya. (cr6/c)

Komentar Anda