Beranda Berita Utama

Nanang Rakhmad Hidayat dan Pergulatan Belasan Tahun dengan Garuda Pancasila

BERBAGI
KREASI: Nanang Rakhmad Hidayat memperlihatkan Wayang Nusantara bermotif Garuda di kediamannya di Bantul (11/8). TRI MUJOKO BAYU AJI/JAWA POS

Tema Garuda telah membawa Nanang Rakhmad Hidayat menuntaskan tesis, mendirikan museum, membuat video seni, dan kini sedang menyelesaikan disertasi. Di edisi revisi buku karyanya yang segera terbit, disinggung pula peran seorang ahli simbol dari Jerman dalam pembuatan lambang negara.

TRI MUJOKO BAYUAJI, Bantul

HANYA dalam rentang sepekan, bentuk ”spesies” garuda yang ditemukan Nanang Rakhmad Hidayat sungguh beragam. Ada yang kurus, ada yang gemuk.

Padahal, tempat menemukannya cuma sekitar lingkungan tempat tinggalnya di Bantul, Jogjakarta. Terutama di gapura.

”Biasanya (menemukannya, Red) kalau pas nganter istri ke pasar atau anak ke sekolah,” kata dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu.

Nanang bukan pemburu burung liar. Garuda yang dia maksud adalah Garuda Pancasila sebagai lambang negara.

Syahdan, pada 2003 itu, dia menyanggupi ikut pameran foto dan video bertema Garuda. Meski sebelumnya lebih sering berkarya dalam bentuk video, untuk pameran di Jogjakarta itu Nanang memilih terlibat di kategori foto.

Jadilah, dengan kameranya dia mengambil berbagai objek garuda di sekitar Bantul dan Kotagede, Jogja. Nah, buntut hunting foto yang cuma sepekan 14 tahun silam itu ternyata menjulur ke mana-mana. Sampai sekarang.

Dia berhasil menuntaskan tesis, menelurkan buku, membuka museum, dan kini sedang menyelesaikan disertasi. Semuanya bertema Garuda Pancasila.

”Gara-gara pameran itu, saya jadi ingin serius meneliti simbol Garuda Pancasila. Semua bentuk ornamen dan simbol yang berbentuk garuda pun saya kumpulkan,” katanya.

Apalagi, tidak pernah ada literatur jelas bagaimana pembentukan Garuda Pancasila. Termasuk perancang simbolnya.

”Garuda Pancasila ini kan tidak seperti Indonesia Raya dengan W.R. Soepratman atau bendera Indonesia dengan Ibu Fatmawati. Garuda ini apa, tidak banyak yang bisa jawab,” kata art director film Opera Jawa karya Garin Nugroho itu.

Di Museum Rumah Garuda yang berada di ruang tengah kediaman pribadinya, beragam bentuk garuda hasil perburuan Nanang bisa dinikmati. Ada sejumlah pajangan Garuda Pancasila di berbagai sudut dinding. Juga ornamen daun jati yang sudah bermotif lambang negara tersebut dalam sebuah pigura.

Nanang juga memiliki dua buah cosplay Garuda Pancasila yang diletakkan dalam posisi duduk. Ada pula aksesori kecil-kecil seperti cincin, korek api, anting, action figure, kalung, hingga topeng tokoh Bima X Garuda. Topeng tersebut dimodifikasi sehingga memiliki simbol perisai Garuda Pancasila. Semuanya diletakkan rapi secara berkelompok.

”Kalau ini yang paling baru saya punya. Pokoknya, yang bentuknya bersayap pasti saya koleksi,” kata Nanang kepada pewarta sembari menunjukkan spinner Jumat lalu (11/8).

Nanang lalu memutar-mutar beberapa spinner dari logam itu. Spinner tersebut memiliki sayap layaknya Garuda.

Beberapa koleksi lain adalah wayang kulit bertema Garuda. Nanang menyebutnya sebagai Wayang Pulau atau Wayang Nusantara.

Wayang Nusantara itu juga memiliki gunungan yang dimodifikasi dengan simbol gedung DPR. Ada pula sejumlah tokoh wayang berbentuk hewan yang mewakili wayang pulau-pulau besar di Indonesia. Nanang juga membuat karakter sejumlah alat berat yang mewakili isu pembalakan liar di tanah air.

”Ini (Wayang Nusantara, Red) bahan tugas untuk disertasi saya. Masih ada beberapa karakter lain, belum jadi,” ujar dosen Jurusan Televisi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta itu.

Dibuka untuk publik sejak 17 Agustus 2011, pendirian Rumah Garuda itu bersamaan dengan dibukanya sebuah warung atau kafe di depan dan samping halaman miliknya. Selama enam tahun ini, kebanyakan yang datang bertamu adalah kolega seni. Juga sejumlah mahasiswa S-1 maupun S-2 yang ingin mencari data terkait dengan pembentukan lambang Garuda Pancasila.

”Karena memang tidak banyak sumber terkait latar belakang sejarah lambang Garuda Pancasila ini. Sehingga saya sendiri meneliti itu untuk bahan tesis saya,” ujarnya.

Nanang mengenang, setelah memutuskan itu sebagai bahan tesis, dirinya memulai riset dengan membuat angket untuk jajak pendapat. Sebanyak 100 orang ditanya terkait siapa pembuat lambang Garuda Pancasila. Mayoritas menjawab Bung Karno dan M. Yamin.

Nanang akhirnya harus mencari jawaban sendiri. Dia lantas berjumpa Turiman, sarjana hukum asal Pontianak yang menyelesaikan studi S-2 terkait dengan Pancasila di Universitas Indonesia.

Nanang melakukan analisis berdasar data dan sumber yang dimiliki Turiman. ”Dengan data yang sama, saya analisis dengan mencapai kesimpulan yang agak berbeda,” ujar Nanang.

Nanang memahami bahwa Garuda Pancasila dibentuk Panitia Lambang Negara yang diketuai M. Yamin. Anggotanya, Ki Hajar Dewantara, M. Yamin, M. Natsir, Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka, M.A. Pellaupessy, dan Sultan Hamid II.

Dari hasil penelusuran itu, diketahui pula terdapat perubahan dari usulan Panitia Lambang Negara. Misalnya bentuk cakar. Awalnya seperti memberi, lalu diubah oleh Presiden Soekarno menjadi seperti saat ini.

”Kisah ini saya dapat dari sekretaris pribadi Sultan Hamid II,” ujarnya.

Karya tesis Nanang yang terkait dengan pembentukan Garuda Pancasila itu lantas dicetak menjadi buku berjudul Mencari Telur Garuda. Buku tersebut merupakan suplemen dari tesis tertulis karya Nanang. Sedangkan karya utamanya adalah sebuah video seni.

”Limbah bahan-bahan tesis itu yang kini menjadi koleksi Rumah Garuda,” terang Nanang.

Dalam buku pertamanya tersebut, Nanang mengkritisi rendahnya kepedulian negara untuk memberikan informasi kepada publik soal sejarah pembentukan Garuda Pancasila. Tapi, belakangan dia menemukan, ternyata ada buku inpres terbitan 1982 yang membahas perkara yang dikritiknya itu.

Karena itu, dia berencana mengeluarkan edisi revisi Mencari Telur Garuda. Itu bentuk permintaan maaf kepada negara.(*/c11/ttg)

Komentar Anda